INDOPOSCO.ID – Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Kementerian Agama, Rohmat Mulyana Sapdi mengatakan, secara nasional, Survei Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM), Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) meraih predikat “Sangat Tinggi” dengan skor 88,40.
“Dimensi ideologis mencatat nilai tertinggi sebesar 94,15, disusul dimensi pengalaman (94,09), perilaku mahasiswa (88,88), intelektual (85,68), dan dimensi ritualistik sebagai nilai terendah dengan skor 82,88,” terang Rohmat dalam keterangan, Rabu (14/1/2026).
Sementara, menurutnya, survei IKM Non-PTKI mencakup mahasiswa beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Dan secara umum, IKM Non-PTKI berada pada kategori “Sangat Tinggi”.
Ia merinci, mahasiswa Kristen memperoleh skor nasional 89,75, dengan dimensi ideologis 93,99, ritualistik 84,91, pengalaman spiritual 92,40, intelektual 88,53, dan perilaku 89,27. Lalu, mahasiswa Katolik memperoleh skor nasional 88,27, dengan dimensi ideologis 91,74, ritualistik 80,92, pengalaman spiritual 91,68, intelektual 87,18, dan perilaku 89,25.
Sementara, untuk mahasiswa Hindu memperoleh skor nasional 82,54, dengan dimensi ideologis 88,92, ritualistik 72,21, pengalaman spiritual 86,26, intelektual 77,95, dan perilaku 87,07. Dan, mahasiswa Buddha memperoleh skor nasional 82,56, dengan dimensi ideologis 88,95, ritualistik 72,19, pengalaman spiritual 86,28, intelektual 77,97, dan perilaku 87,10.
Rahmat menambahkan, mahasiswa sebagai generasi muda intelektual memiliki peran strategis dalam mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui berbagai kontribusi positif, termasuk dalam aspek keberagamaan sebagai bagian esensial kehidupan individu.
“Perkembangan teknologi digital, termasuk kehadiran Artificial Intelligence (AI), menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberagamaan generasi muda, termasuk mahasiswa,” ucapnya.
Ia menuturkan, pergeseran pola pencarian informasi keagamaan yang kini semakin mudah diakses dinilai perlu menjadi perhatian serius agar kualitas keberagamaan mahasiswa tetap terjaga.
“Ada hal yang dinamis dan diperbarui mengikuti perkembangan zaman, tapi di sisi lain agama juga ada ultimate meaning-nya, ada sesuatu yang harus dikonservasi, harus dipelihara oleh kita. Jadi ada nilai-nilai yang sebenarnya itu mutlak dan tidak bisa diubah,” jelasnya. (nas)









