INDOPOSCO.ID – Indonesia berada di persimpangan jalan sejarah, antara menjadi bangsa yang tak terbendung kemajuannya, atau sebaliknya, tak terbendung kemundurannya.
Pernyataan reflektif itu disampaikan Sudirman Said dalam diskusi Survei KedaiKOPI bertajuk “Mencari Sosok Pemimpin Ideal Indonesia: Apa Kata Rakyat?” yang digelar pada Minggu (11/1/2026). Dalam pandangannya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dihasilkan hari ini.
“Kita masih sangat optimistis. Indonesia bahkan bisa menjadi bangsa yang unstoppable. Tapi unstoppable ini seperti dua sisi mata pisau,” kata Sudirman.
Menurutnya, jika kepemimpinan Indonesia diisi oleh figur-figur dengan empat karakter universal, yakni jujur, kompeten, inspiratif, dan visioner, maka kemajuan dan kebaikan akan bergerak tanpa hambatan. Namun, jika yang terpilih justru antitesis dari karakter tersebut, kehancuran pun akan berlangsung tanpa rem.
“Kalau pemimpinnya salah, maka negeri ini juga akan unstoppable dalam keburukan dan keambrukannya,” jelas Sudirman.
Sudirman mengingatkan bahwa sejarah dunia telah memberi pelajaran mahal tentang jatuh bangunnya peradaban. Dari Tiongkok lintas dinasti, Kekaisaran Romawi, Ottoman, Mongol, hingga Mataram dan VOC di Nusantara, semuanya tak lepas dari kualitas kepemimpinan.
“Peradaban besar bertahan karena pemimpinnya adil, hukumnya tegak, pemerintahannya bersih, dan rakyatnya terlibat mengawasi,” tuturnya.
Sebaliknya, ketika kekuasaan jatuh ke tangan pemimpin yang lalim dan antikritik, hukum berubah menjadi alat kekuasaan, tata kelola hancur, korupsi merajalela, dan rakyat disingkirkan dari ruang partisipasi.
“Kekaisaran sebesar apa pun tidak runtuh karena diserang dari luar, tapi karena sistemnya tak lagi sanggup menyangga dirinya sendiri,” tegas Sudirman.
Dalam konteks Indonesia hari ini, Sudirman menilai terdapat sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan. Praktik nepotisme dan politik kekerabatan dinilai merusak sendi meritokrasi dan menghancurkan kepercayaan publik.
“Rekam jejak tidak lagi penting. Integritas dianggap penghalang. Yang dekat kekuasaan atau yang mampu membayar bisa melompat jauh dalam jabatan,” ungkapnya.
Karena itu, Sudirman secara khusus menyerukan peran strategis kaum muda. Ia meminta generasi muda tidak larut dalam polarisasi dan politik penumpulan akal sehat.
“Kaum muda harus bersiap: membangun jembatan, bukan meruntuhkan; berserikat, bukan terpecah-belah; mengasah ide, bukan menjadi pendengung; dan menjadi tangguh, bukan takut,” harapnya.
Sudirman juga mendorong agar survei kepemimpinan tidak hanya bertumpu pada opini publik umum, tetapi diperluas dengan menggali pandangan para pemikir dan praktisi yang kompeten.
“Angkat pesan-pesan penting dari mereka agar masyarakat makin terdidik dalam memilih pemimpin,” tutupnya.
Di ujung diskusi itu, pesan Sudirman terasa sederhana namun menentukan, masa depan Indonesia bukan ditentukan oleh nasib, melainkan oleh pilihan sadar rakyatnya hari ini, tentang siapa yang layak memimpin dan nilai apa yang ingin dijaga bersama. (her)




















