INDOPOSCO.ID – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan ketahanan pangan sebagai program prioritas nasional dalam kerangka Astacita, dengan menekankan kemandirian ekonomi rakyat berbasis sumber daya dalam negeri, termasuk sektor kelautan dan perikanan.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa pembangunan ketahanan pangan nasional tidak boleh hanya bertumpu pada sektor darat. Menurutnya, kampung nelayan harus dijadikan pilar utama produksi pangan, distribusi, dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
“Kampung nelayan harus dikembangkan sebagai pusat produksi dan ekonomi rakyat berbasis laut, didukung teknologi dan tata kelola modern,” ujar Prof. Achmad Tjachja.
Ia menilai pembangunan kampung nelayan perlu ditopang pengadaan teknologi maritim, peningkatan kapasitas sumber daya manusia nelayan, serta pengelolaan berbasis data. Karena itu, ia mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lebih progresif menghadirkan teknologi ke wilayah pesisir, seperti sistem informasi cuaca dan oseanografi, alat tangkap ramah lingkungan, kapal efisien, hingga fasilitas cold storage dan rantai dingin.
Prof. Achmad juga menekankan pentingnya pemanfaatan data hidro-oseanografi yang akurat, serta optimalisasi peran Pushidrosal TNI AL dalam penyediaan peta laut dan data oseanografi untuk mendukung efisiensi penangkapan ikan dan adaptasi nelayan terhadap perubahan iklim.
Berdasarkan data BPS, pada 2025 volume angkutan laut domestik mencapai sekitar 44,6 juta ton, menegaskan peran laut sebagai tulang punggung logistik nasional. Sementara itu, KKP mencatat nilai ekspor perikanan Indonesia pada 2024 mencapai sekitar US$ 3,7 miliar dengan surplus perdagangan lebih dari US$ 3 miliar.
Sektor kelautan dan perikanan juga menyerap 2,4-3 juta nelayan aktif, mayoritas nelayan kecil. Seiring konsumsi ikan nasional yang mencapai sekitar 58,9 kilogram per kapita per tahun, kapasitas produksi perikanan nasional pada 2025 telah melampaui 25 juta ton dan ditargetkan terus meningkat.
Ia menegaskan, keberhasilan Astacita Presiden Prabowo membutuhkan sinergi lintas sektor, penguatan riset dan inovasi kelautan, serta peningkatan kesejahteraan nelayan melalui stabilisasi harga dan akses pasar.
“Dengan pengelolaan laut yang baik, pemanfaatan teknologi, dan penguatan riset, visi Indonesia mandiri pangan dan berdaulat maritim dapat terwujud,” tutup Prof. Achmad Tjachja. (srv)




















