INDOPOSCO.ID – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) gagal mendongkrak capaian akademik siswa. Hal itu merujuk pada data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 justru menunjukkan penurunan skor matematika dan bahasa secara signifikan dibandingkan hasil UN 2019.
Menurut Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji, fakta tersebut membuktikan bahwa masalah pendidikan Indonesia bukan lapar, melainkan rusaknya sistem belajar.
“Negara memberi makan tubuh siswa, tetapi membiarkan otak mereka tumbuh dalam sistem pembelajaran yang rapuh,” kata Ubaid dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Program MBG dinilainya melenceng dari visi menciptakan generasi cerdas dan berdaya saing. JPPI menekankan bahwa pemenuhan gizi seharusnya berjalan beriringan dengan penguatan nalar kritis siswa, bukan sekadar memastikan mereka kenyang.
“Indonesia tidak membutuhkan generasi yang sekadar kenyang, tetapi cerdas, kritis, dan berdaya saing. MBG, dalam bentuknya saat ini, justru menjauhkan kita dari tujuan itu,” ujar Ubaid.
Di samping itu, MBG dianggap merendahkan martabat profesi guru. Mengingat guru dibebani urusan non-pedagogis (logistik, distribusi, hingga pengawasan makanan) yang menggerus waktu mengajar dan mendampingi siswa.
Lebih ironis lagi, gaji karyawan MBG mencapai hingga 10 kali lipat gaji guru honorer, padahal mayoritas anggaran MBG bersumber dari anggaran pendidikan. “Dalam posisi ini menjadi jelas, bahwa guru dijadikan sapi perah agar proyek MBG tetap hidup,” kritik Ubaid.
Badan Gizi Nasional (BGN) resmi kembali menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara serentak mulai hari ini. Pemerintah menargetkan jangkauan penerima manfaat melonjak menjadi 82,9 juta orang pada tahun 2026, yang mencakup anak sekolah (PAUD hingga SMA/SMK), balita, serta ibu hamil dan menyusui. (dan)









