INDOPOSCO.ID – Upaya percepatan penurunan stunting nasional kini difokuskan pada penguatan konsumsi protein hewani, dengan ikan sebagai komoditas andalan. Oleh karena itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menaruh perhatian serius pada pemenuhan protein hewani sebagai kunci memutus mata rantai stunting.
Ikan, baik dari perairan tawar maupun laut, dinilai sebagai salah satu solusi paling efektif karena kandungan gizinya yang tinggi, mudah dicerna, serta terjangkau oleh masyarakat luas.
“Ikan efektif mencegah stunting karena kaya protein hewani berkualitas tinggi, yang dibutuhkan untuk perkembangan otak dan daya tahan tubuh anak. Ini menjadikannya sumber nutrisi penting untuk tumbuh kembang serta mencegah kekurangan gizi kronis,” ujar Inspektur Bapanas, Imron Rosjidi dalam keterangannya, dikutip pada Minggu (7/12/2025).
Tak hanya berhenti pada konsumsi, pemerintah juga mendorong penguatan produksi dari hulu. Salah satu terobosannya datang dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang melalui pengembangan ikan nila salin, jenis nila yang mampu dibudidayakan di perairan payau hingga asin.
Inovasi ini dinilai strategis karena membuka peluang produksi ikan dalam skala besar di wilayah yang sebelumnya tidak optimal untuk budidaya ikan air tawar. Dengan demikian, pasokan protein ikan bisa lebih stabil, sekaligus mendukung program nasional penyediaan makanan bergizi gratis.
Imron menegaskan bahwa pengembangan nila salin bukan sekadar proyek perikanan biasa, melainkan bagian dari strategi besar negara dalam percepatan penurunan angka stunting.
“Budidaya nila salin ini sangat mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penurunan stunting,” tambahnya.
Dengan sinergi antara inovasi budidaya, kebijakan pangan, dan program gizi nasional, ikan kini tak lagi sekadar lauk di meja makan, melainkan simbol perlawanan terhadap stunting dan investasi nyata untuk masa depan anak-anak Indonesia. (her)










