INDOPOSCO.ID – Warga Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), di Provinsi Sumatera Utara, menggantungkan diri pada air dari perbukitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah jaringan air bersih daerah itu rusak dihantam banjir dan tanah longsor.
Warga Kecamatan Pandan, Tora Limbong, di sebuah kios air di Jalan Zainal Hutagalung, Tapteng, Sabtu (6/12/2025), mengatakan warga sementara ini hanya mengantungkan hidup dari mata air dari Perbukitan Aek Matauli karena belum mengetahui kapan layanan perusahaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kembali normal.
“Beginilah kami hari-hari ini menggunakan air Matauli untuk memasak, mandi,” ucap Tora, dilansir dari Antara, Sabtu (6/12/2025).
Hingga saat ini warga masih berharap perbaikan jaringan distribusi PDAM di Tapteng segera rampung agar kebutuhan air bersih kembali terpenuhi.
Hal tersebut sebagaimana disampaikan Desiana. Ia mengaku kesulitan mendapatkan pasokan air minum sejak longsor melanda sejumlah titik di Tapteng, termasuk bukit dekat tempat tinggalnya di Sibuluan.
“Segeralah pak tolong diselesaikan. Kami tidak terus-terusan bergantung pada sumber air disini. Tentu lebih banyak pengeluaran kami,” ujar Desiana, dari becak motor yang dikendarai keponakannya saat mengantre air bersih.
Kios penjual air dari Aek Matauli hampir bisa ditemui di setiap sudut jalan wilayah Pandan, khususnya di Jalan Zainal Hutagalung, Jalan Madse Gelar Kesayangan, perbatasan dengan Kota Sibolga, Sumatera Utara.
Ryo, salah satu pemilik kios mengatakan setiap galon atau drum plastik berkapasitas 20 liter itu dijual Rp2 ribu. Rata-rata warga mengeluarkan sekitar Rp32 ribu per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi maupun mencuci pakaian.
Tak sedikit warga mengakui terbantu oleh pemerintah daerah dan beberapa relawan atau legislator setempat yang menyalurkan bantuan air melalui mobil tangki. Namun, kata Rio, air bantuan itu hanya dapat digunakan untuk mencuci pakaian bukan untuk dikonsumsi.
“Benar itu pak, sudah ada bantuan, tapi warga tidak menggunakannya untuk minum-masak, beberapa airnya keruh karena diambil dari air sungai yang sekarang karena longsor bercampur lumpur begitu,” ungkapnya.
Ryo menegaskan sebagian besar kios air dari Bukit Aek Matauli tidak menaikkan harga jual, bahkan tak sedikit warga urunan membeli selang dan bergotong-royong menariknya dari sumber mata air.
“Saling membantu saja lah kita,” ujarnya.
Tapanuli Tengah merupakan salah satu daerah di Sumatera Utara yang dilanda banjir dan tanah longsor pada 25 November dengan dampak yang signifikan.
Berdasarkan data yang dilaporkan Kantor SAR Nias, pada Sabtu pagi atau hari ke-12 pascabencana diketahui jumlah korban di Tapanuli Tengah total ada sebanyak 115 orang meninggal dunia, hilang dalam pencarian 169 orang dan 549 orang dievakuasi dalam kondisi selamat.(dil)





















