• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Ekowisata, Pariwisata Berkelanjutan yang Harmonis dengan Alam dan Masyarakat

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Selasa, 2 Desember 2025 - 22:10
in Ekonomi
desa-wisata

Panorama Embung Nglanggeran di Desa Wisata Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menjadi salah satu contoh sukses pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat. Foto: Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Eva Rosdiana
Mahasiswi Magister Terapan Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Politeknik Sahid dengan Dosen Pengampu Suci Sandi Wachyuni dan Kadek Wiweka

INDOPOSCO.ID – Di tengah pesatnya pertumbuhan pariwisata global, berbagai dampak negatif mulai terasa semakin nyata: kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya, hingga pelunturan budaya lokal.

BacaJuga:

Bank Mandiri Hadirkan ATM Emas, Permudah Nasabah ambil Emas Fisik dari Livin’ Tabungan Emas

BCA Ajak Masyarakat Sehat dan Cerdas Berinvestasi lewat Runvestasi 2026

Raih 71,5 Persen dari Target APBN, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Capai Rp240,1 Triliun hingga Akhir September 2026

Fenomena overtourism di sejumlah destinasi dunia memperlihatkan bahwa pariwisata, jika tidak dikelola dengan bijaksana, dapat menjadi pedang bermata dua. Di sinilah ekowisata hadir sebagai paradigma baru yang menawarkan keseimbangan antara kepuasan wisatawan, kelestarian alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Secara esensial, ekowisata bukan sekadar perjalanan menuju tempat yang indah dan alami. Konsep ini mengusung tanggung jawab moral untuk menjaga lingkungan, meningkatkan kesejahteraan komunitas, dan menyampaikan nilai edukatif tentang ekologi serta budaya. Dengan kata lain, ekowisata merupakan komitmen bersama untuk memastikan bahwa kehadiran wisatawan justru membawa manfaat, bukan beban, bagi destinasi yang dikunjunginya.

Penulis berpendapat ekowisata memiliki ciri khas yang membedakannya dari pariwisata konvensional. Pertama, ia berbasis pada kawasan alam yang masih asri sebagai daya tarik utama. Kedua, kegiatan wisata selalu diiringi kontribusi nyata pada konservasi flora dan fauna.

Ketiga, masyarakat lokal bukan hanya objek, melainkan subjek pengelola yang memperoleh manfaat ekonomi langsung melalui jasa pemandu, homestay, kuliner, dan kerajinan. Keempat, setiap kunjungan memuat unsur edukasi serta komitmen untuk meminimalkan jejak lingkungan. Terakhir, ekowisata menawarkan pengalaman otentik yang menyatukan wisatawan dengan budaya dan alam secara lebih mendalam.

Bila dikelola dengan baik, ekowisata memberikan manfaat berlapis. Dari sisi lingkungan, ia membantu pendanaan konservasi, rehabilitasi habitat, dan edukasi ekologi. Dari sisi ekonomi, ekowisata menciptakan lapangan kerja baru dan mendiversifikasi pendapatan masyarakat di daerah terpencil. Sementara dari sisi sosial-budaya, ia berperan penting dalam melestarikan tradisi, memperkuat identitas lokal, dan meningkatkan kualitas hidup.

Namun, jalan menuju ekowisata yang ideal tidak selalu mulus. Tantangan yang muncul sering kali melibatkan faktor internal maupun eksternal. Kapasitas sumber daya manusia di desa-desa wisata belum merata, sementara infrastruktur dasar seperti akses transportasi, sanitasi, dan teknologi masih terbatas di banyak daerah potensial.

Selain itu, tanpa tata kelola yang disiplin, destinasi ekowisata tetap berisiko terjebak dalam overtourism yang ingin mereka hindari. Tidak jarang pula terjadi konflik kepentingan antar pemangku kepentingan, serta maraknya praktik greenwashing—klaim keberlanjutan palsu demi kepentingan pemasaran.

Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan strategi pengembangan yang komprehensif. Pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan secara holistik melalui pelatihan manajemen, hospitality (keramahan), hingga pemasaran digital. Prinsip konservasi harus menjadi fondasi, termasuk penerapan energi terbarukan, pengelolaan limbah yang ketat, dan pembatasan jumlah kunjungan sesuai daya dukung lingkungan.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan lembaga swadaya masyarakat perlu diperkuat agar terjadi keseimbangan peran. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dapat mendukung promosi, edukasi, hingga sistem reservasi berbasis kuota. Sertifikasi dan standar keberlanjutan juga harus ditegakkan untuk menjamin kualitas dan integritas destinasi ekowisata.

Indonesia memiliki banyak contoh keberhasilan yang sudah diakui dunia. Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya membuktikan bahwa konservasi laut dapat berjalan seiring dengan pariwisata berbasis masyarakat. Desa Wisata Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bagaimana komunitas mampu mengelola warisan geologi menjadi sarana edukasi dan pemberdayaan.

Taman Nasional Komodo menerapkan pembatasan kunjungan demi menjaga habitat satwa endemiknya. Sementara Tangkahan di Provinsi Sumatera Utara dikenal sebagai praktik ekowisata gajah yang etis dan edukatif. Keberhasilan-keberhasilan ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin ekowisata dunia.

Pada akhirnya, ekowisata bukan lagi sekadar pilihan alternatif, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan keberlanjutan pariwisata nasional. Di tengah ancaman krisis lingkungan global, ekowisata menawarkan paradigma baru yang menyatukan keuntungan ekonomi dengan komitmen ekologis dan sosial.

Dengan tata kelola yang baik dan komitmen lintas sektor, Indonesia dapat mengamankan kekayaan alamnya untuk generasi mendatang, sekaligus membangun industri pariwisata yang tangguh, adil, dan berdaya saing global. Ekowisata adalah investasi masa depan-bagi alam, bagi masyarakat, dan bagi identitas bangsa. (*)

Tags: Desa WisataDesa Wisata NglanggeranEkowisatapariwisata

Berita Terkait.

mandiri
Ekonomi

Bank Mandiri Hadirkan ATM Emas, Permudah Nasabah ambil Emas Fisik dari Livin’ Tabungan Emas

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:21
BCA Ajak Masyarakat Sehat dan Cerdas Berinvestasi lewat Runvestasi 2026
Ekonomi

BCA Ajak Masyarakat Sehat dan Cerdas Berinvestasi lewat Runvestasi 2026

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:05
bc
Ekonomi

Raih 71,5 Persen dari Target APBN, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Capai Rp240,1 Triliun hingga Akhir September 2026

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:24
PHE LPB Genjot Eksplorasi Migas, Sumur Tingkilan-001 Mulai Dibor
Ekonomi

PHE LPB Genjot Eksplorasi Migas, Sumur Tingkilan-001 Mulai Dibor

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:02
Kredit BCA Tembus Rp1.017 Triliun, Pembiayaan UKM Tumbuh 6,9 Persen
Ekonomi

Jadi Pilihan Utama Masyarakat, Bank Mandiri Raih Peringkat Pertama Survei CX100 Danantara

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:45
RUPSLB PLN Tetapkan Suroso Isnandar sebagai Dirut Baru
Ekonomi

RUPSLB PLN Tetapkan Suroso Isnandar sebagai Dirut Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:40

OLAHRAGA

esi
Olahraga

PB ESI 2026–2030 Fokus Ubah Potensi Generasi Digital Jadi Prestasi Dunia

Editor Laurens Dami
Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:07

INDOPOSCO.ID - Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) resmi melantik kepengurusan baru untuk masa bakti 2026–2030. Langkah itu menjadi momentum...

SelengkapnyaDetails
Gempa Bumi Getarkan Banyumas di Jawa Tengah, Pusat Episenter 25 Km dari Kota

Hasil Liga Champions: Liverpool Pesta Gol, PSG Mengamuk di Markas City

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:57
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30

BERITA POPULER

  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    945 shares
    Share 378 Tweet 236
  • Gempa Bumi Getarkan Banyumas di Jawa Tengah, Pusat Episenter 25 Km dari Kota

    936 shares
    Share 374 Tweet 234
  • Gandeng Musisi Tanah Air, Kemendikdasmen Kian Menggelorakan Lagu Anak Lewat KICAU

    770 shares
    Share 308 Tweet 193
  • Kunci Wirausaha Kuat, Ekonomi Melesat Perpres No. 38 Tahun 202

    744 shares
    Share 298 Tweet 186
  • Pengusaha Pilihan

    727 shares
    Share 291 Tweet 182
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.