INDOPOSCO.ID – Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 yang jatuh pada 3 Desember 2025 mendatang menjadi momentum penting bagi para pemangku kepentingan di dunia pendidikan untuk kembali menegaskan komitmen terhadap pendidikan inklusif.
Dalam sebuah dialog yang penuh kehangatan, tiga tokoh dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan seruan kuat tentang tekad, penerimaan, dan empati bagi seluruh penyandang disabilitas di Indonesia.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikdasmen, Fajri Hidayatullah, yang juga merupakan penyandang disabilitas, mengawali dengan pesan motivatif yang menggugah.
“Menjadi disabilitas bukan keinginan kita. Tetapi satu hal, saya bisa mengutip Prof. Jason Arday. Di usia 11 tahun beliau memiliki hambatan autis, namun dengan tekadnya terus belajar, ia membuktikan bahwa dengan ketekunan dan disiplin, akan selalu ada orang yang memberi kesempatan seluas-luasnya,” ujar Fajri dalam diskusi jelang peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 yang digelar di Jakarta, Jumat (28/11/2025).
Fajri juga mengajak para penyandang disabilitas untuk lebih mengenal diri, berdamai dengan keadaan, serta memahami lingkungan agar dapat mengambil peran di masyarakat.
“Kenali diri, berdamailah, lalu kenali lingkungan. Setelah itu, teman-teman pasti bisa mengambil peran,” imbuhnya.
“Menjadi disabilitas bukanlah hambatan, tetapi mampu untuk menjawab tantangan,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Rita Pranawati, menyoroti pentingnya penerimaan sosial dan empati dalam pendidikan inklusif.
“Menjadi disabilitas itu adalah situasi yang tidak bisa kita pilih. Maka kita semua wajib menghargai dan berempati karena mereka memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan,” kata Rita.
Ia menekankan bahwa pendidikan bukan hanya milik anak-anak non-disabilitas, tetapi hak semua anak Indonesia. “Penerimaan dari orang tua, masyarakat, dunia usaha, hingga anak-anak kita sendiri sangat menentukan keberhasilan pendidikan inklusi,” jelasnya.
Rita juga menyampaikan bahwa baik pendidikan formal maupun nonformal harus memberi ruang yang setara kepada siapapun, khususnya penyandang disabilitas. “Yang terpenting adalah penerimaan dan komitmen pemerintah untuk terus menghadirkan layanan pendidikan bermutu bagi penyandang disabilitas,” tegasnya.
Sementara itu, Dirjen Pendidikan Vokasi PKPLK Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor dalam memperluas kecakapan masyarakat terhadap isu disabilitas.
“Saya ingin mengajak kita semua, baik dari pemerintah, masyarakat, dan media untuk terus meningkatkan penyadaran tentang respek dan empati kepada disabilitas,” ucap Tatang.
Tatang menilai bahwa kisah inspiratif dari lapangan dapat menjadi dorongan kuat bagi para penyandang disabilitas untuk bangkit.
“Mungkin kita bisa berkolaborasi mengangkat berita-berita yang memberi semangat sekaligus mengingatkan masyarakat untuk terus memberikan perhatian dan empati,” terangnya.
Lebih lanjut, Tatang juga mengajak semua pihak untuk memperkuat gerakan pendidikan inklusif di seluruh Indonesia.
“Mari kita terus bergerak memperjuangkan pendidikan yang lebih inklusif. Dunia pendidikan harus menjadi tempat yang aman, ramah, dan menggembirakan bagi semua peserta didik,” tutupnya.
Dengan berbagai pesan yang menggema hari itu, semangat pendidikan inklusif kembali ditegaskan sebagai komitmen bersama menuju Indonesia yang lebih peduli, setara, dan manusiawi. (her)




















