INDOPOSCO.ID – Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keberlanjutan pangan, Indonesia mulai menapaki fase baru. Sebuah arah kebijakan yang lebih tegas, lebih kolaboratif, dan lebih manusiawi kini digelorakan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Upaya ini tidak hanya bertujuan menekan angka susut dan sisa pangan atau Food Loss and Waste (FLW), tetapi juga membangun cara pandang baru dalam memaknai pangan itu sendiri.
Isu FLW selama ini kerap hanya dipandang sebagai problem teknis. Namun Bapanas menilai persoalan tersebut jauh lebih kompleks. FLW menyangkut perilaku konsumsi, tata kelola distribusi, hingga pola pikir masyarakat tentang apa yang layak digunakan kembali. Karena itu, kebijakan nasional perlu bergerak secara lebih terstruktur dan berbasis kolaborasi.
Di tengah dinamika itu, Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menegaskan bahwa pemerintah telah merumuskan tiga pilar besar yang menjadi inti strategi nasional pengurangan FLW. Ia menyatakan bahwa langkah ini bukan sekadar kampanye, tetapi pondasi perubahan jangka panjang.
“Tiga strategi utama ini menjadi fondasi gerakan kita. Mulai dari membangun awareness, mendorong aksi kolaboratif, hingga menghadirkan data yang mampu menunjukkan bahwa aksi pengurangan FLW ini benar-benar berjalan dan berdampak. Kita menghimpun ragam upaya di lapangan dalam satu platform agar ekosistemnya terkoneksi,” ujar Nita dalam keterangannya, Minggu (30/11/2025).
Tiga pilar tersebut meliputi penguatan kebijakan dan program aksi yang menekankan perubahan perilaku, penyediaan fasilitas kendaraan penyelamatan pangan, serta pembaruan sistem data penyelamatan pangan yang mampu menyajikan informasi akurat bagi publik. Melalui sistem data yang lebih matang, setiap gerakan lokal hingga nasional dapat dipantau dampaknya secara nyata.
Namun, Nita mengakui bahwa persoalan terbesar bukan pada teknologi, melainkan cara pandang masyarakat. Banyak publik masih menganggap sisa pangan sebagai sampah, padahal potensinya bisa dimaksimalkan kembali untuk kebutuhan lain, bahkan untuk membantu masyarakat rentan.
“Kita perlu membangun awareness sejak awal, karena isu ini bukan semata teknis, tapi juga soal perilaku. Kalau kita bergerak bersama pemerintah, komunitas, pelaku usaha, serta akademisi maka pemanfaatan pangan bisa jauh lebih optimal sebelum akhirnya benar-benar menjadi sampah,” jelas Nita.
Bapanas juga mencermati bahwa berbagai kota di Indonesia mulai menunjukkan gerakan akar rumput yang kuat. Di banyak daerah, komunitas, pelaku usaha, UMKM, hingga lembaga sosial mulai terlibat dalam aksi penyelamatan pangan. Inisiatif tersebut tumbuh bukan karena instruksi, melainkan kesadaran.
Nita pun memberi apresiasi atas dinamika positif ini dan menilai bahwa energi perubahan yang muncul dari masyarakat adalah modal terbesar bangsa dalam menghadapi tantangan keberlanjutan pangan.
“Bapanas melihat semakin banyak gerakan lokal yang tumbuh secara organik, menunjukkan tingginya kesadaran terhadap isu pangan berkelanjutan,” tambahnya.
Dengan menguatnya kolaborasi lintas sektor, Bapanas optimistis bahwa Indonesia dapat menekan susut dan sisa pangan secara signifikan. Sebuah perjalanan panjang memang menanti, namun setiap langkah kecil, dari rumah tangga hingga kebijakan nasional, menjadi bahan bakar perubahan besar yang sedang dibangun bangsa ini. (her)




















