INDOPOSCO.ID – Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama (Kemenag), Amien Suyitno menegaskan pentingnya membangun kesadaran ekologis dan spiritual melalui kegiatan sederhana namun penuh makna.
Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan Bersepeda Onthel Bersama Guru Lintas Iman yang digelar di halaman Kantor Kementerian Agama, Jakarta, pada Minggu (23/11/2025), sebagai bagian dari rangkaian Semarak Hari Guru Nasional 2025.
Amien menjelaskan bahwa kegiatan bersepeda onthel bukan hanya sekadar perayaan, tetapi merupakan bentuk nyata penerapan arahan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar tentang ekoteologi, yaitu cara pandang keagamaan yang berpihak pada kelestarian lingkungan.
“Hari Guru salah satunya kita adakan dengan acara bersepeda onthel bersama Pak Menteri (Menag). Mengapa onthel? Tradisi pakai sepeda ini tradisi yang sangat pro lingkungan,” ujar Amien.
Ia menjelaskan bahwa ekoteologi tidak seharusnya berhenti pada tataran konsep, melainkan perlu diterapkan dalam tindakan sehari-hari.
“Ini kita sedang terapkan arahan Pak Menteri, yaitu ekoteologi. Inilah yang benar ekoteologi itu. Tapi pertanyaannya, sanggup nggak kita semua memakai sepeda dalam keseharian?” tegasnya.
“Maksud saya, kita ingin mengedukasi masyarakat betapa pentingnya ekoteologi, bukan cuma tataran konseptual tapi tataran nyata,” lanjutnya.
Amien kemudian menguraikan tiga pesan penting filosofi onthel yang relevan bagi para guru, terutama guru agama, guru madrasah, dan guru lintas iman.
Pesan pertama, bersepeda adalah simbol keseimbangan hidup, termasuk keseimbangan antara aspek rasional dan spiritual yang harus dimiliki seorang pendidik.
“Filosofi onthel yakni pentingnya menjaga keseimbangan. Hanya orang yang bisa menjaga keseimbangan yang bisa bersepeda. Guru-guru kita menjaga keseimbangan. Pak Menteri selalu mengajarkan pada kita pentingnya spiritual. Tidak cukup hanya bicara soal akademik atau yang sifatnya rasional saja,” jelasnya.
Pesan kedua, lanjut Amien, yakni kemandirian. Gerakan mengayuh sepeda mengandung pesan bahwa setiap insan pendidik perlu membangun kemandirian, baik dalam berpikir maupun bertindak.
“Selain menjaga keseimbangan, kita juga mempentingkan pentingnya membangun kemandirian. Makanya di sini ada proses mengayuh sepeda. Ini menggambarkan kemandirian,” tuturnya.
Adapun pesan yang terakhir yaitu kesederhanaan. Onthel juga mengajarkan nilai kesederhanaan, sebuah prinsip yang menurut Amien harus terus menjadi ruh dalam pengabdian para guru.
“Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita belajar kesederhanaan. Tiga pesan onthel itu nanti akan menjadi semacam kiblatnya para guru agama, guru madrasah, dan guru lintas agama,” tambahnya.
Amien menutup pesannya dengan harapan agar kegiatan bersepeda onthel dapat menjadi inspirasi nyata bagi seluruh pendidik di Indonesia dalam menanamkan nilai-nilai spiritual, ekologis, dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini tidak hanya merayakan Hari Guru Nasional, tetapi juga meneguhkan komitmen Kementerian Agama dalam mendorong pendidikan yang berkelanjutan dan berkeadaban lingkungan. (her)










