• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Air Jernih

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Rabu, 19 November 2025 - 08:00
in Disway
disway-kamis

disway

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Bagaimana ceritanya: Dr dr Karina berani melakukan T-cell sampai 1,2 miliar sel –dalam sekali tindakan ke pasien kanker.

Suatu hari Karina menjadi pembicara di satu seminar. Dia tampil bersama Dr dr Sonar Panigoro SpB Ongkologi. Sonar, ahli kanker itu, sudah dia anggap sebagai gurunyi.

BacaJuga:

Rencana Pindah

Iri Masyaallah

Oei Al-Kaff

Waktu Dr Sonar bicara, Karina tersadar isi ceramah itu: “di setiap 1 cm2 kanker terdapat 1 miliar sel kanker”.

Dr Sonar adalah adik tokoh nasional Arifin Panigoro; pernah menjadi dirut RS Dharmais; kepala departemen bedah FKUI; dan pimpinan RSCM Kencana.

“Kalimat beliau itu benar-benar menggugah saya,” ujar Karina. Intinya, Karina berpikir: berarti, untuk menundukkan kanker 1 cm diperlukan ”pasukan” penyerang yang jumlahnya harus seimbang.

Sejak itulah Karina berpikir untuk menyuntikkan 1 miliar T-sel ke pasien kanker. Tentu juga terpikir untuk menyuntikkan lebih banyak lagi.

Tapi itu tidak mudah. ”Membiakkan” sel menjadi bermiliar memerlukan penelitian lebih dalam.

Setiap pembiakan sel harus dilihat keseimbangan antar selnya. Karina terus melakukan penelitian: untuk bisa mencapai pembiakan tinggi tapi keseimbangannya tetap stabil.

Ditemukanlah angka 1,2 miliar itu. Mungkin saja kelak bisa lebih tinggi dari itu. Dia belum berhenti berpikir.

“Pasien kanker yang ke klinik saya biasanya kan sudah stadium lanjut. Kankernya bukan lagi baru 1 atau 2 cm. Sudah ada yang 5 cm. Bahkan 10 cm,” ujar Karina. “Itu belum termasuk sel kanker yang sudah beredar di darah,” tambahnyi.

Karina terus mengamati pasien-pasiennyi. “Selalu saja ada temuan di klinik saya, kian banyak jumlah sel yang dimasukkan kian baik hasilnya,” katanyi.

Cerita ”pertempuran sel” itu tidak akan terungkap kalau saya tidak bertanya kepadanya: “apakah tidak berbahaya memasukkan begitu banyak sel ke tubuh manusia”. Karina mengatakan bahwa dia juga berpikir begitu.

Tapi keraguannyi hilang ketika menyadari 1 cm2 kanker saja mengandung 1 miliar sel kanker. Belum lagi dibandingkan dengan jumlah seluruh sel di tubuh manusia.

“Dibanding dengan jumlah sel di tubuh kita, 1 miliar sel baru itu tidak banyak,” kata Karina.

Karina sudah mempelajari banyak buku dan jurnal. Dari situ dia mendapat ilmu bahwa tubuh manusia terdiri dari puluhan triliun sel. Triliun. Bukan miliar. Maka dia mantap dengan temuannyi bahwa 1 miliar sel baru bukanlah angka yang berlebihan.

Ditambah lagi dengan perolehan Hadiah Nobel Kedokteran untuk Prof Dr Shimon Sakaguchi tahun ini. Itu sangat melegakan hati Karina. Dia merasa praktik T-sel di kliniknyi tidak perlu lagi berpayah menjelaskan ”legalitas” T-sel dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Dunia sudah mengakuinya –bahkan memberikan penghargaan tertinggi.

Prof Shimon Sakaguchi menerima Hadiah Nobel Kedokteran karena guru besar Kyoto University itulah yang mengenali adanya sel T tertentu dalam sistem imunitas tubuh kita.

Prof Sakaguchi-lah yang menerangkan adanya sel T regulator di darah putih kita. Ia menamainya: sel T-regs. Yakni sel yang bertugas menahan supaya sel T tetap bisa bekerja sesuai kodrat baiknya.

Sel T sendiri dinamakan ‘T’ dari singkatan Thymus-derived lymphocyte. Itu merujuk pada limfosit yang berkembang dalam kelenjar timus.

Sebagai dokter yang bergerak di hilir kini Karina merasa mendapatkan fakta bahwa sumber air di hulunya ternyata air kehidupan yang sangat jernih. (DAHLAN ISKAN)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Rencana Pindah

Kamis, 2 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Iri Masyaallah

Rabu, 1 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Oei Al-Kaff

Selasa, 31 Maret 2026 - 08:00
disway
Disway

Lumbung Komisi

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:00
disway
Disway

Daftar Keinginan

Kamis, 26 Maret 2026 - 08:00
disway
Disway

Mati Efisien

Rabu, 25 Maret 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • darwati

    Warga Aceh Dikeroyok di Polda Metro Jaya, DPD RI: Ini Tamparan Keras bagi Penegakan Hukum

    1087 shares
    Share 435 Tweet 272
  • Kemnaker: Ratusan Aduan Pelanggaran THR, 173 Kasus Sudah Selesai dan 1.400-an Berproses

    912 shares
    Share 365 Tweet 228
  • DPR Minta OJK yang Baru Segera Tangani Kasus Dana Syariah Rp2,47 Triliun

    795 shares
    Share 318 Tweet 199
  • 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, BKSAP DPR Dorong Pengadilan Internasional

    695 shares
    Share 278 Tweet 174
  • Start Meyakinkan, Timnas Indonesia Incar Final Sempurna FIFA Series 2026

    691 shares
    Share 276 Tweet 173
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.