• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Gelar Pahlawan Nasional Soeharto dan Gus Dur, MUI: Momentum Perkuat Persatuan dan Rekonsiliasi Sejarah

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 10 November 2025 - 16:16
in Nasional
WhatsApp Image 2025-11-10 at

Presiden ke-2 RI H.M. Soeharto dan Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Foto: Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memnerikan apresiasi tinggi dan ucapan selamat (tahniah) kepada Pemerintah Republik Indonesia atas penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh besar bangsa, almarhum Jenderal (Purn.) H.M. Soeharto dan almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bertepatan dengan Hari Pahlawan.

MUI memandang keputusan ini adalah langkah rekonsiliasi sejarah yang strategis dan elegan, sekaligus menegaskan sikap kenegarawanan dan kedewasaan bangsa dalam menghargai kontribusi para pemimpinnya.

BacaJuga:

DPR RI Soroti Risiko Bias Kebijakan Label Gizi di Pangan Siap Saji, jika Pengawasan Lemah

26 Ruang Kelas Darurat Hadirkan Kegiatan Belajar Siswa Terdampak Bencana di Sumbar

Wah, Jumlah Wisatawan Mancanegara Gunakan Kereta Api Meningkat

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Zainut Tauhid Sa’adi, mengatakan penganugerahan ini harus menjadi ibrah (pelajaran berharga, red) untuk masa kini dan masa depan.

“Keputusan ini adalah penegasan bahwa setiap pemimpin memiliki peran dan jasa besar dalam rangkaian sejarah Indonesia. Kita harus mampu mengambil ibrah dari kepemimpinan mereka untuk masa kini dan masa depan,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (10/11/2025).

MUI menyerukan kepada seluruh umat Islam dan rakyat Indonesia untuk mengambil tiga pesan moral utama dari momentum bersejarah ini. Dengan bersikap objektif dan adil dalam menilai sejarah. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang adil dalam menilai sejarahnya.

“Masyarakat didorong untuk melihat kedua tokoh secara holistik. Kita ambil kebaikan (jasa) mereka sebagai teladan, dan jadikan kekurangan (kesalahan) mereka sebagai pembelajaran kolektif untuk perbaikan bangsa ke depan,” kata Zainut.

Ia menilai, prinsip ini sejalan dengan pandangan yang mengajarkan objektivitas untuk tidak absolut dan berlebihan dalam menghakimi manusia. Sehingga dibutuhkan kejernihan, ketulusan dan kedewasaan dalam mengambil keputusan.

“Dari Bapak Soeharto, kita teladani semangat kejuangannya yang tidak mengenal lelah. Sejak masa penjajahan, penegakan kedaulatan negara, penyelamatan dan pemulihan keamanan nasional dari ancaman G30S/PKI (Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia), serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program pembangunan yang berkelanjutan,” ungka Zainut.

“Dari Gus Dur, kita teladani semangat kemanusiaan, inklusivitas, dan toleransi tanpa batas. Beliau mengajarkan, tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu,” tambahnya.

Ia mengatakan, penganugerahan gelar kepada dua tokoh dengan latar belakang dan corak kepemimpinan yang berbeda (militer-pembangunan vs ulama-demokrasi) adalah bukti nyata bangsa ini mampu bersatu dalam kebhinekaan.

Zainut menekankan pentingnya mengamalkan prinsip tasamuh (toleransi), tafahum (saling memahami) dan ta’awun (saling menolong) di tengah segala perbedaan pandangan politik atau ideologi masa lalu.

“MUI mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjunjung tinggi kebesaran jiwa kedua pahlawan ini, mengakhiri segala bentuk polarisasi yang tidak produktif, dan bersatu padu membangun Indonesia yang adil, makmur, dan beradab,” tuturnya. (nas)

Tags: Gus Durhari pahlawanMUISoehartoZainut Tauhi Sa'adi

Berita Terkait.

miinuman
Nasional

DPR RI Soroti Risiko Bias Kebijakan Label Gizi di Pangan Siap Saji, jika Pengawasan Lemah

Sabtu, 18 April 2026 - 15:55
abdul
Nasional

26 Ruang Kelas Darurat Hadirkan Kegiatan Belajar Siswa Terdampak Bencana di Sumbar

Sabtu, 18 April 2026 - 15:15
wisatawan
Nasional

Wah, Jumlah Wisatawan Mancanegara Gunakan Kereta Api Meningkat

Sabtu, 18 April 2026 - 14:34
ai
Nasional

Hadapi Dinamika, Praja IPDN Dituntut Kuasai Kompetensi Digital

Sabtu, 18 April 2026 - 13:13
menpar
Nasional

Percepat Pengembangan Danau Toba, Menpar Tekankan Sinkronisasi Master Plan

Sabtu, 18 April 2026 - 10:10
Diskusi
Nasional

KPK Pasca-Revisi: Antara Kekuasaan dan Kehilangan Gigi

Jumat, 17 April 2026 - 21:34

BERITA POPULER

  • Pegawai-Kementan

    ASN Kementan Sulap Lahan Marginal Perumahan Jadi Sumber Pangan Keluarga

    2527 shares
    Share 1011 Tweet 632
  • Gelar Halalbihalal, Keluarga Besar H. Mukhayar dan Hj. Hamidah Satukan 1.108 Anak Cicit

    907 shares
    Share 363 Tweet 227
  • Persis vs Semen Padang: Duel Membara di Zona Bawah

    797 shares
    Share 319 Tweet 199
  • Bea Cukai Bangun Sinergi Pengawasan Lintas Instansi di Makassar dan Banda Aceh

    848 shares
    Share 339 Tweet 212
  • Hadiri Acara Halalbihalal Keluarga Besar H. Mukhayar dan Hj. Hamidah, Begini Pesan HNW 

    765 shares
    Share 306 Tweet 191
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.