• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Bawang Merah

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Jumat, 31 Oktober 2025 - 08:00
in Disway
disway senin

disway

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Kerusuhan tahun 1998 tidak hanya membuat sedih banyak warga Tionghoa, tapi juga bikin menangis ilmuwan asal Kudus ini: Prof Ir Arifin Noor Sugiharto MSc PhD.

Krisis ekonomi saat itu membuat ahli bawang merah ini sulit mencari teman kerja sama. Padahal ia harus segera menanam bibit bawang merah yang ia kumpulkan dari seluruh dunia. Kulkas-kulkasnya sudah penuh –isi bawang merah untuk penelitian.

BacaJuga:

Moral Pusbatara

Tekstil Danantara

Komunikasi Xi

Akibat tidak segera dapat partner, semua bawang merah itu membusuk. Jumlahnya 400 jenis bawah merah. Harusnya semua itu segera ditanam. Lalu dikawin-kawinkan. Sampai bisa mendapatkan bibit bawang merah terbaik.

Waktu itu Arifin baru pulang dari Jepang. Selama di Kyushu University ia meneliti bawang merah. Ia dapat biaya penelitian sangat besar. Dari pemerintah Jepang. Kalau dirupiahkan mencapai Rp 10 miliar.

Arifin hanya bisa bersedih melihat koleksi bawang merahnya membusuk. Setelah kesedihannya reda, Arifin bertekad tetap menjadi peneliti. Ia pindah meneliti jagung. Ia kembali ke Jepang. Dapat beasiswa postdoctoral. Kali ini ia harus berada di pusat penelitian yang terpencil. Di Okinawa. Bukan di pulau besarnya tapi di pulau kecil di bagian selatan kepulauan Okinawa.

Sudah 16 paten ia hasilkan di bidang jagung. Empat di antaranya sudah menjadi ”uang”. Sudah dibeli oleh kalangan industri jagung. Uang hasil penelitiannya itu dibagi dengan tempatnya mengajar: Universitas Brawijaya Malang 70-30 persen.

Saya ke rumah Prof Arifin Jumat lalu. Kesan saya ia mirip Dr drh Yuda, peneliti sel UGM yang tinggal di Magelang: bajunya lusuh, rambut tidak disisir, dan kumis tidak dirapikan. Mungkin orang menganggap saya juga seperti itu. Bedanya, saya bukan ilmuwan peneliti.

Rumah Prof Arifin di Batu, dekat Malang. Di perumahan kampung. Halamannya tidak sampai tiga meter itu pun ditanami markisa yang lagi berbuah.

Ketika saya tiba di rumahnya jagung yang direbus istrinya sudah masak. Ketika disajikan langsung saya sambar. Terperanjat. Panas sekali. Buru-buru saya taruh kembali di piring.

Itulah jagung hasil penelitian terbarunya: jagung ketan –jagung manis dengan tekstur seperti ketan. Istri Arifin merebus lagi –kloter kedua– setelah melihat kami memakan dengan lahapnya.

“Bu, jangan rebus lagi,” pinta saya pura-pura tidak rakus.

“Memanfaatkan sisa air yang masih panas,” jawabnyi.

Saya pun menoleh ke Prof Arifin: “Istri dari daerah mana?”

“Pek-nggo,” jawabnya lantas tertawa. ”Pek-nggo” singkatan dari ”ngepek tonggo” –mengambil tetangga sendiri. Berarti sama-sama orang Kudus. “Dekat menara Kudus,” katanya.

Setelah menghabiskan dua, saya bercerita kepadanya: pernah panen jagung ketan seperti itu di kebun kecil saya. Saya bermaksud mengatakan: apanya yang baru dari penelitiannya itu.

“Ini lebih enak,” katanya.

“Dari mana Prof tahu ini lebih enak? Kan bisa saja beda orang beda selera”.

“Jagung punya gen enak. Gen enak itu saya teliti. Saya ukur tingkat enaknya. Bukan oleh lidah tapi oleh alat di lab,” jawabnya.

Saya pun diam. Pasti kalah.

Saya ingin melihat keadaan dalam rumah ilmuwan ini. Seperti apa. Apakah kesederhanaan penampilannya seirama dengan isi rumahnya. Saya pun pura-pura ingin ke kamar kecil.

Begitu masuk lebih dalam ke dalam rumahnya, ups…. terlihat begitu banyak kulkas besar. Dengan sesapuan saya bisa menghitung jumlahnya: delapan kulkas. Rupanya ia memergoki lirikan saya itu.

“Mau lihat isinya?” tanyanya.

Tanpa menunggu jawaban saya, Prof Arifin membuka salah satu kulkas besar itu. Terlihatlah kantong-kantong plastik yang berisi jagung. Semua itu benih jagung hasil kawin-kawinan yang ia lakukan. Sebagian besar adalah jagung jenis untuk makanan ternak.

“Memelihara keaslian benih jagung itu sulit. Jagung adalah tanaman yang paling suka selingkuh,” ujar Prof Arifin. Kalau ada jantan yang terbang dari jagung di kebun sebelah langsung terjadi pembuahan.

Di samping meneliti jagung, Prof Arifin juga meneliti kabocha atau labu. Di desa saya disebut waluh. Orang Amerika menyebutnya pumpkin. Kulit hijau, dagingnya kuning.

Bukan hanya meneliti, juga menyajikannya di meja tamu. Tentu kami lahap juga. Sudah pukul 16.00. Kebetulan belum makan siang. Maka jagung ketan dan pumpkin menjadi makan siang kami yang sangat lezat. Gratis pula.

Rasa pumpkin itu juga beda dengan yang di kebun saya. Teksturnya istimewa.

Masih ada lagi: anggur. Warna hijau. Renyah. Kriyuk-kriyuk.

“Tapi kok masih ada isinya ya?” tanya tim kami dari Disway Malang.

“Sengaja. Bikin anggur tanpa isi sih sangat murah,” katanya. Prof Arifin lantas mengucapkan rumusnya –yang saya bisa mengerti artinya.

Tentu perusuh seperti Puti Leong akan mencurigai saya: pulang dari rumah Prof Arifin pasti dibekali banyak jagung dan pumpkin.

Kecurigaan itu salah. Saya tidak disangoni jagung rebus dan irisan-irisan pumpkin. Saya hanya disangoni dua amplop kecil. Isinya, kalau saya laksanakan, bisa menghasilkan ratusan buah pumpkin melebihi yang ada di dapurnya. (Dahlan Iskan)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Moral Pusbatara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:00
Disway

Tekstil Danantara

Rabu, 30 September 2026 - 08:00
disway
Disway

Komunikasi Xi

Selasa, 29 September 2026 - 08:00
Kanan Dalam
Disway

Kikin

Senin, 28 September 2026 - 08:00
disway
Disway

Durian Jonathan

Minggu, 27 September 2026 - 08:00
Debat Muktamar
Disway

Debat Muktamar

Sabtu, 26 September 2026 - 07:43

OLAHRAGA

Libas Bangladesh 9-2, Indonesia Ungguli Malaysia dan Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup
Olahraga

Libas Bangladesh 9-2, Indonesia Ungguli Malaysia dan Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup

Editor Nelly Marinda Situmorang
Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:07

INDOPOSCO.ID - Timnas Indonesia tampil mengesankan saat menjalani laga penentu melawan Timnas Bangladesh dalam FIFA ASEAN Cup 2026. Skuad Garuda...

SelengkapnyaDetails
Susunan Pemain Indonesia vs Bangladesh: Rizky Ridho Starter, Maarten Paes Cadangan

Susunan Pemain Indonesia vs Bangladesh: Rizky Ridho Starter, Maarten Paes Cadangan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:58
Indonesia vs Bangladesh: John Herdman Ajak Skuad Garuda Kenang Tragedi Kanjuruhan

Indonesia vs Bangladesh: John Herdman Ajak Skuad Garuda Kenang Tragedi Kanjuruhan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:12
Hotspot Nasional Tembus 559 Titik, Kemenhut Perkuat Pengendalian Karhutla di Kalimantan Tengah

Optimistis Tatap Laga Penentu, John Herdman: Takdir Ada di Tangan Kita Sendiri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:17
Suara Pelanggan Jadi Inspirasi JAECOO J5 EV Genuine Body Kit

Indonesia-Malaysia Main Bareng, Ini Skenario Garuda Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:35

BERITA POPULER

  • puan

    Kembali Raih Emas Asian Games 2026, Ketua DPR Dorong Penghargaan Bagi Atlet Secara Utuh

    3893 shares
    Share 1557 Tweet 973
  • Transformasi Pelayanan BPN Banten Dimulai, Urus Balik Nama Tanah Tak Lagi Berbulan-bulan

    3921 shares
    Share 1568 Tweet 980
  • Lolos Seleksi Barca Academy, Pesepak Bola Muda Bekasi Terbang ke Spanyol

    1132 shares
    Share 453 Tweet 283
  • Kanwil BPN Banten Serahkan Sertifikat BMN dan BMD Senilai Rp 1,4 Triliun di Momentum Hantaru 2026

    832 shares
    Share 333 Tweet 208
  • Dorong Ekonomi dan Pariwisata, Pengusaha Muda Boyolali Dirikan PO Sa’roni Trans

    800 shares
    Share 320 Tweet 200
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.