INDOPOSCO.ID – Indonesia menyimpan kekuatan besar di balik kekayaan sumber daya alamnya. Namun, menurut Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara, potensi luar biasa itu baru akan terasa jika dikelola secara cerdas, terintegrasi, dan didukung iklim investasi yang sehat.
“Yang berikutnya yang penting kita lakukan adalah bagaimana kita mengelola ini. Jadi bukan hanya sekadar kita data, kita tahu ada nilainya, tapi kemudian dikelola, dimanfaatkan untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi,” ungkap Suahasil di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Menurutnya, langkah strategis seperti hilirisasi sumber daya alam menjadi kunci dalam mengubah kekayaan alam mentah menjadi kekuatan industri bernilai tambah tinggi. Hilirisasi ini, lanjut Suahasil, akan memperkuat sektor manufaktur, motor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju level 8%.
“Jadi, kelanjutan dari sumber daya alam, hilirisasi, nanti dia masuk ke sektor manufaktur, ini menjadi sektor yang sangat penting ketika kita ingin pertumbuhan yang lebih tinggi,” tegasnya.
Namun, hilirisasi tak bisa berdiri sendiri. Suahasil menekankan perlunya pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar pengelolaan sumber daya alam (SDA) lebih efisien dan produktif. Pemerintah, kata dia, terus berupaya menciptakan iklim investasi yang menarik bagi investor domestik maupun asing.
“Ini menjadi tugas kita menciptakan. Sehingga saya yakin bahwa kalau sumber daya alamnya itu bisa kita kelola, bisa kita lakukan hilirisasi, ini akan meningkatkan pertumbuhan,” jelasnya.
Tak hanya faktor domestik, Suahasil juga mengingatkan pentingnya mewaspadai pengaruh eksternal seperti tensi geopolitik global, fluktuasi harga komoditas, dan pergerakan nilai tukar yang dapat memengaruhi arah ekonomi nasional. Karena itu, fleksibilitas kebijakan fiskal menjadi hal yang tak bisa ditawar.
“APBN selalu kita desain sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sebagai alat, dia harus fleksibel. Dia harus sangat fleksibel. Harus versatile, harus fleksibel. Karena perekonomian Indonesia itu dihadapkan kepada berbagai macam shock dari global maupun dari dalam negeri,” tandasnya.
Pemerintah, lanjut Suahasil, menyiapkan berbagai kebijakan responsif seperti subsidi dan kompensasi energi untuk menjaga daya beli masyarakat dari dampak naik-turunnya harga minyak dunia. Dengan total belanja APBN mencapai Rp3.500 triliun atau sekitar 14% dari PDB, negara berharap fiskal tetap menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat dan dunia usaha.
Selain itu, koordinasi lintas kebijakan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
“Sinergi kebijakan fiskal dan moneter akan terus dikalibrasi guna mengantisipasi tekanan global dan memastikan momentum pertumbuhan tetap terjaga,” tambahnya.
Jika seluruh strategi itu berjalan selaras, dari hilirisasi hingga sinergi kebijakan, Indonesia bukan hanya akan menjadi negara dengan SDA melimpah, tetapi juga kekuatan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. (her)




















