• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Internasional

Pekerja Korea yang Ditahan Sebut “Amerika Bukan Tempat yang Aman dan Penjaga Lakukan Gestur Rasis

Redaksi Editor Redaksi
Jumat, 26 September 2025 - 00:00
in Internasional
IMG-20250925-WA0115

Pekerja Korea yang Ditahan Sebut “Amerika Bukan Tempat yang Aman,” Tuduh Penjaga Lakukan Gestur Mata Rasis terhadap Asia (allkpop)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Awal bulan ini, sebanyak 316 pekerja asal Korea dari Hyundai Motor dan LG Energy Solution ditangkap dan ditahan oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat di lokasi pembangunan pabrik baterai bersama di negara bagian Georgia.

Setelah hampir tujuh hari dalam penahanan, para karyawan ini memilih untuk dideportasi secara sukarela kembali ke Korea.

BacaJuga:

Swiss-Belhotel International Perluas Portofolio di Bali dengan Soft Opening Resor Ashva Swiss-belresort Ubud

Candaan Trump untuk Timnas Inggris: Harry Kane Kok Malah Jadi Pemain Bertahan?

Sempat Dikritik Dino Patti Djalal, Pemerintah Akhirnya Utus Menlu ke Pemakaman Ali Khamenei

Dikutip dari www.allkpop.com , setelah kembali ke Korea Selatan, para pekerja tersebut memberikan kesaksian mereka mengenai penahanan tersebut dan menggambarkan lingkungan yang keras. Banyak yang bersaksi bahwa mereka diborgol tanpa penjelasan dan harus bertahan dalam kondisi tidak higienis di pusat penahanan imigrasi Foxton.

Penggerebekan yang melibatkan helikopter dan kendaraan lapis baja itu meninggalkan para pekerja dalam keadaan tidak percaya dan ketakutan.

Mereka diborgol dan ditahan selama seminggu dalam kondisi yang mereka gambarkan sebagai tidak layak, serta menuduh otoritas Amerika melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Menurut artikel tersebut, mereka ditahan di dalam sel yang penuh sesak, dengan kasur berjamur, air minum berbau, dan dipaksa menggunakan toilet yang hanya diberi sekat rendah untuk privasi.

Di antara tuduhan pelecehan, muncul klaim penting dari wawancara terkait diskriminasi rasial.

Seorang pekerja menjelaskan bahwa “penjaga menarik mata mereka ke samping dalam gestur rasis terhadap orang Asia.” Pekerja tersebut menambahkan bahwa “diskriminasi rasial dan ejekan—dan bagaimana Amerika Serikat memandang kami—akan terus membekas di hati saya.”

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan akan menyelidiki tuduhan ini.

Selain itu, The New York Times mengungkapkan bahwa lima dari enam insinyur yang diwawancarai diberi visa B-1 selama enam bulan, yang memungkinkan mereka untuk berkonsultasi dengan rekan bisnis.

The New York Times menjelaskan, “Otoritas Amerika Serikat dan Korea Selatan belum mengungkap rincian visa dari 317 warga Korea yang ditangkap pada 4 September. Namun lima dari enam insinyur yang diwawancarai oleh The Times menggunakan visa B-1 enam bulan, yang memperbolehkan konsultasi dengan rekan bisnis. Satu orang menggunakan program bebas visa selama 90 hari bernama Electronic System for Travel Authorization, atau ESTA, yang memperbolehkan perjalanan untuk bisnis atau liburan.

Mereka semua mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan bisnis karena digaji oleh perusahaan mereka di Korea Selatan.”

Insiden ini menyoroti adanya ketidaksesuaian antara kebijakan perdagangan Amerika Serikat, yang mendorong perusahaan Korea Selatan untuk membangun pabrik di AS, dan kebijakan imigrasi yang belum menyediakan cukup visa kerja untuk tenaga terampil yang dibutuhkan. Para insinyur mengakui bahwa mereka beroperasi dalam “zona abu-abu,” sering menggunakan visa bisnis atau wisata jangka pendek dan kembali ke Korea setelah beberapa bulan untuk kemudian kembali lagi ke AS.

Banyak dari pekerja ini menyatakan bahwa mereka tidak pernah berniat tinggal di AS secara permanen, melainkan akan kembali ke negara asal setelah proyek selesai.

Penyelesaian pembangunan pabrik yang sebelumnya dijadwalkan selesai pada akhir tahun ini kini tertunda setidaknya beberapa bulan. (mg119)

Tags: amerikakoreapelecehanRasis

Berita Terkait.

SB
Internasional

Swiss-Belhotel International Perluas Portofolio di Bali dengan Soft Opening Resor Ashva Swiss-belresort Ubud

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:25
Candaan Trump untuk Timnas Inggris: Harry Kane Kok Malah Jadi Pemain Bertahan?
Internasional

Candaan Trump untuk Timnas Inggris: Harry Kane Kok Malah Jadi Pemain Bertahan?

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:04
Sugiono
Internasional

Sempat Dikritik Dino Patti Djalal, Pemerintah Akhirnya Utus Menlu ke Pemakaman Ali Khamenei

Selasa, 7 Juli 2026 - 13:41
KPTDP Gandeng Tony Blair Percepat Pemerintahan Digital Berbasis AI
Internasional

KPTDP Gandeng Tony Blair Percepat Pemerintahan Digital Berbasis AI

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:44
Run for Free Palestine Jadi Aksi Perdana, Komnas Palestina Resmi Menggalang Solidaritas Warga
Internasional

Run for Free Palestine Jadi Aksi Perdana, Komnas Palestina Resmi Menggalang Solidaritas Warga

Minggu, 5 Juli 2026 - 22:01
Asia Tenggara Satukan Kekuatan Riset, ASEAN4TB Siap Percepat Eliminasi Tuberkulosis
Internasional

Asia Tenggara Satukan Kekuatan Riset, ASEAN4TB Siap Percepat Eliminasi Tuberkulosis

Kamis, 2 Juli 2026 - 17:22

BERITA POPULER

  • Tokoh Banten Mulyadi Jayabaya Sesalkan Ada Oknum Pejabat Dikaitkan Aksi Penculikan Aktivis

    Tokoh Banten Mulyadi Jayabaya Sesalkan Ada Oknum Pejabat Dikaitkan Aksi Penculikan Aktivis

    1429 shares
    Share 572 Tweet 357
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1167 shares
    Share 467 Tweet 292
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2990 shares
    Share 1196 Tweet 748
  • Citilink dan Aqua Hadirkan Flomiland, Instalasi Seni Interaktif Baru di Terminal 1C

    727 shares
    Share 291 Tweet 182
  • Pasca-Bentrokan Berdarah di Menteng, 200 Personel Gabungan TNI-Polri Disiagakan

    698 shares
    Share 279 Tweet 175
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.