INDOPOSCO.ID – Masalah kesehatan mental pada remaja tengah menjadi perhatian serius, karena berdampak terhadap kehidupan dan masa depan mereka. Beberapa masalah sering muncul antara lain gangguan kecemasan, depresi hingga gangguan perilaku. Orang tua memiliki peran penting mencegah hal tersebut.
Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Imran Pambudi mengatakan, salah satu komponen kunci kebijakan pemerintah adalah memperkuat peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental kalangan remaja. Membangun komunikasi terbuka.
“Orang tua diimbau untuk selalu membuka dialog dan menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak mereka untuk mengekspresikan perasaan serta mengungkapkan masalah yang dialami,” kata dr. Imran kepada INDPOSCO melalui gawai, Jakarta, Senin (5/3/2025).
Selain itu, memantau perilaku dan penggunaan teknologi. Mengawasi kegiatan online, mengatur batasan waktu penggunaan internet dan game online, serta mengenali tanda-tanda kecanduan digital yang dapat memicu stres atau kecemasan.
Memberikan dukungan emosional kepada kalangan remaja. Setiap orang tua harus menjadi teladan dan memastikan anak mendapatkan dukungan emosional yang cukup, baik dari keluarga maupun lingkungan sekolah.
Komunikasi yang baik dengan para pendidik. Sebab, komunikasi yang baik terjalin pertukaran informasi apa yang terjadi pada anak atau remaja baik di sekolah maupun sekolah. “Informasi yang sinkron antara orang tua dan guru kepada anak sangat membantu (cegah masalah mental),” ujar dr. Imran.
Ia menambahkan, orang tua segera mencari bantuan profesional jika terdapat indikasi masalah seperti depresi, kecemasan, atau perubahan perilaku drastis. “Segera konsultasikan dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental profesional,” imbuh dr. Imran.
Masalah mental remaja menjadi sorotan setelah muncul sejumlah kasus kenakalan remaja. Seperti tawuran, minum alkohol hingga mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Kondisi tersebut membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengirimkan sejumlah peserta didik bermasalah ke barak militer.
Program pendidikan karakter itu bertujuan untuk melakukan pendisiplinan dan membantu kesehatan mental. Kegiatan itu telah digulirkan pada 2 Mei 2025 di beberapa wilayah di Jabar.
Tercatat sejak 2 Mei 2025, sebanyak 69 siswa terlibat sudah mengikuti program pembinaan di barak militer. Rinciannya,39 siswa SMP berasal dari Kabupaten Purwakartadan 30 siswa SMP dan SMA dari Kota Bandung. (dan)











