• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Soliditas Asean Harus Diperkuat untuk Selesaikan Masalah Laut China Selatan

Folber Siallagan Editor Folber Siallagan
Senin, 4 September 2023 - 04:04
in Nasional
asean

Ilustrasi sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok (kanan) berpatroli di dekat anjungan minyak RRT, Haiyang Shi You 981 (kiri), di Laut Tiongkok Selatan (13/6/2014). ANTARA/REUTERS/Nguyen Minh/aa.

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Direktur Pusat Studi ASEAN Universitas Gadjah Mada (UGM) Dafri Agussalim memandang perlu memperkuat soliditas negara-negara ASEAN untuk membahas sengketa perairan di Laut Tiongkok Selatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Ke-43 ASEAN 2023 di Jakarta.

“Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana kembali memperkuat kohesivitas, solidaritas, dan soliditas kalangan negara-negara ASEAN menyangkut isu-isu strategis Laut Tiongkok Selatan,” kata Dafri saat dihubungi di Yogyakarta, Minggu.

BacaJuga:

Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’

DPR Sebut Kekerasan di Daycare Yogyakarta Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Ber-Qurban bersama BRImo: Cukup dalam Genggaman, Kebaikan Jadi Nyata

Dafri menilai penanganan sengketa Laut Tiongkok Selatan tak kunjung tuntas lantaran belum ada kesamaan pandangan dan komitmen di internal ASEAN berkait dengan pembahasan isu itu.

Hal itu pula yang menyebabkan negosiasi perundingan pedoman tata perilaku (code of conduct/CoC) di Laut Tiongkok Selatan masih berlarut.

Menurut dia, sebagian negara anggota ASEAN memandang isu itu penting. Namun, beberapa negara anggota lainnya menganggap isu itu tak relevan dengan masing-masing persoalan domestik yang mereka hadapi.

“Ada yang sama karena mereka langsung terlibat. Akan tetapi, beberapa negara tidak terlalu peduli dengan itu, misalnya Myanmar, Laos, dan Kamboja. Ini yang mempersulit penyelesaian konflik Laut Tiongkok Selatan,” ujar dia.

Karena isu tersebut bakal dibahas dalam KTT Ke-43 ASEAN, dia berharap pengarusutamaan pembahasan isu itu perlu terlebih dahulu ada kesepakatan sebagai komitmen bersama demi menjaga keamanan perairan kawasan.

Dafri menuturkan bahwa perairan Laut Tiongkok Selatan merupakan kawasan strategis yang apabila terjadi insiden di kawasan itu dampaknya sangat luas.

Secara ekonomi, kawasan itu merupakan jalur lintas penyaluran energi mencapai 40 persen dari total konsumsi dunia serta jalur perdagangan vital dari Asia Timur, Jepang, Korea, Taiwan, dan sebagian negara Asia Selatan, termasuk Asia Tenggara.

“Kalau itu dikuasai Republik Rakyat Tiongkok (RRT) bahaya sekali. Belum kalau bicara sumber daya alam (SDA) yang ada. Itu sangat strategis, nah, dalam konteks itu mestinya itu bisa jadi fokus bersama,” kata dia.

Indonesia yang saat ini menduduki posisi sebagai ketua, menurut dia, memiliki peran strategis untuk mengarahkan komitmen soliditas itu.

Dafri menuturkan soliditas bersama terkait isu itu sangat penting sebab penyelesaian sengketa Laut Tiongkok Selatan nantinya tidak cukup diwujudkan berupa statemen, kecaman, maupun deklarasi bersama.

“Kalau soliditas itu sudah kuat, baru mereka bisa bergerak. Itu tidak cukup dengan hanya deklarasi atau kecaman, harus tindakan riil,” tutur dia.

Seandainya muncul deklarasi buah dari KTT Ke-43 ASEAN, menurut dia, semestinya ada perjanjian yang mengikat seluruh anggota ASEAN dalam menyelesaikan kasus itu secara kolektif.

“Setelah deklarasi macam-macam misalnya, masing-masing negara memiliki tanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi mewujudkan itu dan ada semacam norma yang mengikat negara-negara untuk melakukan itu,” ujar dia.

Pasalnya, lanjut Dafri, penyelesaian sengketa Laut Tiongkok Selatan sangat sensitif dan strategis sehingga tidak akan efektif manakala dihadapi secara parsial oleh masing-masing negara di Asia Tenggara.

Menurut dia, upaya pendekatan dengan Tiongkok harus ditempuh atas nama ASEAN.

“Enggak bisa sendiri, harus melalui ASEAN karena dengan begitu posisi tawar kita lebih kuat. Asia Tenggara ini ‘kan sangat strategis, apalagi dikaitkan rivalitas Tiongkok dan Amerika, dalam konteks Indo-Pasifik, ASEAN ini ‘kan memegang peran penting,” kata Dafri.

Berbeda dengan KTT Ke-42 ASEAN di Labuan Bajo yang membahas isu-isu internal ASEAN serta isu-isu penting di dalam dan luar kawasan.

Pertemuan KTT Ke-43 ASEAN pada tanggal 5—7 September 2023, bakal membahas beberapa tema penting, di antaranya soal Code of Conduct terkait Laut Tiongkok Selatan, South East Asia Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ), ASEAN Maritime Outlook, ASEAN Outlook in Indo Pacific (AOIP), dan isu terkait Myanmar. (bro)

Tags: ASEANlaut china selatanSoliditas Asean

Berita Terkait.

Rooftop Wellness dengan City View di Jakarta! Morrissey Hotel Hadirkan Mat Pilates & Cooking Class Serta Cek Kesehatan Mata Gratis
Nasional

Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’

Senin, 27 April 2026 - 21:30
Prabowo Lantik 6 Pejabat Baru Kabinet Merah Putih, Ada Jumhur Hidayat hingga Dudung
Nasional

DPR Sebut Kekerasan di Daycare Yogyakarta Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Senin, 27 April 2026 - 19:41
Ber-Qurban bersama BRImo: Cukup dalam Genggaman, Kebaikan Jadi Nyata
Nasional

Ber-Qurban bersama BRImo: Cukup dalam Genggaman, Kebaikan Jadi Nyata

Senin, 27 April 2026 - 18:04
Kolaborasi BPDP dan AKPY-STIPER Tingkatkan Daya Saing UMKM Sawit
Nasional

Dorong Daya Saing, Petani Sawit Harus Masuk Ekosistem Industri

Senin, 27 April 2026 - 17:15
Lebaran-Jawara
Nasional

Melalui Kampung Silat Jampang Dompet Dhuafa, Ratusan Pesilat Hadiri Lebaran Jawara Perkuat Budaya dan Jatidiri Bangsa

Senin, 27 April 2026 - 15:05
Rupiah
Nasional

Regulasi Pembatasan Uang Tunai saat Pemilu Digagas, Pengamat Pertanyakan Implementasinya

Senin, 27 April 2026 - 14:44

BERITA POPULER

  • Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    2002 shares
    Share 801 Tweet 501
  • Ragam Busana Adat Daerah Warnai Kemeriahan Peringatan Hari Kartini 2026 di Permatahati

    930 shares
    Share 372 Tweet 233
  • Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’

    796 shares
    Share 318 Tweet 199
  • Begini Penampakan Gerbong Perempuan KRL Usai Ditabrak KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur

    740 shares
    Share 296 Tweet 185
  • Gempa Bumi Dangkal Guncang Semarang Pagi Ini, Begini Catatan BMKG

    727 shares
    Share 291 Tweet 182
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.