• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

PR Stunting dan Risiko Penurunan Kualitas SDM

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Sabtu, 25 Desember 2021 - 21:50
in Megapolitan
gerakan stunting

Gerakan Melawan Stunting di “Kota Udang” Cirebon dan secara khusus melakukan kegiatan ini di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi. Foto : Antara/HO-Halopuan

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Menutup 2021 bukan selalu berarti seluruh pekerjaan rumah (PR) berhasil terselesaikan dengan tuntas. Bangsa ini misalnya masih berkutat dengan PR lanjutan berupa penanganan stunting dan risiko penurunan kualitas sumberdaya manusia (SDM).

Bonus demografi yang kelak akan diterima jika tak dikelola dengan baik justru berpotensi menjadi ancaman tersendiri. Sebab masalah stunting dan gizi buruk belum sepenuhnya teratasi dengan baik.

BacaJuga:

Bamus Betawi Soroti Kriteria Lembaga Adat dalam Pemajuan Kebudayaan Betawi di MK

Bicara di PKKMB UMJ 2026, Xaviera Ingatkan Mahasiswa Tidak Gunakan AI karena FOMO

Jalur Sepeda Jakarta Dipastikan Tetap Ada, Dishub Siapkan Evaluasi

Pandemi Covid-19 disadari atau tidak memperburuk prevalensi stunting di tanah air, menjadikan Indonesia dalam ancaman penurunan kualitas sumber daya manusia dalam beberapa generasi ke depan.

Stunting merupakan masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang, sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak.

Baca Juga : Pemerintah Terus Berkomitmen Atasi Wasting dan Stunting

Di sejumlah daerah, di Cirebon, Jawa Barat misalnya angka kejadian stunting, atau kasus gagal tumbuh akibat gizi buruk kronis, berada di bawah angka rata-rata nasional sekitar 27 persen, yakni 13 persen. Meskipun, sejumlah kelurahan termasuk Karyamulya masih memiliki angka stunting di atas angka rata-rata Kota Cirebon.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga menekankan pentingnya penguatan daerah untuk membantu menuntaskan masalah stunting, atau gizi buruk, di Indonesia. Memperingati Hari Ibu pada 22 Desember 2021, sejumlah pihak pun didorong untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap persoalan ini.

Menyikapi persoalan stunting, dikatakan Bintang, banyak faktor penyebab yang perlu mendapatkan penanganan dan intervensi dari berbagai pihak terkait.

Menurut Bintang, selain memperhatikan asupan bayi sejak 1000 hari pertama kehidupan, penting juga mengingatkan dukungan pola pengasuhan yang setara, pencegahan perkawinan anak, maupun kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Bintang Puspayoga menegaskan pos pelayanan terpadu (posyandu) salah satunya merupakan tonggak pencegahan stunting. Posyandu, lanjut dia, menjadi tempat layanan yang dapat mengintervensi kesehatan ibu hamil hingga melahirkan sehingga penting untuk diperkuat dalam upaya pencegahan stunting. Selain itu, sinergi dengan banyak pihak akan mendorong penanganan stunting menjadi kian mudah.

Sementara sejumlah lembaga sosial juga sudah memberikan perhatian terhadap persoalan stunting di sejumlah daerah. HaloPuan, lembaga sosial yang diinisiasi politisi PDI Perjuangan Puan Maharani, misalnya, menggelar Gerakan Melawan Stunting di “Kota Udang” Cirebon dan secara khusus melakukan kegiatan ini di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi.

Dengan bergotong royong bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Karyamulya dan DPC PDI Perjuangan Kota Cirebon, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 150 warga, yang terdiri dari calon pengantin, pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, dan kader-kader posyandu se-Karyamulya. Mereka adalah elemen masyarakat yang menjadi garda terdepan dalam melawan stunting.

Relawan HaloPuan, Poppy Astari, mengatakan pihaknya menaruh perhatian besar terhadap persoalan stunting karena melawan stunting merupakan tanggung jawab semua pihak.

Banyak yang belum memahami bahwa periode 1000 hari pertama kehidupan, yakni 9 bulan masa kehamilan dan dua tahun masa pertumbuhan anak, adalah masa yang sangat penting. Pada masa inilah terjadi perkembangan otak yang sangat pesat. Jika melewati periode ini, anak stunting akan sulit diperbaiki seperti dilansir Antara.

Stunting harus menjadi perhatian banyak pihak karena stunting tak hanya menyangkut tinggi-pendek tubuh seorang anak tapi juga berdampak besar pada perkembangan otak anak. Jika tak dilawan sejak awal, stunting akan mempengaruhi kemampuan anak belajar di sekolah dan bekerja saat dewasa nanti.

Faktanya anak-anak inilah yang 24 tahun mendatang akan menjadi populasi usia produktif. Alhasil, cita-cita Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia akan memperoleh bonus demografi, bisa gagal jika kita tak segera melawan stunting sejak sekarang.

Di lain pihak, Anggota DPR RI Dapil Jabar VIII Ono Surono mengatakan, nasib bangsa di masa depan ada di tangan kaum muda. Karena itu, pendidikan dan sosialisasi pencegahan stunting amat penting bagi kaum muda.

Oleh karena itu, pendidikan gizi dan stunting merupakan kewajiban bagi anak-anak remaja calon pengantin agar mempersiapkan diri dengan asupan gizi seimbang dan pengetahuan terkait pola asuh.

Penanganan stunting yang masif juga diperlukan dengan berbagai intervensi yang inovatif. Salah satunya dengan membawa gagasan memanfaatkan bubuk daun kelor sebagai salah satu makanan tambahan super bagi balita dan kaum ibu.

Masyarakat di kawasan atau kantong-kantong rentan kasus stunting perlu untuk diedukasi untuk mulai menanam dan memanfaatkan kelor sebagai tanaman yang diketahui sebagai superfood dan bergizi sangat tinggi.

Bahkan badan kesehatan dunia WHO telah merekomendasikan bubuk daun kelor sebagai asupan super untuk mengatasi malnutrisi di seluruh dunia karena kandungan mikronutrisinya yang kaya.

Kelor juga tanaman yang mudah tumbuh di tanah Nusantara. Berdasarkan berbagai penelitian, bubuk daun kelor sudah terbukti mampu menyeimbangkan gizi di dalam tubuh manusia.

Di Flores Timur, misalnya, Bupati Antonius Hadjon, berhasil menurunkan angka stunting dari 40 persen hingga 20 persen dengan menjadikan bubuk daun kelor sebagai asupan tambahan di posyandu-posyandu seperti dilansir Antara.

Maka memang ke depan, intervensi yang inovatif dan masif menjadi salah satu kunci yang efektif untuk menuntaskan pekerjaan rumah mengatasi stunting yang menghantui generasi penerus bangsa ini.

Sebab dengan cara-cara inilah, Indonesia bisa menekan angka stunting sampai ke level serendah-rendahnya. (aro)

Tags: anakgiziibumakananpanganstunting

Berita Terkait.

Kanwil Bea Cukai Sumbagtim Ungkap 75 Penindakan NPP hingga Agustus 2026
Megapolitan

Bamus Betawi Soroti Kriteria Lembaga Adat dalam Pemajuan Kebudayaan Betawi di MK

Rabu, 23 September 2026 - 02:20
Kanwil Bea Cukai Sumbagtim Ungkap 75 Penindakan NPP hingga Agustus 2026
Megapolitan

Bicara di PKKMB UMJ 2026, Xaviera Ingatkan Mahasiswa Tidak Gunakan AI karena FOMO

Selasa, 22 September 2026 - 23:10
Jalur Sepeda Jakarta Dipastikan Tetap Ada, Dishub Siapkan Evaluasi
Megapolitan

Jalur Sepeda Jakarta Dipastikan Tetap Ada, Dishub Siapkan Evaluasi

Selasa, 22 September 2026 - 19:30
Rano Karno Janji Kaji Pemasangan Lampu di Lapangan Taman Sari
Megapolitan

Rano Karno Janji Kaji Pemasangan Lampu di Lapangan Taman Sari

Selasa, 22 September 2026 - 18:03
Gugat UU DKJ ke MK, Pemuda Betawi Pertanyakan Kejelasan Lembaga Adat
Megapolitan

Gugat UU DKJ ke MK, Pemuda Betawi Pertanyakan Kejelasan Lembaga Adat

Selasa, 22 September 2026 - 12:02
cuaca
Megapolitan

Prakiraan Cuaca di Jakarta, Didominasi Berawan dan Berpeluang Hujan Hari Ini

Selasa, 22 September 2026 - 08:10

OLAHRAGA

ole
Olahraga

21 Pemain Timnas Indonesia Tiba di Jakarta Jelang FIFA ASEAN Cup, 2 Nama Siap Debut

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 22 September 2026 - 08:53

INDOPOSCO.ID – Persiapan Timnas Indonesia menuju FIFA ASEAN Cup 2026 mulai memasuki tahap serius. Sebanyak 21 pemain telah tiba dan...

SelengkapnyaDetails
ole

Ole dan Paes Tiba di Jakarta, Siap Bela Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026

Senin, 21 September 2026 - 20:12
Darurat Evaluasi Wasit Usia Dini: Ketika Peluit Membunuh Kompas Moral dan Mental Anak

Darurat Evaluasi Wasit Usia Dini: Ketika Peluit Membunuh Kompas Moral dan Mental Anak

Minggu, 20 September 2026 - 20:05
persib

Persijap vs Persib: Maung Bandung Bidik Revans, Laskar Kalinyamat Siap Tunjukkan Karakter

Minggu, 20 September 2026 - 12:38
pss

Dewa United vs PSS: Banten Warriors Kantongi Bekal Pramusim dan Filosofi Permainan

Minggu, 20 September 2026 - 11:21

BERITA POPULER

  • sudaryono

    Tuding Guru dan Media ‘Goreng’ Isu Keracunan MBG, Kepala BGN Didesak Mundur

    5540 shares
    Share 2216 Tweet 1385
  • Kemendiktisaintek Siapkan Rp 2 Triliun Lebih untuk Dana Riset

    1016 shares
    Share 406 Tweet 254
  • Komisi I Soroti Tanggung Jawab Vendor Asing dalam RUU KKS

    1046 shares
    Share 418 Tweet 262
  • Kementerian ATR/BPN Tancap Gas Kejar Target Sertipikasi 3 Juta Bidang Tanah MBR di 2027

    968 shares
    Share 387 Tweet 242
  • Pasca-OTT KPK, Pegawai ATR/BPN Syok dan Buka Suara Soal ‘Struktur Bayangan’

    865 shares
    Share 346 Tweet 216
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.