• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Gusdurian dan Tanggung Jawab Meraih Puncak Kekuasaan

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Senin, 15 November 2021 - 01:25
in Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : KH Imam Jazuli Lc MA*

INDOPOSCO.ID – Perlu mengenang sejarah untuk menyusun masa depan yang lebih cerah. Apalagi, sejarah itu adalah tentang kejayaan masa silam yang dapat memberikan bekal psikologis dan intelektual bagi generasi penerusnya, seperti keberhasilan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Pemilihan Umum (Pemilu)1999, dengan perolehan suara 12,61 persen. Suatu prestasi yang bahkan belum tercapai hingga Pemilu 2019, yang hanya berhasil meraih 9,69 persen suara.

BacaJuga:

PTK Kembalikan Kehidupan di Mangrove Kariangau, Satwa dan Flora Terus Bertambah

Mendagri Pastikan Bantuan Kemasyarakatan Presiden untuk Bencana di NTT Sudah Ditransfer

PN Tangerang Kabulkan Sebagian Gugatan Ahli Waris Yuamah: Kebenaran Lebih Terang dari Cahaya

Tanggung jawab mengembalikan kejayaan masa silam PKB ada pada Gusdurian, yang secara ideologis mengeklaim berasal dari gagasan Gus Dur, sehingga sudah semestinya secara politis juga kembali ke partai politik yang dibentuk Gus Dur sendiri. Tanpa ada pernyataan tegas, yang tidak abu-abu, bahwa Gusdurian berafiliasi pada PKB sepenuh hati, Gusdurian seperti duri dalam daging. Atau bahkan lebih ekstrem lagi, Gusdurian telah berkhianat pada allahummarham Gus Dur.

Dukungan Gusdurian adalah kata kunci bagi kemenangan PKB pada Pilpres 2024. Bahkan, Gusdurian bisa berkontribusi lebih daripada sekadar memenangkan PKB. Yaitu, atas nama kemenangan partai politik Islam. Sebab, semua pengamat politik masih belum menemukan jawaban yang tepat, mengapa sepanjang sejarah, partai politik Islam tidak pernah menang!

Dengan pernyataan penuh dan tulus bahwa Gusdurian akan berafiliasi pada PKB, yang hari ini sedang dipimpin Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Gusdurian setidaknya akan menggedor kesadaran elite-elite politik di seluruh partai Islam, bukan hanya PKB. Yaitu, kesadaran tentang arti penting persatuan dan kesatuan setiap unsur pembentuk sebuah partai politik. Jika tidak ada persatuan di internal partai Islam, kutukan sejarah terhadap parpol Islam tidak akan pernah berubah.

Mari sejenak kita mengenang partai Masyumi, yang gagal meraih puncak kekuasaan, di mana kadernya mesti jadi presiden. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari konflik internal pada 1952, sehingga NU keluar dan Partai NU berdiri. Peristiwa tersebut jika dilihat dari sudut pandang orang dalam, sesama muslim, tentu itu soal perbedaan pemikiran. Namun, jika dilihat dari sudut pandang orang luar, tentu itu akan berakhir pada kesimpulan: orang-orang Islam mudah pecah belah.

Nyatanya memang benar. Secara objektif, umat muslim mudah dipecah belah. Itu bisa dilihat dari pengalaman partai-partai politik Islam era reformasi. Orang-orang ”Partai Keadilan (PK)” tidak sejalan dengan orang-orang ”Partai Sejahtera (PS)” sehingga dua kubu itu harus dirangkul menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Apakah strategi tersebut berhasil? Tentu tidak! Lihat saja, setelah itu muncul lagi Partai Gelora. Hal serupa menimpa partai lain. Misalnya, dulu pendiri Partai Amanat Nasional kini pendiri Partai Ummat.

Lupakah saja partai lain. Biarlah mereka hidup dengan hasrat mereka sendiri. Namun, kita sebagai warga nahdliyyin yang khususnya sama-sama pengagum gagasan Gus Dur sudah saatnya bersatu padu, membesarkan PKB, warisan Gus Dur yang paling konkret dan nyata.

Biarkanlah partai politik Islam lain tidak sadar tentang arti penting persatuan, soliditas, keakuran, tetapi kita harus lebih dulu memberikan contoh. Jadi, jika Gusdurian menyatakan sepenuhnya mendukung PKB, itu akan berguna sekali bagi PKB, sekaligus akan berguna bagi partai politik Islam lain, agar mereka juga membangun soliditas di internal.

Saat soliditas di internal partai politik Islam masing-masing tercapai, baru saat itu kita bicara soliditas antarpartai Islam. Jika kembali tercapai, maka terakhir, kita bicarakan soliditas antara partai Islam dan partai nasionalis, demi kepentingan bangsa dan negara di masa depan. Saya kira tepat sekali pendapat Buya Syafii Maarif mengomentari keresahan hati Presiden Jokowi. Bahwa bangsa ini dihormati negara asing dengan sangat mentereng. Tetapi, sangat rapuh, kotor, dan jijik di dapur sendiri.

Penulis merasakan hal yang sama. Untuk itulah, sependek pengetahuan penulis, langkah kecil yang bisa dilakukan untuk mengubah masa depan adalah dimulai dari diri sendiri masing-masing. Yang paling nyata dan dekat dengan kehidupan penulis adalah tentang hubungan PKB dan Gusdurian. Mengapa Gusdurian? Karena sepengamatan penulis, komunitas yang satu ini diisi generasi muda milenial dari banyak lapisan sosial, mulai mahasiswa, doktor profesor, kiai, hingga politisi ulung. Jika mereka bersatu padu dengan PKB, bukan hanya partai Islam yang akan bermanfaat, melainkan juga umat muslim, bangsa, dan negara ini.

Dukungan tegas dari seluruh Gusdurian kepada PKB pasti akan menginspirasi basis massa partai politik Islam yang lain, agar mereka juga segera membangun kembali soliditas. Sebaliknya, jika Gusdurian mencontohkan keteladanan yang buruk, yang dengan berbagai alasan tak terbantahkan menolak bergabung dengan PKB, orang lain juga bisa melakukan hal yang sama. Jika sampai terjadi, bukan hanya PKB yang terpisah dari Gusdurian, melainkan percekcokan dan konflik politik seakan sebuah tradisi yang lazim dan lumrah. Padahal, keburukan apa pun, sekalipun terus-menerus terjadi dan berulang, tetaplah keburukan. Perpecahan adalah keburukan tersebut.

Sebaliknya, persatuan dan kesatuan, sekalipun sulit diraih, tetaplah kebaikan. Bahkan, sekalipun seluruh dunia setuju bahwa persatuan sebagai sesuatu yang sia-sia kita perjuangkan, anggapan tersebut tidak menyurutkan nilai penting persatuan. Karena itu, atas dasar itu pula, apa makna Gusdurian memperjuangkan nilai-nilai pluralisme, harmoni, persatuan antar-anak bangsa, sementara pihaknya sendiri sangat sulit untuk hidup harmoni atau bersatu dalam satu payung bersama (PKB), yang diciptakan dan didirikan oleh satu figur yang sama-sama kita junjung tinggi: Gus Dur. Tentu kita tidak mau pembicaraan yang omong kosong.

Pembicaraan omong kosong belaka yang dimaksud di sini adalah tentang cara teknis mewujudkan cita-cita Gus Dur. Beliau (almaghfurlah) selama ini tidak hanya berjasa besar untuk menyatukan seluruh elemen bangsa, bahkan hak-hak kaum minoritas pun diperjuangkan. Namun, itu juga sindiran bagi kita semua. Jika membangun harmoni dengan minoritas maupun nonmuslim saja bisa dan penting, betapa jauh lebih penting membangun harmoni sesama muslim. Karena pengertian umat muslim di sini sangat luas, lintas partai, lintas ormas, mari kita bangun harmoni di tingkat yang paling sempit. Yaitu, di tingkat sesama pengagum Gus Dur dan sesama ahli waris harta berharga Gus Dur, PKB.

Dengan memberikan contoh yang baik dan keteladanan yang luhur, Gusdurian pasti menginspirasi entitas lain di luar sana. Jika Gusdurian dan PKB bisa bersatu padu dengan harmoni, bahkan menjadi pilar utama penopang suara PKB, maka itu akan jadi keteladanan yang baik, bukan hanya bagi internal PKB dan Gusdurian, melainkan juga di tingkat yang lebih tinggi/luas lagi. Yaitu, bagi warga nahdliyyin. Artinya, jika PKB dan Gusdurian saja bisa bersatu, mengapa warga nahdliyyin yang bukan PKB dan Gusdurian tidak bisa bersatu!

Sebaliknya, jika Gusdurian dengan pikirannya sendiri mencari-cari celah agar jauh dari PKB, atau warga nahdliyyin juga mencari-cari celah agar tetap bukan PKB, maka ini akan jadi preseden buruk bagi siapa pun di luar lingkungan nahdliyyin, Gusdurian, bahkan bagi parpol lain. Mereka akan terus-menerus terkerangkeng oleh fenomena-fenomena sosial politik bahwa perbedaan-perbedaan yang mengarah pada konflik adalah sesuatu yang normal.
Atau, mereka akan mencari diksi kata yang menipu, dengan mengatakan: ”Konflik kepentingan itu tidak ada. Yang ada hanya perbedaan.” Sungguh hal tersebut tidak boleh terjadi. Sebab, perbedaan dan konflik itu dua hal yang beda tipis.

Dengan kembalinya Gusdurian ke PKB, konflik akan teratasi, perbedaan akan dihapus. Jika itu berhasil, sudah pasti di tempat lain, di parpol Islam lain, di komunitas muslim lain, konflik pasti bisa diatasi, dan perbedaan kepentingan bisa ditangani. Sebaliknya, jika Gusdurian makin jauh dari PKB, keteladanan apa lagi yang bisa diharapkan dari mereka? Wallahu a’lam bissawab. (*)

*) Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; alumnus Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; alumnus Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; wakil ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren Se-Indonesia); pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010–2015.

Tags: Gus DurPartai IslamPKB

Berita Terkait.

Petugas
Nasional

PTK Kembalikan Kehidupan di Mangrove Kariangau, Satwa dan Flora Terus Bertambah

Selasa, 25 Agustus 2026 - 03:10
Tito
Nasional

Mendagri Pastikan Bantuan Kemasyarakatan Presiden untuk Bencana di NTT Sudah Ditransfer

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:06
Cluster
Nasional

PN Tangerang Kabulkan Sebagian Gugatan Ahli Waris Yuamah: Kebenaran Lebih Terang dari Cahaya

Senin, 24 Agustus 2026 - 22:25
Prabowo
Nasional

IBSW Nilai Langkah Prabowo Hadapi Karhutla Sudah Tepat dan Terukur

Senin, 24 Agustus 2026 - 22:15
Mendagri
Nasional

Rapat Bersama Presiden Prabowo, Mendagri Tito Dorong Pencegahan Karhutla di Riau Diperkuat

Senin, 24 Agustus 2026 - 22:05
Abdul-Muti
Nasional

Program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026, Mendikdasmen: Prioritaskan Sekolah Terdampak Gempa Flores

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:24

BERITA POPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.