• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Pentingnya Nikah Terencana

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 12 September 2021 - 23:07
in Nasional
Ilustrasi - Perikahan. Foto: Pexel

Ilustrasi - Perikahan. Foto: Pexel

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Deklarasi Hak-hak asasi manusia (1948) menyatakan bahwa Pernikahan anak bagi laki-laki dan perempuan merupakan kekerasan terhadap hak asasi manusia. Untuk kedua belah pihak Pernikahan usia anak mempunyai dampak terhadap fisik, intelektual, psikologi, dan emosional. Pernikahan anak ditengarai menjadi salah satu penyebab perceraian, penyebab angka kesakitan akibat fungsi reproduksi yang belum siap dan angka kematian ibu serta lepasnya hak-hak anak untuk memperoleh pendidikan, memanfaatkan potensi ekonomi, menikmati masa untuk berkembang dan menyatakan identitas diri dan lain sebagainya.

Pernikahan usia anak juga menyebabkan pelaku terpaksa putus sekolah dan menghalangi perkembangan pribadi anak-anak tersebut. Anak-anak dalam hal ini perempuan dan laki-laki sudah harus dihadapkan pada kenyataan untuk memikul tanggung jawab sebagai ibu atau ayah. Pertumbuhan kejiwaan dan fisik dipercepat dengan adanya tanggung jawab tersebut.

BacaJuga:

Baznas Buka Jalan Pendidikan bagi 200 Mahasiswa Palestina, Rp22 Miliar Disiapkan

62,5 Persen Lulusan UAG Sudah Bekerja, Talenta Halal dan Sekolah Rakyat Diperkuat

Wamendagri Ribka Haluk Dorong Percepatan Pendataan Warga Terdampak Konflik di Jayawijaya dan Lanny Jaya

Pernikahan anak masih banyak ditemui di seluruh dunia. Setiap tahunnya sebanyak 10 juta perempuan di dunia menikah pada usia kurang dari 18 tahun. Hal ini menyebabkan angka kematian ibu dan anak, penularan infeksi menular seksual, dan kekerasan semakin meningkat bila dibandingkan dengan perempuan yang menikah pada usia lebih dari 21 tahun.

Data saat ini mencatat bahwa sebanyak 18% penduduk dunia adalah remaja, sekitar 1,2 milyar jiwa. Remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun menurut WHO. Rentang usia ini merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psiklogis, maupun intelektual.

Rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk mencoba hal-hal baru merupakan ciri khas remaja. Hal tersebut tak jarang disertai dengan pengambilan keputusan yang ceroboh atau tidak berpikir panjang, seperti memutuskan untuk menikah muda/ pernikahan dini.

Pernikahan anak ini tidak dianjurkan karena ada beberapa alasan yang kuat, JIka terjadi kehamilan di usia masih muda, leher rahim yang berpotensi kanker masih terbuka. Serviks atau leher rahim adalah bagian yang menghubungkan vagina dengan rahim. Ketika seorang perempuan menikah di usia di bawah 20 tahun, bagian serviks yang berpotensi terserang kanker masih terbuka. Ketika usia menginjak 21 tahun, bagian itu sudah lebih tertutup.

Setiap hari, ada 50 perempuan Indonesia meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks merupakan penyerang nomor dua terbanyak bagi perempuan setelah kanker payudara. Kanker serviks dipicu serangan human papillomavirus (HPV) pada sel-sel leher rahim. Di Indonesia, pada 2018 lalu terdapat 18.279 kematian akibat kanker serviks. Artinya, setiap hari ada 50 perempuan yang meninggal karena kanker ini.

Pada usia muda, organ reproduksi belum berkembang sempurna. Kehamilan maupun proses persalinan pada usia muda memiliki risiko atau komplikasi yang berbahaya. Perempuan yang melahirkan sebelum usia 15 tahun memiliki risiko kematian 5 kali lebih besar daripada perempuan yang melahirkan pada usia lebih dari 20 tahun. Kematian pada ibu hamil usia 15-19 tahun lebih sering dijumpai di negara dengan pendapatan yang menengah ke bawah.

Bayi yang lahir dari perempuan usia kurang dari 18 memiliki risiko mortilitas dan mobbiditas 50% lebih besar daripada bayi yang lahir dari ibu usia di atas 18 tahun. Bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu yang masih usia muda umunya lahir prematur, BBLR, dan perdarahan persalinan Informasi kesehatan reproduksi remaja hanya diketahui oleh 35,3% remaja perempuan dan 31,2% remaja laki-laki.

Pendidikan dan pemberdayaan pada remaja sangatlah penting untuk menghindari terjadinya pernikahan dini. Peran pemerintah dan tenaga kesehatan juga orang tua sangatlah penting dalam menyampaikan informasi kesehatan reproduksi remaja. Jika upaya untuk mengurangi pernikahan dini bisa tercapai, maka angka kematian ibu, bayipun dan stunting akan menurun. Inilah kenapa betapa kesiapan usia pernikahan itu sangat penting. Minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

Menurut siapnikah.org yang dibangun BKKBN bersama Rumah Perubahan, sebelum memutuskan untuk membangun rumah tangga, sebaiknya membaca

Muktiani Asrie Suryaningrum SSos MPH. Foto: Ist

Sepuluh pedoman siap nikah ini:

1. Kesiapan Usia

Usia ideal minimal 25 tahun bagi laki-laki dan minimal 21 tahun bagi perempuan. Angka 25 tahun dan 21 tahun ini tidak ditentukan asal-asalan, tapi berdasar riset panjang. Berdasarkan riset, seseorang secara fisik, psikologis, hingga finansial, lebih siap masuk ke jenjang pernikahan dibandingkan jika dia menikah di usia sebelum itu.

2. Kesiapan Fisik

Berkeluarga butuh kesiapan fisik, untuk bekerja mencari nafkah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hingga melakukan aktivitas seksual. Karena itu, jika kamu memiliki riwayat penyakit seperti darah rendah, darah tinggi, hepatitis, atau penyakit menular seksual, harus berobat dulu sebelum menikah. Supaya kamu dan pasanganmu benar-benar fit dan siap membangun keluarga berkualitas.

3. Kesiapan Finansial

Uang memang bukan segala-galanya, tapi untuk menjalankan roda rumah tangga pasti membutuhkan uang. Karena itu, dalam merencanakan pernikahan, persiapan finansial juga diperlukan. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, persiapan kehamilan, perawatan anak, bahkan hingga biaya pendidikan anak.

Karena itu, pastikan sebelum menikah kamu sudah memiliki sumber pendapatan tetap, misalnya pekerjaan sebagai karyawan atau berwirausaha. Setidaknya, saat berkeluarga, kita bisa mandiri secara finansial, tidak membebani atau tergantung pada orang tua atau keluarga lainnya.

4. Kesiapan Mental

Hidup berkeluarga tidak selamanya mulus atau indah seperti saat masih pacaran. Terkadang ada hal yang tidak sesuai harapan. Sifat pasangan, kondisi ekonomi pasangan, sikap mertua dan keluarga besar, termasuk tantangan mendidik anak di era digital. Pola hidup di masa lajang dan saat berkeluarga juga akan berubah. Semuanya butuh kesiapan mental.

5. Kesiapan Emosi

Nah ini juga penting. Coba kamu ingat, bagaimana responsmu saat menghadapi tekanan. Misalnya, saat menghadapi deadline pekerjaan, saat tersinggung dengan ucapan atau perilaku orang lain, atau saat debat karena beda pendapat. Jika kamu masih suka berteriak, marah-marah, sampai melempar barang ketika berbeda pendapat, maka kamu harus belajar mengelola emosi dulu sebelum menikah.

6. Kesiapan Sosial

Manusia tidak hanya makhluk individual, tapi juga sosial. Karena itu, kemampuan bersosialisasi sangat penting dalam kehidupan keluarga. Bersosialisasi dengan teman-teman pasangan, dengan lingkungan yang baru, maupun dalam organisasi. Mengasah jiwa kerelawanan sosial juga bisa menjadi bekal berharga sebelum masuk jenjang pernikahan.

7. Kesiapan Moral

Moralitas berlaku universal, apapun agamanya. Kesiapan moral sangat penting untuk mengontrol perilaku agar dalam berkeluarga bisa memegang etika. Misalnya, menaati perintah Tuhan Yang Maha Kuasa, berlaku jujur, bersabar kala menghadapi ujian, hingga tidak menggunakan barang milik orang lain tanpa izin.

8. Kesiapan Interpersonal

Kemampuan interpersonal ini terkait dengan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan interpersonal akan bisa menjadi pendengar yang baik saat orang lain curhat, berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang, hingga mampu berdiskusi dan mendengar pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan.

9. Keterampilan Hidup

Keterampilan sangat dibutuhkan dalam hidup. Ketika berkeluarga, keterampilan itu makin dibutuhkan. Misalnya, keterampilan dasar seperti merapikan dan membersihkan rumah, memasak, mengasuh dan mendidik anak, menjalankan peran suami/istri. Merawat organ reproduksi hingga pengetahuan alat kontrasepsi untuk pengaturan jarak kehamilan juga menjadi keterampilan yang harus dimiliki.

10. Kesiapan Intelektual

Dalam berkeluarga, kemampuan intelektual bisa tercermin dari aktivitas pencarian informasi seputar kehidupan keluarga. Jika kamu sudah mencari informasi untuk mendapat pengetahuan seputar kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, pola hidup sehat, dan lainnya, maka kamu sudah memiliki bekal berharga sebelum menikah. (*)

Muktiani Asrie Suryaningrum SSos MPH,
Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya BKKBN/Pengurus Pusat Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI)

Tags: bkkbnkeluargaPernikahan

Berita Terkait.

Baznas
Nasional

Baznas Buka Jalan Pendidikan bagi 200 Mahasiswa Palestina, Rp22 Miliar Disiapkan

Kamis, 10 September 2026 - 08:45
ari
Nasional

62,5 Persen Lulusan UAG Sudah Bekerja, Talenta Halal dan Sekolah Rakyat Diperkuat

Kamis, 10 September 2026 - 08:30
ribka
Nasional

Wamendagri Ribka Haluk Dorong Percepatan Pendataan Warga Terdampak Konflik di Jayawijaya dan Lanny Jaya

Rabu, 9 September 2026 - 22:42
bima
Nasional

Wamendagri Bima Arya: Ketahanan Bencana Dibangun Sejak Perencanaan Pembangunan

Rabu, 9 September 2026 - 22:22
dasco
Nasional

DPR Minta Pencarian Optimal Hilangnya 5 Jurnalis saat Liputan Erupsi Anak Krakatau

Rabu, 9 September 2026 - 22:12
pelajar
Nasional

PISA 2025 Indonesia Naik, P2G Sorot Tingginya Angka Perundungan Murid

Rabu, 9 September 2026 - 20:02

OLAHRAGA

bowo
Olahraga

Asian Games 2026: Selain Bonus Menggiurkan, Prabowo Janjikan Karier Atlet Berprestasi Dipacu

Editor Nelly Marinda Situmorang
Kamis, 10 September 2026 - 10:30

INDOPOSCO.ID – Presiden Prabowo Subianto memastikan perjuangan atlet Indonesia di Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026 di Jepang akan mendapat apresiasi...

SelengkapnyaDetails
persija

Persija Pastikan Jamu Persib di SUGBK Akhir Pekan Ini, Jakmania Auto Happy

Kamis, 10 September 2026 - 07:07
wo

Prabowo Siapkan Bonus Rp3 Miliar untuk Peraih Emas Asian Games 2026

Kamis, 10 September 2026 - 06:06
bowo

Rela Bertanding saat Cedera Rusuk, Prabowo Minta Semangat Atlet Equestrian Dicontoh

Kamis, 10 September 2026 - 05:05
games

Badai dan Banjir Terjang Nagoya, Latihan Kontingen Indonesia Asian Games 2026 Terancam Terganggu

Rabu, 9 September 2026 - 21:21

BERITA POPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.