• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Olahraga

Semangat “Olimpisme” Sohn Kee-Chung Bergema Lagi Dalam Olimpiade Tokyo

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Rabu, 14 Juli 2021 - 19:19
in Olahraga
Son Chung-in berpose bersama foto ayahnya, Sohn Kee-chung, yang menjuarai nomor maraton Olimpiade Berlin 1936, saat wawancara dengan Reuters di Yokohama, Jepang, 8 Juli 2021. Foto: Antara/Reuters/Chang-Ran Kim

Son Chung-in berpose bersama foto ayahnya, Sohn Kee-chung, yang menjuarai nomor maraton Olimpiade Berlin 1936, saat wawancara dengan Reuters di Yokohama, Jepang, 8 Juli 2021. Foto: Antara/Reuters/Chang-Ran Kim

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Jauh sebelum dua sprinter Amerika Serikat Tommie Smith dan John Carlos mencatat sejarah lewat salut Black Power (Kuasa Kulit Hitam) dalam Olimpiade 1968, gambaran pedih lainnya mengenai protes diam terukir dalam hati nurani warga Korea yang terlupakan dunia.

Pada Olimpiade 1936 di Berlin, Sohn Kee-chung dari Korea berdiri sambil menahan malu dengan menyembunyikan bendera Matahari Terbit di dadanya dengan tanaman hias saat lagu kebangsaan Jepang memenuhi stadion untuk menghormati kemenangannya dalam nomor maraton. Momen itu membuat dirinya dipenuhi “penghinaan tak terkirakan” yang menandai awal dari sebuah bab menyedihkan dalam hidupnya, kata dia dalam otobiografinya.

BacaJuga:

Persija vs Persebaya, Shin Tae-yong Wanti-wanti Pemain Tidak Lengah

Jamu Persebaya, Persija Usung Misi Bangkit di Hadapan Jakmania

Gaspol di Mandalika, Pertamina Dukung Regenerasi Pebalap Indonesia lewat MRS 2026

Khawatir bahwa kemenangannya bakal memicu pemberontakan dari etnis Korea, Jepang yang menjajah Korea dari 1910 hingga 1945- melarang Sohn berlomba dengan berada di bawah pengawasan ketat, dan bahkan memanfaatkan statusnya yang terkenal untuk merekrut pemuda- pemuda Korea sebagai bala tentara Jepang. Sohn menyebut mobilisasi pemuda Korea itu sebagai “penyesalan terbesar” dalam hidupnya.

Namun setelah itu, Sohn tidak memendam kebencian terhadap negara bekas penindas Korea itu dan mendedikasikan hidupnya untuk mempromosikan “Olimpisme” atau perdamaian melalui olahraga, khususnya antara Jepang dan Korea, kata putranya, Chung-in, kepada Reuters dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

“Yang dia idam-idamkan adalah kedua belah pihak mengenali apa yang terjadi di masa lalu sehingga kita tidak mengulanginya dan sebaliknya menatap ke depan,” kata Chung-in, dikutip dari Antara.

Topik tidak mengenakkan hati

Di tengah hubungan bilateral pada titik nadir saat ini yang sebagian besar akibat kekejaman masa perang, pesan Sohn tetap relevan, kata Zenichi Terashima, profesor emeritus pada Universitas Meiji di Tokyo yang menerbitkan biografi pelari itu dua tahun lalu.

Untuk semua upaya rekonsiliasi Sohn, Jepang memiliki hubungan yang canggung dengan dia dan warisannya, kata Terashima yang berbicara bersama putra Sohn.

Sohn adalah pahlawan nasional Korea Selatan, tetapi hanya sedikit warga Jepang yang pernah mendengarnya, meskipun medalinya tetap menjadi satu-satunya medali emas Olimpiade dari nomor maraton putra di Jepang.

Hanya pengunjung museum Olimpiade baru di Tokyo yang bermata elanglah yang bisa melihat dua hal yang dimaksud Sohn: satu saat tampil sebagai peraih medali emas Jepang dan satu lagi sebagai pembawa obor Olimpiade untuk Olimpiade Seoul pada 1988 yang ditampilkan sebagai pelari kirab obor Olimpiade terakhir.

“Dia adalah topik yang tidak nyaman di Jepang,” kata Terashima yang mengaku terdorong mempublikasikan kisah hidup Sohn di tengah apa yang dia anggap sebagai kebangkitan revisionisme sejarah di kalangan elit konservatif Jepang.

Ranting zaitun

Sohn menghindari politik dan memperluas ranting zaitun (simbol perdamaian) di mana pun dia melihat peluang.

Ketika pelari Jepang Shigeki Tanaka memenangkan maraton Boston pada 1951, Sohn mengiriminya pesan ucapan selamat dengan menyebut kemenangan sang atlet sebagai “kemenangan Asia”, kata putranya. Dia tak mau menggunakan namanya dalam pelafalan Jepang, Son Kitei, yang menjadi bukti keras dia orang yang teguh menggunakan bahasa Korea bahkan pada 1936.

Seharusnya itu momen yang pahit. Tahun sebelumnya, Sohn melatih tim Korea yang menyapu tempat pertama, kedua dan ketiga dalam lomba, hanya untuk ditolak masuk pada 1951 saat Perang Korea berkecamuk.

Dalam Olimpiade Seoul 1988, Sohn diam-diam berencana memberikan replika helm Korintus kuno yang diberikan kepadanya sebagai pemenang maraton Berlin kepada seorang pelari Jepang seandainya memenangkan medali, kenang putranya.

Sohn gembira sekali saat Jepang dan Korea Selatan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2002. Dia memerintahkan putranya untuk membantu menyukseskannya sehingga “masa lalu biarlah menjadi masa lalu demi awal yang baru”, kata Chung-in. Sohn meninggal dunia beberapa bulan setelah kejadian itu.

Mencairnya hubungan bilateral ternyata hanya singkat, tetapi “ayah saya meninggal dunia dalam bahagia,” kata Chung- in.

Dinginnya diplomatik saat ini tumpah juga ke Olimpiade dalam bentuk perselisihan teritorial mengenai penyebutan serangkaian pulau, baik dalam Olimpiade Pyeongchang pada 2018 maupun Olimpiade tahun ini.

Tapi Terashima mengatakan “Olimpisme” yang dimajukan Sohn berkembang pesat dalam aktivisme Naomi Osaka saat ini dan persahabatan lintas batas yang dijalin dua atlet speedkate Nao Kodaira dan Lee Sang-hwa, yang pelukan emosionalnya setelah lomba mereka di Pyeongchang, terbungkus dalam bendera Jepang dan Korea.

“Ayah saya suka bilang bahwa dalam perang, tak peduli Anda menang atau kalah, kalau peluru sudah mengenai Anda, Andalah yang mati,” kata Chung- in.” Tapi dalam olahraga, sekalipun Anda kalah, Anda masih bisa berkawan. (mg3)

Tags: Olimpiade TokyoSohn Kee-Chung

Berita Terkait.

STY
Olahraga

Persija vs Persebaya, Shin Tae-yong Wanti-wanti Pemain Tidak Lengah

Sabtu, 7 November 2026 - 15:45
witan
Olahraga

Jamu Persebaya, Persija Usung Misi Bangkit di Hadapan Jakmania

Sabtu, 7 November 2026 - 09:35
Sirkuit Mandalika
Olahraga

Gaspol di Mandalika, Pertamina Dukung Regenerasi Pebalap Indonesia lewat MRS 2026

Jumat, 6 November 2026 - 21:21
rafael
Olahraga

PSIM vs Dewa United: Asa ke Puncak, Banten Warriors Pantang Terpeleset

Jumat, 6 November 2026 - 11:21
bola
Olahraga

Super League Pekan 9: Ada Big Match Persija vs Persebaya, Persib Main di Ujung Laga

Jumat, 6 November 2026 - 08:51
noc
Olahraga

ITTF Dukung Penuh Indonesia, Bali Kebagian 2 Turnamen WTT Youth 2027

Kamis, 5 November 2026 - 19:19

OLAHRAGA

STY
Olahraga

Persija vs Persebaya, Shin Tae-yong Wanti-wanti Pemain Tidak Lengah

Editor Juni Armanto
Sabtu, 7 November 2026 - 15:45

INDOPOSCO.ID - Pelatih Persija Jakarta Shin Tae-yong meminta anak asuhnya tetap waspada saat menghadapi Persebaya Surabaya pada pekan kesembilan Super...

SelengkapnyaDetails
witan

Jamu Persebaya, Persija Usung Misi Bangkit di Hadapan Jakmania

Sabtu, 7 November 2026 - 09:35
Sirkuit Mandalika

Gaspol di Mandalika, Pertamina Dukung Regenerasi Pebalap Indonesia lewat MRS 2026

Jumat, 6 November 2026 - 21:21
rafael

PSIM vs Dewa United: Asa ke Puncak, Banten Warriors Pantang Terpeleset

Jumat, 6 November 2026 - 11:21
bola

Super League Pekan 9: Ada Big Match Persija vs Persebaya, Persib Main di Ujung Laga

Jumat, 6 November 2026 - 08:51

BERITA POPULER

  • Kalahkan Juara Olimpiade, Ceyco Georgia Raih Emas dan Zaskia Sabet Perak

    Kalahkan Juara Olimpiade, Ceyco Georgia Raih Emas dan Zaskia Sabet Perak

    3346 shares
    Share 1338 Tweet 837
  • Heboh Isu Jenderal Polisi Ditangkap terkait Penyadapan Prabowo, Polri Bilang Begini

    2313 shares
    Share 925 Tweet 578
  • Penggerebekan Ponpes Hamalatul Qur’an Berbuntut Panjang, MUI Layangkan 5 Tuntutan ke Polri

    1878 shares
    Share 751 Tweet 470
  • Cabor Bulutangkis dan Panjat Tebing Dicoret, NOC Indonesia Soroti SEA Games 2027

    1183 shares
    Share 473 Tweet 296
  • Bachtiar Nasir Tegaskan Penolakan Konser Andrea Bocelli Berlandaskan Nilai Kemanusiaan

    880 shares
    Share 352 Tweet 220
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.