Nasional

Penuntasan Kasus ‘Obstruction of Justice’ Dinilai akan Antiklimaks

INDOPOSCO.ID–  Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto berpendapat penuntasan skandal rombongan personel Polri yang terlibat menghalangi penyidikan (obstruction of justice) pembunuhan berencana Brigadir J akan antiklimaks.

“Kalau melihat hanya lima orang yang disebut pelaku obstruction of justice dari 83 orang yang dimintai keterangan dan 35 orang yang diperiksa, sepertinya penuntasan skandal rombongan ini akan antiklimaks,” kata Bambang kepada ANTARA, saat dihubungi melalui pesan instans di Jakarta, Jumat malam.

Bambang menilai tidak ada progres (kemajuan) yang signifikan dari penuntasan kasus “bedol desa” terlibat menghalangi penyidikan, karena setelah 40 hari kasus penembakan Brigadir J berlalu, penyidik hanya menetapkan lima orang sebagai pelanggar obstruction of justice.

“Apakah ini disebut progres yang signifikan,” kata Bambang dengan nada bertanya.

Melihat progres tersebut, menurut Bambang, seperti asumsi publik selama ini bahwa proses etik yang dijalankan institusi Polri hanya seremonial untuk melindungi personel pelanggar dan menenangkan tuntutan masyarakat.

Baca Juga: Komnas HAM Selidiki Dugaan “Obstruction of Justice” di Rumah Dinas Sambo

Agar asumsi tersebut tidak benar, kata Bambang, harus ada political will dari Presiden maupun parlemen untuk menuntaskan kasus tersebut dan membangun sistem kontrol pada kepolisian.

“Tanpa ada political will, saya pesimis Kapolri akan mampu menuntaskan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat,” ucap Bambang.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button