Nasional

Jubir G20 Ungkap Data Pentingnya Literasi Keuangan Digital Anak Muda

INDOPOSCO.ID – Juru Bicara Presidensi G20 Indonesia, Maudy Ayunda, mengungkapkan data-data yang mendukung pentingnya pembahasan mengenai literasi keuangan digital khususnya bagi anak-anak muda didorong dalam forum internasional itu sehingga lewat Keketuaan Indonesia diajang G20 2022 maka visi “Recover Together, Recover Stronger” bisa terealisasi dengan baik.

Maudy mengatakan sudah banyak program yang dicanangkan oleh Pemerintah, namun masih diperlukan partisipasi banyak orang untuk mewujudkan terjadinya peningkatan literasi keuangan digital khususnya bagi anak-anak muda sehingga platform digital itu bisa lebih produktif digunakan.

“Masih banyak lagi program yang dilakukan pemerintah yang berkolaborasi dengan banyak pihak untuk meningkatkan literasi digital dan keuangan digital. But of course, there is still room for more action,” ujar Maudy dikutip dari keterangannya di Jakarta, seperti dikutip Antara, Jumat (29/4/2022).

Maudy pun mengungkapkan data, selama pandemi Covid-19 percepatan digitalisasi di Tanah Air saja terasa sangat nyata.

Ada banyak layanan- layanan yang sebelumnya hanya bisa diakses secara langsung, kini bisa didapatkan secara daring dengan sentuhan jari dari berbagai sektor layanan seperti transportasi, kesehatan, hingga keuangan.

Dengan kekuatan digitalisasi yang kuat itu tentunya bagi Indonesia pemulihan ekonomi pascapandemi sebenarnya bisa didapatkan dengan mudah.

Apalagi mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat persentase anak muda produktif di Tanah Air kini mencapai 52 persen lebih.

“Bayangkan jika semua anak muda melek digital. Dengan jumlah tersebut tentu akan menjadi efek bola salju untuk memajukan bangsa,” katanya.

Meski begitu ia tidak menutup mata dan melihat masih ada tantangan yang besar untuk menggenapi hal itu karena di Tanah Air masih ada kesenjangan infrastruktur, di antaranya akses internet yang masih belum merata.

Berdasarkan riset Indonesia Youth Diplomacy dan Cint 2021 sebanyak 61 persen anak muda di negara anggota G20 masih mengalami kesulitan dalam dalam beberapa hal di tengah digitalisasi seperti akses internet, koneksi yang tidak stabil dan lambat, atau persoalan harga yang belum terjangkau.

Maudy juga mengungkapkan data lainnya, berdasarkan laporan Bank Dunia rata- rata masyarakat Indonesia menghabiskan enam sampai sembilan jam beraktivitas di dunia maya.

“Tapi hanya tiga persen di antaranya yang memiliki nilai komersial. We are clearly using the internet a lot. But not transacting online enough,” ujar Maudy.

Penting karenanya penguatan literasi digital dan keuangan digital di kalangan anak muda dilakukan sehingga selain memberi banyak manfaat di masa depan, juga mengasah keterampilan bahkan ilmu bisnis dari para anak- anak muda itu.

Adanya literasi keuangan digital juga diharapkan dapat memudahkan dan mengamankan proses transaksi dan data di dunia digital.

Harapan itu muncul berkaca dari data Bank Dunia yang menunjukkan masih ada 59 persen masyarakat Indonesia yang tidak memiliki akses keuangan, bahkan tidak mengetahui manfaat menggunakan layanan keuangan digital.

“Ini mengapa kita perlu mendorong kesadaran digital agar lebih banyak masyarakat dan anak muda yang dapat langsung merasakan manfaatnya,” ujar Maudy.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button