Nasional

Kejar Cita-Cita Petani Sawit, Ini Misi Apkasindo pada 2022

INDOPOSCO.ID – Menghadapi 2022, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menyadari tantangan yang lebih besar bagi petani kelapa sawit secara keseluruhan dan secara khusus, terlebih karena masih kurangnya penyerapan dana Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), tenggat waktu sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang semakin mendekat (Wajib ISPO 2025), bagaimana

mempertahankan harga TBS pada level balance, menekan kenaikan harga SARPRAS, lambatnya Implementasi UUCK dan yang terakhir yaitu tumbuh berkembangnya NGO dengan melibatkan Perguruan Tinggi dalam merancang dan membujuk pemerintah untuk menerbitkan regulasi yang justru merugikan sawit Indonesia, terkhusus petani sawit.

Karenanya, memasuki 2022, Apkasindo memiliki misi menjawab isu strategis untuk mencapai cita-cita petani kelapa sawit Indonesia. Ketua Umum Apkasindo Dr Ir Gulat ME Manurung MP CAPO didampingi Sekretaris Jenderal DPP Apkasindo Rino Afrino ST MM mengatakan, misi itu yang pertama, Harga Tandan Buah Segar (TBS). Tren peningkatan rata 2 kali harga TBS di sepanjang 2021 menunjukkan peningkatan 42,47 persen dibandingkan rata 2 dua harga TBS di sepanjang 2020. Hal ini sangat berdampak pada pendapatan petani dan kegiatan roda ekonomi di sentra sentra kelapa sawit.

”Namun demikian masih banyak pekerjaan rumah terkait proses penetapan harga yang masih terjadi keberagaman dan ketimpangan antar provinsi. Baik dalam tatanan penetapan harga tingkat provinsi maupun tatanan harga yang dikeluarkan pabrik kelapa sawit,” ujarnya dalam Refleksi Sawit Rakyat 2021 secara daring dengan tema ‘ Masa Depan Petani Sawit Indonesia dengan Konsep Kemitraan dan Berkelanjutan’.

Baca Juga: Polda Banten Ungkap Empat Kasus Penjualan Lobster Ilegal

Pada semester dua pada 2021, lanjut Gulat, petani kelapa sawit dikejutkan oleh kenaikan harga pupuk yang mencapai 100 persen. Hal ini sangat mempengaruhi harga pokok produksi petani yang dapat berdampak petani mengurangi/menunda pemupukan yang berimplikasi penurunan produksi TBS di tahun depan. ”Karenanya, Apkasindo bertekad untuk mengawal peningkatan harga TBS tanpa disertai

peningkatan harga elemen support lainnya,” tandasnya.

Misi kedua, lanjut Gulat, penyelesaian legalitas kebun sawit rakyat. UUCK beserta Turunannya –PP dan PermenLHK– telah memberikan jalan dalam penyelesaian lahan petani sawit dalam Kawasan hutam. Gulat menyampaikan bahwa pada 2021, Apkasindo telah secara proaktif menggiatkan inventarisasi lahan petani kelapa sawit dengan total 42.775 Ha, yang tersebar di provinsi Sumatera Utara, Riau,

Kalimantan Barat, Kalimantan Timur Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button