Nasional

Survei: Minat Masyarakat Indonesia pada Vaksinasi Tinggi

INDOPOSCO.ID – Direktur Ilmu Komunikasi dan Penelitian dari Johns Hopkins Center for Communication Programs, Douglas Storey mengatakan minat masyarakat Indonesia terhadap kegiatan vaksinasi cukup tinggi.

“Lebih banyak yang menyatakan pasti atau lebih mungkin divaksin sekitar 67 persen dibandingkan mereka yang melaporkan tidak akan divaksin,” ucap Douglas dalam webinar Urgensi Percepatan Vaksinasi Kelompok Rentan, Antisipasi Gelombang Ketiga COVID-19 yang diikuti di Jakarta, Rabu (13/10).

Data tersebut, digabungkan bersama beberapa pihak, semacam Universitas Maryland dan Universtas Carnegie Mellon, setelah melakukan survey yang dicocokkan dengan usia pada Mei sampai September lalu melalui akun Facebook pada para pengguna Facebook secara random.

Douglas mengatakan bersumber pada data dashboard yang dimiliki, dalam waktu 5 bulan terakhir persentase masyarakat yang berupaya memperoleh vaksin juga terus menjadi meningkat.

Ia memberikan contoh pada bulan September sebesar 33 persen masyarakat Indonesia berupaya untuk memperoleh vaksin.“ Ini dari responden yang belum divaksin, jadi masih banyak yang mencoba dapat vaksin itu. Ini adalah hal yang bagus,” ucap Douglas.

Meski atensi masyarakat terhadap vaksinasi di Indonesia besar, Douglas berambisi pemerintah dapat mengantarkan catatan pada masyarakat lebih berpusat pada bagaimana cara vaksin bekerja dan testimoni vaksinasi mengingat masih ada masyarakat yang ragu untuk divaksinasi.

“Jadi, implikasinya penyampaian pesan perlu difokuskan pada keamanan vaksin yang telah terbukti dan efek samping akibat COVID-19,” ungkapnya.

Direktur Projek MyChoice dari Johns Hopkins Center for Communication Programs, Yunita Wahyuningrum mengatakan meskipun minat vaksinasi di Indonesia terbilang tinggi, masyarakat masih sering abai terhadap protokol kesehatan.

“Kalau kita melihat data (dashboard) di sini, level tingkat persepsi orang terhadap bahaya dari COVID-19 di Indonesia relatif lebih rendah, dibandingkan negara-negara lain,” kata Yunita.

Bersumber pada data yang ia miliki, rendahnya persepsi tersebut, karena 78 persen orang percaya bahwa seluruh orang telah memakai masker dan 75 persen orang percaya bahwa nyaris seluruh atau mayoritas orang saat ini telah divaksinasi.

Lebih lanjut, ia berkata masyarakat yang menjaga jarak dan menjauhi kontak masih rendah, alhasil dibutuhkan suatu usaha supaya hal tersebut jadi suatu kebiasaan baru dalam norma di masyarakat.

“Masih cukup rendah menjaga jarak, kemudian menghindari kontak. Ini yang nampaknya masih perlu menjadi bagian upaya kita untuk menjadikan norma sosial, karena menjaga jarak juga menjadi bagian dari tindakan pencegahan,” ujar dia.

Yunita menjelaskan untuk mengubah perilaku tersebut, selain menginformasikan soal vaksinasi, pemerintah sebagai sumber yang dipercaya publik perlu memberikan informasi terkait hal-hal lain yang tidak hanya sebatas pandemi atau COVID-19 saja.

Informasi-informasi itu, kata dia, dapat menarik perhatian masyarakat untuk lebih peduli pada kesehatan, misalnya ekonomi atau kesehatan mental yang terdampak akibat COVID-19.

“Lingkaran yang menunjukkan topik yang sekarang ingin diketahui orang terkait dengan masa pandemi ini adalah dampak ekonomi. Masalah ekonomi menjadi informasi yang dianggap penting oleh audiensi kita, misalnya dampak ekonomi dan yang ingin diketahui (soal) mental health,” ucap dia. (mg4)

Back to top button