Internasional

Presiden Ukraina Kembali Serukan Zona Larangan Terbang

INDOPOS.CO.ID – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan komunitas internasional akan bertanggung jawab atas bencana kemanusiaan massal jika tidak menyetujui zona larangan terbang untuk melindungi negaranya.

Dalam pidato yang disiarkan televisi setiap hari, dia mengatakan tingkat ancaman di Ukraina sudah pada tingkat maksimum hampir dua minggu setelah invasi Rusia. Namun Ukraina telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan pernah menyerah.

“Rusia menggunakan rudal, pesawat dan helikopter untuk melawan kami, melawan warga sipil, melawan kota-kota kami, melawan infrastruktur kami. Adalah tugas kemanusiaan dunia untuk merespons,” kata Zelenskky seperti dilansir Sky News, Rabu (9/3/2022).

Baca Juga : Saat Rusia Serang Ukraina, China Incar Indo-Pasifik

Gencatan senjata sementara untuk memungkinkan warga sipil melarikan diri dari kota-kota yang terkepung diberlakukan di beberapa bagian Ukraina, meskipun Rusia gagal memenuhi janji pada hari-hari sebelumnya.

Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk mengatakan Ukraina akan mencoba mengevakuasi warga sipil melalui enam “koridor kemanusiaan”, termasuk dari kota pelabuhan Mariupol selatan yang terkepung pasukan Rusia.

Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan video bahwa angkatan bersenjata Ukraina telah setuju untuk berhenti menembak di daerah-daerah itu dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam waktu setempat dan mendesak pasukan Rusia untuk memenuhi komitmen mereka terhadap gencatan senjata lokal.

Dia mengatakan koridor yang akan yakni dari Mariupol ke Zaporizhzhia; Enerhodar ke Zaporizhzhia; Sumy ke Poltava; Izyum ke Lozova; Volnovakha ke Pokrovsk; dan dari beberapa kota di sekitar Kyiv yang dia identifikasi sebagai Vorzel, Borodyanka, Bucha, Irpin dan Hostomel ke ibu kota.

Pengungsi meninggalkan kota Enerhodar di Ukraina selatan pada Rabu, kata wali kotanya dalam sebuah pernyataan di media sosial. Enerhodar adalah situs pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa dari jenisnya.

Serangan Rusia di daerah itu memicu peringatan minggu lalu ketika bagian dari fasilitas pabrik dibakar. Pabrik tetap di bawah kendali Rusia.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button