• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Ancaman Zoonosis dan Reaksi G-20

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 5 Juni 2022 - 02:22
in Gaya Hidup
zoonosis

Ilustrasi – Zoonosis, Foto : Antara/HO-Sutterstock

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Sejak masa lampau, manusia, hewan dan lingkungan menjalin kaitan yang tak terpisahkan dalam ekosistem kehidupan di planet bumi. Manusia bertahan hidup dengan bercocok tanam hingga memelihara hewan.

Sayangnya, manusia menempatkan kepentingan mereka di atas makhluk hidup lain dengan cara mengeksploitasi keberlangsungan hidup hewan maupun tanaman.

BacaJuga:

Rayakan School Holiday Lebih Seru dengan “Playcation Package” di All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Teaser Perdana “The East Palace” Dirilis, Nam Joo Hyuk dan Roh Yoon Seo Berburu Arwah Penasaran di Istana Kerajaan

Lee Ye Jun Umumkan Comeback, Siap Rilis Single Emosional “Usan Eomneun Bam” pada 12 Juli 2026

Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan ekologi yang tak terhitung banyaknya, hingga muncul berbagai zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya) yang justru mengancam kehidupan manusia.

Berdasarkan lini masa penyakit zoonosis yang dilansir dari laporan The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, terdapat sekumpulan penyakit zoonosis, di antaranya Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang disebabkan virus dari simpanse dan sooty mangabey (1920), Avian Infectious Bronchitis yang ditularkan dari ayam ke manusia (1931).

West Nile Virus yang berasal dari burung (1937), Zika Virus yang dibawa hewan primata (1947), Ebola dari kalelawar pemakan buah (1976), Porcine Epidemic Diarrhea dari unta (2012).

Daftar zoonosis nyatanya tak berhenti di situ. Selama 19 tahun, ASEAN dan China menghadapi beberapa wabah yang disebabkan oleh zoonosis, seperti Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) dan flu burung (H5N1) pada 2003, serta SARS-CoV-2 pada 2019 hingga sekarang.

Baca Juga: Kemenkes Kategorikan Cacar Monyet sebagai Zoonosis

Yang terbaru adalah laporan peneliti dari Griffith University, Australia, menemukan varian Virus Hendra dari kelelawar pemakan buah yang bisa menular ke hewan dan manusia. Penyakit ini sebelumnya sempat muncul pada tahun 1994 dan 2016.

Terkait kasus kematian, HIV sejak kali pertama kali ditemukan sampai dengan saat ini telah menewaskan 36 juta jiwa dari seluruh penjuru dunia. Ebola yang mewabah sekitar 2013-2016 menyebabkan 11.325 kematian dari 28.600 orang yang terinfeksi.

Penyakit flu Spanyol dari virus H1N1 yang biasa menyerang burung memicu seperlima dari total sekitar 500 juta kasus dilaporkan meninggal dunia sepanjang kurun 1918 hingga 1920.

Belum lagi kematian akibat SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 menjadi penyebab 6,3 juta kematian di seluruh dunia dalam kurun 2019 hingga saat ini.

Studi CDC menyebutkan sekitar 60 persen penyakit di dunia diakibatkan oleh zoonosis. Sebanyak tiga dari empat penyakit menular baru (Infectious Emerging Disease/ IED) berasal dari hewan.

Penyebab

Dalam diskusi terakhir kalangan epidemiolog dunia, diperkirakan sekitar 10.000 virus dari hewan saat ini berpotensi menjadi wabah penyakit.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyebut begitu banyak kasus wabah yang sebelumnya jarang terjadi, kini menjadi lebih sering muncul di tengah masyarakat, salah satunya adalah cacar monyet atau Monkeypox.

Situasi itu memberi pesan penting bahwa dunia makin rentan terserang zoonosis akibat perilaku manusia itu sendiri. “Kita sering tanpa disadari atau disadari, merusak lingkungan yang menyebabkan ekosistem ini menjadi semakin tidak berjalan seperti biasanya. Itu karena kehidupan manusia dan hewan batasnya semakin tipis dan rusaknya ekosistem,” katanya.

Hasil penelitian kalangan epidemiolog menyebut fenomena zoonosis dipicu oleh punahnya sebagian hewan akibat kerusakan ekosistem, sehingga menyebabkan virus yang semula terkandung di inang hewan berpindah ke manusia mencari inang baru.

Dicky mengatakan bahwa perubahan iklim telah mempengaruhi harmonisasi hubungan manusia, hewan dan lingkungan. Keseimbangan tiga elemen itu sangat menentukan pelambatan atau percepatan kejadian wabah penyakit.

Untuk itu, manusia perlu secepatnya mengubah perilaku untuk menjaga kebersihan lingkungan serta menjaga kebiasaan hidup sehat untuk mengembalikan keseimbangan hubungan dengan hewan maupun lingkungan.

Kepada pemerintah, Dicky mendorong penguatan kebijakan pada aspek sistem deteksi, sistem surveilans, riset vaksin, riset obat-obatan, penguatan sumber daya manusia tenaga kesehatan hingga sistem ketahanan kesehatan.

Seluruh kebijakan itu diharapkan bisa melepas ketergantungan Indonesia pada hasil riset kesehatan luar negeri serta meningkatkan kemampuan mendeteksi ancaman wabah di masa depan. “Global health security lahir dari national health security dan dari local security,” katanya.

Pendekatan One health

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam agenda pertemuan Menteri Kesehatan se-ASEAN di Bali pada 15 Mei 2022 menyebut zoonosis sebagai akar dari permasalahan pandemi di dunia.

Untuk itu diperlukan komitmen bersama seluruh negara dalam memerangi ancaman kematian manusia akibat virus pada hewan melalu pendekatan One Health untuk harmonisasi hubungan manusia, hewan dan lingkungan.

Budi selaku pimpinan Menteri se-ASEAN periode 2020-2022 menegaskan komitmen Indonesia untuk mempromosikan pendekatan One Health dalam kerja sama ASEAN dan China di bidang kesehatan.

Kerja sama ASEAN-China di bidang kesehatan telah dimulai sejak 2003. Tonggak dalam hubungan tersebut kemudian dilembagakan oleh China pada 2006 untuk memperkuat komitmen kerja sama kesehatan ASEAN-China.

Mengingat sejarah kerja sama kedua negara dan mengambil pelajaran dari wabah zoonosis sebelumnya, Budi percaya bahwa Indonesia-China sebagai bagian dari anggota G-20 bisa memperkuat kapasitas deteksi dan mitigasi.

Upaya intervensi yang disepakati, di antaranya memperkuat kapasitas dan kapabilitas hingga ke daerah dengan mengoptimalkan platform berbagi informasi yang ada di ASEAN, seperti Jaringan Pusat Operasi Darurat ASEAN, dikombinasikan dengan komitmen untuk berbagi data Whole Genome Sequencing (WGS) secara terbuka melalui platform GISAID.

“Optimalisasi harus melibatkan data besar, kecerdasan buatan dan internet untuk memungkinkan pengawasan global terintegrasi secara real time terhadap penyakit manusia, hewan dan tumbuhan,” katanya.

Selain itu, Budi mendorong ASEAN-China untuk mengembangkan pusat dan jaringan penelitian regional.

Seperti yang telah dipelajari selama pandemi Covid-19, kata Budi, data genom global yang dipelajari oleh para peneliti telah memungkinkan penemuan dan pengembangan vaksin yang cepat serta menyelamatkan nyawa manusia.

Budi mengatakan pendekatan One Health juga perlu didukung kemampuan manufaktur farmasi lokal untuk tindakan pencegahan medis dengan memanfaatkan keahlian dan pengetahuan China. Hal penting lainnya adalah tindakan mengamankan pasokan vaksin, terapi dan alat diagnostik yang memadai.

Kesepakatan seluruh delegasi negara di regional ASEAN itu telah dilaporkan Budi kepada Majelis Kesehatan Dunia dalam forum World Health Assembly ke-75 (WHA75) di Jenewa pada 21-23 Mei 2022 seperti dikutip Antara.

Untuk mewujudkan hal tersebut, negara di kawasan ASEAN berupaya menjalin koordinasi dan kemitraan strategis di level regional, internasional maupun aktor global lainnya seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan G-20.

Program tersebut selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2020-2024 dan menjadi isu penting dari Presidensi G-20 Indonesia 2022 yang ingin mencapai pemulihan global yang lebih kuat usai pandemi. (aro)

Tags: cacar monyetG20pandemicZoonosis

Berita Terkait.

Ketua DKPP: Peran Media Sangat Vital bagi Penegakan Etik Pemilu
Gaya Hidup

Rayakan School Holiday Lebih Seru dengan “Playcation Package” di All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:01
Film
Gaya Hidup

Teaser Perdana “The East Palace” Dirilis, Nam Joo Hyuk dan Roh Yoon Seo Berburu Arwah Penasaran di Istana Kerajaan

Kamis, 2 Juli 2026 - 04:02
Lee-Ye-Jun
Gaya Hidup

Lee Ye Jun Umumkan Comeback, Siap Rilis Single Emosional “Usan Eomneun Bam” pada 12 Juli 2026

Kamis, 2 Juli 2026 - 02:10
Rescene
Gaya Hidup

RESCENE Jadi Brand Ambassador Pertama CU, Puncaki Reputasi Brand Grup Rookie K-Pop Juli 2026

Kamis, 2 Juli 2026 - 00:38
Fun-RUn
Gaya Hidup

Swiss-Belresort Dago Heritage Kembali Jadi Official Hotel Partner dan Start Venue untuk BDG 100 Ultra Trail Run 2026 Sambut Pelari dari Berbagai Negara

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:07
Aktor
Gaya Hidup

Byun Yo Han Banjir Pujian Usai Beri Dukungan Manis untuk Tiffany Young di Musikal Yumi Cells

Rabu, 1 Juli 2026 - 22:26

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    1645 shares
    Share 658 Tweet 411
  • Hasil Piala Dunia Grup F: Jepang-Swedia Dampingi Belanda ke Fase Gugur

    1089 shares
    Share 436 Tweet 272
  • Piala Dunia 2026: Nagelsmann Ungkap Penyebab Kekalahan Jerman dari Ekuador

    1022 shares
    Share 409 Tweet 256
  • Menteri Ekraf: Arsip Jadi Jejak Transformasi Ekonomi Kreatif Indonesia

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2109 shares
    Share 844 Tweet 527
Belgia
Olahraga

Belgia Menang Kontroversial di Babak Gugur Piala Dunia, Pelatih Senegal Tetap Legawa

Editor Dilianto
Kamis, 2 Juli 2026 - 17:02

INDOPOSCO.ID - Pelatih Timnas Senegal Pape Thiaw mengaku kecewa atas kekalahan dramatis timnya saat bersua Timnas Belgia pada babak 32...

SelengkapnyaDetails
Hasil Piala Dunia Kunci Sukses Inggris Redam Perlawanan Kongo: Sabar dan Jaga Kepercayaan Diri

Hasil Piala Dunia Kunci Sukses Inggris Redam Perlawanan Kongo: Sabar dan Jaga Kepercayaan Diri

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:22
Hasil Piala Dunia: Pulangkan Bosnia dengan 10 Pemain, AS Lanjut ke 16 Besar

Hasil Piala Dunia: Pulangkan Bosnia dengan 10 Pemain, AS Lanjut ke 16 Besar

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:56
Hasil Piala Dunia: Belgia Lolos Dramatis, Penalti Ujung Laga Akhiri Mimpi Senegal

Hasil Piala Dunia: Belgia Lolos Dramatis, Penalti Ujung Laga Akhiri Mimpi Senegal

Kamis, 2 Juli 2026 - 08:35
Hasil Piala Dunia: Brace Harry Kane Antar Inggris Comeback Spektakuler

Hasil Piala Dunia: Brace Harry Kane Antar Inggris Comeback Spektakuler

Kamis, 2 Juli 2026 - 08:25
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.