Gaya Hidup

Sebuah Perjalanan Pengakuan Kedaulatan, Dari Menumbing Menuju Den Hag

INDOPOSCO.ID – Kenang-kenang Menumbing. Di bawah sinar gemerlap terang tjuaca. Kenang-kenang membawa kemenangan. Bangka, Djogdjakarta, Djakarta. Hidup Pancasila, Bhineka Tunggal Ika

Demikian tertulis jelas di prasasti yang ditandatangani oleh pendiri bangsa Drs Mohammad Hatta tertanggal 17 Agustus 1951. Prasasti tersebut terletak di pojok ruangan, tertanam di dinding sejajar dengan pigura berisi kisah para pendiri bangsa lainnya. Di antaranya Ir Soekarno, Mr Asa’at, Mr AG Pringgodidgo, Komodor Suryadi Suryadarma, Mohammad Roem, Ali Sastroamidjoyo, dan Haji Agus Salim.

Prasasti itu berada di Pesanggrahan Menumbing, di kawasan Bukit Menumbing dengan ketinggian 500 meter dari permukaan air laut. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Gunung Menumbing. Berada di pesanggrahan itu, dapat melihat Muntok, kota kecil yang berada di ujung Pulau Bangka, dari segala arah dan juga Selat Bangka yang memisahkan Pulau Bangka dan Sumatra.

Di kawasan yang terdiri atas empat bangunan itu, yakni satu bangunan utama, dua paviliun dan satu bangunan garasi itulah, menjadi saksi bisu tempat pengasingan para pendiri bangsa oleh Belanda pasca-Agresi Militer II. Mereka diasingkan di kota kecil itu dengan maksud menjauhkan dari semua kegiatan politik oleh Belanda.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Agus Widiatmoko, menjelaskan di kompleks bangunan tersebut para pendiri bangsa diasingkan oleh Belanda pada Desember 1948 hingga pertengahan 1949.

“Pengakuan kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bunda (KMB) di Den Hag pada sidang penutup 2 November 1949 itu erat kaitannya dengan Pesanggrahan Menumbing, karena semua berawal dari pemikiran para bangsa saat diasingkan di sini,” ujar dia.

Belanda mengasingkan Mohammad Hata, Mr A Gafar Pringgodigdo, Mr As’at, dan Komodor Suryadarma di Pesanggrahan Menumbing pada 22 Desember 1948, lalu disusul Mr Ali Sastroamidjoyo dan Mr Moh Roem pada 31 Desember 1948.

Baca Juga: Gempa NTT, Mensos: Bongkar Gudang, Kirim Bantuan!

Sementara Ir Soekarno, Haji Agus Salim, dan Sutan Sjahrir diasingkan di Prapat, Sumatera Utara. Pada 5 Februari 1949, Ir Soekarno dan Haji Agus Salim dipindahkan ke Muntok, yang pada masa sekarang berada di wilayah Kabupaten Bangka Barat. Berbeda dengan Hatta dan kawan-kawan, Ir Soekarno dan Haji Agus Salim ditempatkan di Pesanggrahan Muntok atau Banka Tin Winning (BTW).

“Belanda sebenarnya kecele, mereka mengira dengan diasingkan di Muntok, semakin menjauhkan rakyat dengan para pendiri bangsa karena di sini penduduknya adalah Melayu dan Tionghoa. Belanda menganggap penduduk setempat tidak mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nyatanya, tidak demikian semangat nasionalisme justru semakin menyala dengan kehadiran para tokoh pendiri bangsa di Muntok ini,” terang dia.

Pada awal pengasingan, Belanda menyekap Hatta, As’aat, AG Pringgodirgo dan Komodor Suryadi Suryadarma di salah satu kamar berukuran 5,4×6,4 meter pada periode 22 Desember 1948 hingga 18 Januari 1949. Lalu pada 30 Desember 1948, kedatangan dua penghuni lainnya, yakni Mohammad Roem dan Ali Sastroamidjojo. Belanda membangun kerangkeng berukuran 4,4×10,4 meter yang terbuat dari kawat harmonik gaas.

“Sangat mengenaskan karena mereka dikerangkeng dalam satu ruangan, listrik, dan air juga sangat terbatas,” katanya.

Kerangkeng tersebut dibongkar pada 13 Januari 1949, sebelum kunjungan Komisi Tiga Negara (KTN) yang dibentuk Dewan Keamanan PBB dan dua pejabat Belanda. Setelah kunjungan, baru para pemimpin Republik dibebaskan bergerak di seluruh Pulau Bangka.

Pada saat pengasingan itu, menjadi tempat bagi para pemimpin bangsa untuk merumuskan pokok-pokok pikiran yang dibawa pada perundingan Konferensi Meja Bundar. Prasasti yang ditandatangani Bung Hatta menunjukkan bahwa Pesanggrahan Menumbing memiliki arti bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Agus menyebut sebuah surat berkop Wakil Presiden Republik Indonesia, ditujukan kepada LN Palar di New York, ditulis di Menumbing pada tanggal 2 Mei 1949 dan ditandatangani oleh Mohammad Hatta. Surat itu memberikan kesan bahwa Pesanggrahan Menumbing merupakan “Istana Wakil Presiden” dari tanggal 18 Januari hingga 5 Juli 1949.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button