INDOPOSCO.ID – Psikolog Klinis Ivana Prafitasari menuturkan, usia remaja adalah tahap pencarian jati diri. Dengan kapasitas yang masih labil dan cara berpikir yang terbatas.
“Mereka (para remaja) sering kali mengambil tindakan tanpa berpikir panjang dan memikirkan akibatnya nanti,” ujar Ivana Prafitasari dalam acara daring, Kamis (11/11/2021).
Selain itu, menurut Ivana, di usia remaja juga kemampuan masih perlu diasah. Dan secara biologis, otak bagian depan (untuk mengambil keputusan hingga pemecahan masalah) belum matang.
“Otak untuk emosi para remaja sudah berkembang (selesai). Tapi pengambilan keputusan masih didasari dengan emosi,” katanya.
“Pengendalian emosi pada remaja masih kurang baik dan pertumbuhan para remaja masih pada tahap sensitif,” imbuhnya.
Sehingga, yang berpengaruh pada diri remaja dipengaruhi oleh lingkungan. Seperti cara menyelesaikan masalah, tentu juga dipengaruhi oleh faktor keluarga dan lingkungan mereka.
“Remaja juga memiliki kebutuhan mandiri, siapa diri mereka? Untuk aktualisasi kepada teman-teman mereka,” terangnya.
“Mereka juga masih mementingkan diri sendiri, sehingga masalah sepele saling ejek, bisa menimbulkan konflik sedemikian rupa,” imbuhnya.
Sebelumnya, dua kelompok remaja di Jakarta Utara terlibat bentrok yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Bentrokan tersebut diketahui gara-gara saling ejek di media sosial (Medsos).
(nas)











