Ekonomi

Kisah Pemuda yang Beralih dari Alat Musik Khas Minang ke Ladang Bisnis

INDOPOSCO.ID – Pandemi Covid-19 membuat Ade Putra Timbun, seorang pemain alat musik tiup asal Bungus, Padang harus memutar otak agar bisa bertahan hidup. Pembatasan kegiatan selama pandemi Covid-19 membuatnya tidak lagi bisa berkeliling bersama tim sanggarnya memainkan alat musik yang telah dipelajarinya secara otodidak sejak usia sekolah menengah.

Pria 32 tahun itu telah menjadi musisi alat musik tiup sejak 2007. Ia pun bisa memainkan semua jenis alat musik tiup tradisional Minangkabau, mulai dari suliang, bansi, sarunai, sampelong hingga pupuik tanduak.

Bermodalkan hobi dan kecintaannya terhadap alat musik dari bambu tersebut, Ade mendirikan Galeri Tuo yang menjual beraneka jenis alat musik tiup khas Ranah Minang tersebut. Dikarenakan tak memiliki ilmu mengenai pembuatan alat musik tiup, ia bermitra dengan teman sesama musisi yang juga tamatan Institut Seni Indonesia Padangpanjang Sumatera Barat bernama Zulmasdi.

Alat musik tiup pun dipilih sebagai ladang bisnis karena ketersediaan bahan baku yang berlimpah di sekitar rumah Zulmasdi. Bambu yang digunakan juga tak bisa sembarangan. Bambu yang sudah tua, kering dan tidak tebal menjadi bahan baku terbaik untuk pembuatan alat musik tiup dengan bunyi yang nyaring.

Baca Juga: Musik Bisa Jadi Pendidikan Dasar Anak Usia Dini

“Kalau alat musik lain jarang ada bahannya di sini, seperti gendang dari kayu besar, itu jarang. Alat musik tiup Minang beda ada ciri khasnya, bunyinya beda notasinya beda,” kata Ade.

Dalam sehari Galeri Tuo mampu membuat 5 alat musik. Namun dikarenakan pasarnya belum luas, Galeri Tuo hanya membuat alat musik sesuai pesanan. “Kita masih UMKM kecil banget lah, kalau ada yang pesan baru kita bikin,” ujar Ade.

Ade mulai memasarkan produk buatannya pada awal 2020 melalui e-commerce Shopee dengan nama Galeri Tuo. Ia mematok harga dari Rp110 ribu-Rp120 ribu.

Selain dikarenakan tidak mau mengambil risiko dengan mengeluarkan modal lebih besar dengan menyewa toko, Ade memantapkan hati untuk memasarkan produknya secara daring berkat rekomendasi temannya yang sudah terlebih dahulu meraup keuntungan dari berjualan secara daring.

Tiga bulan pertama merupakan masa yang berat untuk Galeri Tuo karena produk yang mereka jual bukan kebutuhan sehari-hari. “Jadi bagaimana kita melakukan upaya agar ini bisa diterima oleh banyak orang. Kita main ukiran, bikin nama, bisa dijadikan souvenir mata,” tutur Ade.

Meski rata-rata penjualan bulanan Ade baru mencapai 20 buah, namun ia mengaku penghasilan tersebut cukup untuk membiayai kehidupan sehari-harinya.

Dampak positif lainnya yang dipetik dari berjualan lewat e-commerce, pembeli alat musik andalan Urang Awak tersebut itu pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke Singapura dan Malaysia.

Melalui penjualan daring, ia juga ingin membawa misi menusantarakan alat musik Minangkabau. Menurutnya, di zaman penuh teknologi, budaya khas daerah memang kurang diminati. Bahkan, tidak dapat dipungkiri bahwa generasi zaman kini tidak tahu nama apalagi bentuk alat tiup kebanggaan daerah asal Rendang tersebut.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button