Disway

BBM 303

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Harga BBM naik?

Tidak.

Berita Terkait

Naik.

Tidak.

Belum.

Entah sampai kapan.

Jangan perjudikan itu. Apalagi tanpa membayar fee ke 303. Kita tunggu saja keputusan pemerintah. Kelihatannya tinggal tunggu keputusan akhir dari Presiden Jokowi.

Langkah-langkah menuju kenaikan harga itu sudah disiapkan. Para menteri seperti sudah memastikan BBM naik. Setidaknya sudah siap naik. Pun sikap Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Semua mengisyaratkan ke arah kenaikan harga BBM.

Secara ilmiah –ilmu ekonomi– memang harus begitu. Harga BBM sekarang ini murahnya luar biasa –dibanding harga pasar internasional. Untuk apa ilmu ekonomi dipelajari di semua universitas kalau tidak dipergunakan.

Tapi harga BBM sekarang itu masih mahal. Kalau diukur dari kemampuan daya beli lapisan masyarakat menengah ke bawah. Saya pun pernah menulis: kenyataannya, setiap terjadi kenaikan harga BBM tingkat kemiskinan selalu naik. Jumlah orang miskin bertambah (Disway 23 Juni 2022).

Saya memahami bahwa Presiden Jokowi sampai sangat sulit membuat keputusan soal kenaikan harga BBM. Sesulit-sulit menangkap Irjen Pol Ferdy Sambo masih bisa mengerahkan Brimob. Taruhannya hanya ”kemungkinan anak buah Sambo marah”. Tapi menaikkan harga BBM ini taruhannya rakyat miskin. Jumlahnya bisa lebih 20 juta orang. Umumnya mengagumi Pak Jokowi. Memilihnya dengan fanatik. “Mendewakannya”.

Dan sang Dewa kini harus membuat keputusan pahit bagi mereka. Mungkin mereka memang tidak banyak membeli BBM. Mereka tidak punya mobil. Tapi kenaikan harga BBM akan menaikkan harga-harga kebutuhan hidup. Inflasi.

Pak Jokowi tidak sendirian. Presiden yang ia gantikan, SBY, juga berpikir panjang sekali sebelum mengambil keputusan menaikkan harga BBM. Sampai SBY mendapat julukan peragu. Setidaknya dibanding wakilnya: Jusuf Kalla.

“Ekonom tidak memahami ini: setiap terjadi kenaikan harga BBM tingkat kemiskinan naik. Bisa sampai 2 persen,” ujarnya suatu ketika.

Saya yang semula terpengaruh Pak JK ikut merenungkan kenyataan yang dikemukakan Presiden SBY itu.

Keputusan menaikkan harga BBM selalu harus dilakukan. Oleh presiden siapa pun. Dari periode ke periode. Selalu juga menimbulkan gejolak. Termasuk gejolak di APBN.

Kenaikan harga BBM seperti kutukan abadi di negeri ini. Hanya belakangan tanpa ada demo.

Di zaman Pak SBY subsidi mencapai Rp 250 triliun. Dihujat. Dibilang membakar-bakar uang negara. Salah sasaran. Orang kaya kok disubsidi. Dan seterusnya.

Kini subsidi itu bisa mencapai Rp 502 triliun. Tahun ini. Kalau BBM tidak naik. Sebaliknya kemiskinan bisa naik 2 persen. Kalau harga BBM dinaikkan.

Bagi Pak Jokowi ancaman kemiskinan naik 2 persen itu menakutkan. Terutama dalam hal citra. Kalau sampai kemiskinan naik 2 persen Pak Jokowi akan dikenang seumur hidup sebagai presiden yang gagal mengentas kemiskinan.

Selama 8 tahun menjabat Presiden angka kemiskinan hanya turun 1,5 persen. Terendah dibanding presiden siapa pun pasca reformasi. Maka kalau sampai angka kemiskinan naik 2 persen akibat kenaikan harga BBM apa lagi yang bisa dikenang di bidang pengentasan kemiskinan.

Maka harus ditemukan cara baru. Ilmu baru. Terobosan baru: bagaimana harga BBM naik tanpa menambah angka kemiskinan.

Tentu saya pernah memikirkan itu. Secara mendalam. Sayangnya saya tidak mampu merumuskan teori baru. Mungkin karena saya bukan ekonom. Lalu saya tunggu teori baru dari para ekonom. Juga tidak muncul.

Ide baru yang sering dibicarakan hanyalah: bagaimana agar penghematan dari subsidi BBM itu diarahkan untuk fokus mengatasi kemiskinan. Di atas kertas itu masuk akal. Lalu dilaksanakan. Hasilnya belum kelihatan di angka-angka statistik.

Itulah sebabnya saya memilih jalan pintas ini: untuk mengurangi subsidi BBM janganlah gunakan BBM. Kita buat mobil listrik.

Itu 10 tahun lalu.

Gagal.

Anda sudah tahu hasilnya. Tidak bisa terwujud. Dan sampai sekarang kita masih harus berkutat dengan subsidi BBM. Sayang energi seorang presiden terlalu terkuras di soal ini. Sumpek. Untung Pak Jokowi masih sering bertemu relawannya. Bisa terhibur di situ.

Kini mobil listrik sudah mewabah di mana-mana. Presiden Indonesia 10 tahun ke depan bisa lebih ringan pikirannya.

Jadi, apakah harga BBM akan naik?

Tidak.

Naik.

Tidak.

Terserah. (*)

Komentar Pilihan Disway*

Edisi 26 Agustus 2022: Model BTP

Rizky Dwinanto

“Kini Tommy menjadi pioneer….. blablablabla… Ini plastik ramah lingkungan pertama blablablabla” Demikianlah, abah selalu lebay.. Resin plastik Oxium produksi PT Tirta Marta sudah digunakan untuk tas kresek sejak tahun 2010an. Hasil temuan orang Indonesia juga.. Mungkin bapaknya si Tommy

Budi Utomo

Politisasi agama entah mengapa sangat kental di negara demokrasi yang kuat agamanya macam Amerika Serikat (Protestan), India (Hindu), Indonesia (Islam). Demokrasi akhirnya menjadi (agama) mayoritas menindas minoritas. Padahal seringkali minoritas justru menjadi motor penggerak bagi kebangkitan suatu bangsa. Sun Yat Sen misalnya. Dia beragama Kristen tapi berjasa besar mendirikan Tiongkok Modern. Walau akhirnya Kristen, sebagaimana Islam, boleh dikatakan ditindas, atau minimal dibatasi ruang geraknya di Tiongkok masa kini. Ali Jinnah contoh lainnya. Dia Shiah tapi berjasa mendirikan Pakistan (walau akhirnya Shiah yang minoritas ditindas Sunni yang mayoritas di Pakistan kini).

Juve Zhang

Rambo satu orang bunuh 36 orang . Gagah berani kuat fisik mental. Sabo bunuh satu orang nyusahkan 36 orang teman sejawat. Rambo tegar kuat phisik dan menta. Rambo lokal ketemu Komnas Ham nangis. Ketemu kak Seto nangis. Rakyat bingung ini Rambo atau Lucinta Maya Kw 2. Jadilah pria sejati berani berbuat berani nanggung jawab pantang keluar air mata.wkwkwkwkwk

Fenny Wiyono

Saya tidak setuju dengan Perceraian dan Pernikahan ke-2 Ahok.. tetapi kalau mau melihat lepas dr mslh pribadi (Keluarga), Pak Ahok masih seorang negarawan yang baik ; tidak maling duit rakyat atau menyusahkan Rakyat. Masalah Wanita lain, Pak Karno Istrinya juga banyak, tetapi beliau negarawan yang hebat. Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga istrinya lebih dari 1 tapi secara negarawan Jauh lebih hebat dari yang ke 10 (yg istrinya 1). untuk negarawan lainnya, coba wartawan Senior Bpk Dahlan Iskan mau buka suara “Saayaaaang…” dan kita semua akan terheran, terkaget-kaget.. wkwk

Lukman bin Saleh

Sedikit kritik untuk istilah BPT dalam program ini. Karena bersih, transparan dan profesional sj tidak cukup bagi seorang pemimpin. Sulit mengharapkan perubahan besar jika hanya bertumpu pada karakter di atas. Alih2 malah menjadi bumerang. Makin membuat bangsa ini tertinggal. Misalnya pemimpin bersih, transparan dan profesional mengelola tata kelola yg salah. Seperti tema tulisan kemarin. Maka makin profesional seorang pemimpin, makin parah juga kesalahan yg ditimbulkan. Harusnya ada satu lagi karakter inti selain BPT. Dan ini wajib jika ingin maju: fatonah. Ya pemimpin wajib cerdas. Fikiran dan terobosannya bisa diandalkan. Sebaik apapun seorang pemimpin, jika tidak cerdas agak susah mengandalkannya untuk melakukan kemajuan di negeri yang jalan di tempat ini. Tapi tidak apa2. Ini sekedar pemilihan istilah yg ada unsur cocokloginya. Dalam penerapannya, saya yakin unsur kecerdasan tidak diabaikan…

Yakun Toba

Mulai banyak bermunculan tren produksi ecoplas, harus fokus jadiin cassava-based biodegradable plastic ini lebih murah, efisien dan berkualitas dibandingkan dengan corn-based plastic, paper, dan saingan lainnya.

Yakun Toba

Mulai banyak bermunculan tren produksi ecoplas, harus fokus jadiin cassava-based biodegradable plastic ini lebih murah, efisien dan berkualitas dibandingkan dengan corn-based plastic, paper, dan saingan lainnya.

Johannes Kitono

Kursus kepemimpinan model ” Lemhanas BTP ” yang pesertanya terbuka untuk kader partai mana saja pasti menarik. Kalau dosennya selain Ahok juga perlu perlu ada : Surya Paloh , Prabowo Subianto, Airlangga Hartato, Megawati, SBY, Dahlan Iskan dan last but not least Anies Baswedan. Biar para kader bisa diskusi terbuka dan memilih model Pemimpin mana yang cocok buat NKRI.

daeng romli

Setelah membaca hampir semua komen dr “masyarakat disway”, Rata2 mereka suka dgn BTP / Ahok. Dari sisi profesianal, integritas, dll. Tapi sisi yg tdk disukai adalah dr sisi pribadi Ahok yg ceplas ceplos, kadang mengumpat bahkan ada yg tdk suka krn kawin lagi setelah cerai dgn istri pertama…hehehe. Yg perlu diingat masih ada pejabat lain yg seperti itu, maksud saya yg ngomongnya ceplas ceplos tp malah karirnya naik….mosok lali karo Bu Risma ex Walikota Suroboyo, kurang keras tah nek lagi ngamuk katek nuding2 sisan….tp aneh nya yo tetep moncer karirnya. Iki paling sesok ditulis Abah DI….(ngarep2)…

balagak nia

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button