INDOPOSCO.ID – Semua pemangku kepentingan diminta bahu membahu dalam mewujudkan Program Kementerian Pertanian (Kementan), yakni Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) 2020-2024. Di sisi lain, peranan Badan Karantina Pertanian (Barantan) sangatlah penting meningkatkan pelayanan fasilitasi pertanian, khususnya bagi ekspor pertanian. Selain itu, Barantan juga bagian dari perlindungan sumberdaya alam hayati pertanian dari ancaman hama penyakit yang berbahaya.
“Bagi sebagian orang yang baru mendengar, mungkin nggak masuk akal untuk mewujudkan tiga kali lipat ekspor pertanian sampai 2024. Saya kira ini kepentingan nasional, kepentingan kita semua. Apabila semua administrasi bergerak mewujudkannya, bukanlah pekerjaan yang berat untuk kita wujudkan tiga kali lipat ekspor,” kata Kepala Barantan Kementan Bambang MM saat memberikan keynote speaker dalam webinar yang digelar Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) dan Barantan bertemakan ‘Strategi Pembiayaan Ekspor Pertanian untuk Mendukung Gratieks’, Sabtu (9/10/2021).
Dari sisi on farm saja, lanjut Bambang, target tiga kali lipat ekspor pertanian dapat dengan mudah dicapai. “Target tiga kali lipat ekspor ini untuk kebaikan kita semua karena pengaruh akselerasi ekspor ini tentunya berdampak pada perekonomian nasional, penyerapan tenaga kerja, kesejahteraan petani, sehingga wajib hukumnya semua pihak memberikan dukungan,” jelasnya.
Menurut Bambang, berkat semangat tiga kali lipat ekspor yang terus digelorakan Kementan selama ini, kini setiap daerah sudah mulai sadar akan potensi pertaniannya masing-masing, bahkan ikut bergerak menyuskeskan gerakan ekspor. Pada 2020, ekspor pertanian Indonesia telah menjangkau lebih dari 150 negara.
“Untuk mengangkat dan mengakselerasi ekspor sangat besar, terutama peluang bagi pengusaha yang saat ini sudah melaksanakan aktivitas usaha agribisnisnya maupun yang baru merintis, peluang itu sangat besar,” tandasnya.
Apalagi, kata Bambang, pemerintah telah menyediakan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada 2020 dialokasikan sebesar Rp56 triliun dan pada 2021 mencapai Rp71 triliun.
“Kami berharap pelaku usaha berani memanfaatkan dana perbankan tersebut. Usaha pertanian kalau diseriusi akan berhasil. Risiko kegagalan yang menjadi momok sebenarnya tidak sepenuhnya benar, kalau kita serius,” pungkasnya.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan Kementan RI Dedi Djunaedi, mengatakan, hampir semua komoditas perkebunan mengalami pertumbuhan yang meningkat selama Pandemi Covid-19. Pertumbuhan ekspor dari 2020 dan 2021 (Januari-Juni) volume ekspor naik 3,4 persen dan nilai ekspor juga naik 44,8 persen.
“Saat ini baik dari segi volume maupun dari segi nilainya, ekspor pertanian memang masih didominasi kelapa sawit, kemudian diikuti karet, kelapa, kakao, kopi dan komoditas lainnya,” jelasnya.
Dedi menambahkan, Ditjen Perkebunan telah menetapkan komoditas ekspor dalam tiga bagian. Pertama, komoditas utama –dari sisi volume—antara lain kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala, vanili, kayu manis, cengkeh, dan teh.
Kedua komoditas andalan, yaitu sawit dan karet. Ketiga komoditas pengembangan seperti nilam, sagu, stevia, pinang, lontar, sereh wangi dan beberapa komoditas lainnya.
“Stevia tanaman untuk pertama kali kita sudah ekspor dan ini peluangnya sangat besar karena hanya beberapa negara di dunia aja yang bisa menghasilkan stevia. Apalagi kita berada di garis Khatulistiwa,” ujarnya.
Selain itu, potensi ekspor kopi mencapai Rp73,79 triliun, sedangkan capaiannya hanya Rp13,48 triliun. “Artinya ada kehilangan potensi ekspor sebanyak Rp 60,30 triliun. Karena itu perlu ada perbaikan, misalnya peremajan, maka angka tiga kali lipat tidak sulit,” terangnya.
Kepala Bidang Keamanan Hayati Nabati Barantan Ihsan Nugroho mengatakan, peran karantina dalam pertanian dalam peningkatan ekspor di antaranya memastikan komoditas pertanian yang diekspor sesuai dengan ketentuan Sanitary Phytosanitary (SPS) di negara tujuan.
“Kalau teman-teman kami di pelabuhan memperketat itu semata-mata untuk melindungungi sumber daya hayati kita. Kita tidak mempersulit, tetapi ketika tidak sesuai dengan ketentuan dengan kesehatan, tumbuhan dan hewan, itu tidak kita bisa main-main,” ujarnya.
“Jadi jangan anggap kami mempersulit di pelabuhan, kalau memang ada yang mengalami kendala. Silakan laporkan kepada kami. Artinya, Barantan ingin memberikan pelayanan terbaik dan tidak perlu ditakuti. Kami mitra yang baik untuk mendukung pelaku eksportir,” sambungnya.
Selain itu, lanjut Ihsan, peran karantina dalam pertanian dalam peningkatan ekspor adalah memberikan jaminan kesehatan komoditas pertanian yang diekspor bebas dari quarantine pest negara tujuan.
“Karantina Pertanian juga sebagai focal point NPPO yang mampu menyampaikan Notification Non Compliance (NNC) ke negara tujuan apabila terdapat kendala ekspor,” tandasnya.
Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Barantan drh Wisnu Wasisa Putra menjelaskan, pelayanan ekspor juga dilakukan melalui berbagai kebijakan seperti agro klinik ekspor.
”Keberadaan klinik ekspor sangat membantu petani dan kalangan eksportir pertanian untuk memberikan akses informasi terkait potensi dan proses bisnis ekspor produk pertanian,” ujarnya. (aro)









