INDOPOSCO.ID – Kompetensi sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan operasi pengeboran minyak dan gas bumi (migas). Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan keselamatan kerja, industri membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis dan kesiapan menghadapi kondisi operasi di lapangan.
Kebutuhan tersebut dijawab PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) melalui Indonesia Drilling Training Center (IDTC) di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Mengusung konsep The Center of Drilling Operation Excellence, fasilitas ini dikembangkan sebagai pusat pelatihan dan pengembangan kompetensi talenta drilling untuk memenuhi kebutuhan industri migas, baik di dalam maupun luar negeri.
Manager IDTC Pertamina Drilling, Chair Rony, mengatakan kompetensi SDM berperan penting dalam menjaga keselamatan, efisiensi, dan keandalan operasi pengeboran.
“Industri migas membutuhkan SDM yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kompetensi teknis, disiplin terhadap keselamatan, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar. Karena itu, Pertamina Drilling melalui IDTC berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang sedekat mungkin dengan kebutuhan operasi di lapangan,” jelas Chair Rony, dikutip Sabtu (10/10/2026).
Untuk mendekatkan pembelajaran dengan kondisi operasi sebenarnya, IDTC dilengkapi sejumlah fasilitas, antara lain rig berkapasitas 150 HP, simulator drilling, area praktik, serta portacamp sebagai akomodasi peserta pelatihan.
Fasilitas tersebut memungkinkan peserta memadukan pembelajaran teori dengan simulasi dan praktik teknis. Peserta juga dapat mempelajari penggunaan peralatan, memahami tahapan operasi pengeboran, serta mengenali penerapan standar keselamatan, kualitas, dan efisiensi dalam setiap pekerjaan.
Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami proses pengeboran secara konseptual, tetapi juga memiliki gambaran praktis mengenai tuntutan pekerjaan di lapangan.
“Kami ingin peserta tidak hanya memahami bagaimana sebuah sumur dibor, tetapi juga memahami mengapa setiap tahapan harus dilakukan dengan standar keselamatan, kualitas dan efisiensi yang tinggi. Inilah yang menjadi nilai tambah IDTC sebagai pusat pengembangan kompetensi drilling,” ungkap Chair Rony.
Peran IDTC juga berkembang melalui keterlibatan perusahaan, institusi, dan peserta dari berbagai negara. Pusat pelatihan ini turut mendukung pengembangan kompetensi peserta dari ANP Timor-Leste, Namibia, Tanzania, dan Malaysia melalui program secondment.
Melalui program tersebut, peserta memperoleh kesempatan memperluas pengetahuan dan pengalaman terkait kegiatan pengeboran dalam lingkungan operasi Pertamina Drilling.
Keterlibatan peserta dan mitra internasional turut membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik di industri migas. Hal ini memperluas peran IDTC, tidak hanya sebagai fasilitas pelatihan, tetapi juga sebagai sarana pengembangan kompetensi lintas negara.
Ke depan, industri migas menghadapi tantangan yang semakin beragam, mulai dari perkembangan teknologi, tuntutan efisiensi operasional, hingga penerapan standar keselamatan yang ketat. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja yang kompeten, adaptif, dan profesional.
Pertamina Drilling memandang pengembangan SDM sebagai bagian penting dari keberlanjutan bisnis dan penguatan industri energi nasional. Karena itu, IDTC juga diarahkan untuk membuka kesempatan bagi generasi muda mengenal industri pengeboran sekaligus mempersiapkan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
“Kami percaya masa depan industri energi juga ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Melalui IDTC, kami ingin ikut membuka akses bagi generasi muda untuk mengenal industri drilling secara lebih dekat dan mempersiapkan mereka agar memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri,” ucap Chair Rony.
Dengan dukungan fasilitas praktik, simulator, instruktur berpengalaman, serta kolaborasi nasional dan internasional, IDTC terus memperkuat perannya dalam pengembangan talenta drilling.
Keberadaan pusat pelatihan ini menjadi penghubung antara proses pembelajaran dan kebutuhan nyata industri migas. Di tengah persaingan industri energi yang semakin global, penguasaan teknologi perlu diimbangi dengan kualitas SDM yang memiliki kompetensi, disiplin keselamatan, dan profesionalisme sesuai standar industri. (srv)

















