INDOPOSCO.ID – PT Pertamina (Persero) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) untuk mempersiapkan pengembangan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional (unconventional well) di Indonesia. Langkah ini dilakukan melalui pelatihan teknologi pengeboran guna mendukung eksplorasi potensi sumber daya migas yang belum tergarap optimal.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan Extended-Reach Drilling (ERD) Well Design for Unconventional Well yang berlangsung pada 5-16 Oktober 2026 di Millennium Centennial Center, Jakarta. Pelatihan ini diikuti 24 peserta dari berbagai entitas Pertamina dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Para peserta berasal dari PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), PT Pertamina EP, PT Pertamina EP Cepu, serta SKK Migas.
Program tersebut merupakan kolaborasi Pertamina Corporate University (PCU), PHE, dan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) melalui Indonesia Drilling Training Center (IDTC), bersama mitra teknis internasional Blade Energy Partners.
VP Learning Development PT Pertamina (Persero), Yulius S. Bulo, mengatakan kesiapan SDM menjadi faktor penting sebelum perusahaan menjalankan program pengembangan pengeboran.
“Ketika kita memiliki rencana untuk mengembangkan program pengeboran, kuncinya adalah manusia. Kita tidak bisa mengembangkan kompetensi setelah program dimulai. Kompetensi teknis harus dibangun sebelum program tersebut berjalan,” ujarnya.
Menurut Yulius, Pertamina perlu terus memperkuat technical capability assurance atau kepastian kompetensi teknis agar mampu mengoperasikan aset secara optimal sekaligus menghadapi tantangan teknologi yang makin kompleks.
VP Drilling & Well Intervention PHE, Fata Yunus, mengatakan sumber daya migas nonkonvensional menjadi salah satu peluang yang perlu dipersiapkan Indonesia. Potensi tersebut antara lain berkaitan dengan batuan sumber (source rock) yang berada di bawah atau di luar zona reservoir konvensional.
“Di bawah zona konvensional, kita masih memiliki source rock unconventional. Kita harus mengeksplorasi dan memanfaatkan seluruh potensi minyak dan gas tersebut,” katanya.
Fata menjelaskan, sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Argentina, China, dan Australia telah mengembangkan sumber daya migas nonkonvensional dengan dukungan teknologi pengeboran dan penyelesaian sumur (completion) yang semakin maju.
Menurutnya, Indonesia perlu membangun kemampuan teknis sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi dari luar negeri. Penguatan kompetensi SDM harus diikuti pengembangan ekosistem industri yang mampu mendukung kebutuhan operasi pengeboran nonkonvensional.
“Jangan hanya mengimpor teknologi. Kita harus membangun kapabilitas lokal dan ekosistem industri di Indonesia,” tegas Fata.
Pengembangan kemampuan tersebut tidak hanya mencakup penguasaan teknik pengeboran, tetapi juga pemahaman terhadap kebutuhan peralatan, material, dan proses pendukung pengembangan sumur nonkonvensional. Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada teknologi impor.
Sejalan dengan hal itu, Yulius mendorong para peserta pelatihan untuk berkembang menjadi subject matter expert atau ahli di bidangnya. Kompetensi yang dibangun diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi Pertamina, tetapi juga dapat dibagikan kepada komunitas industri migas di kawasan Asia Tenggara.
Kolaborasi PCU, PHE, dan Pertamina Drilling melalui IDTC bersama Blade Energy Partners menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan pengembangan SDM dengan kebutuhan teknologi dan operasi hulu migas.
Melalui penguatan kompetensi tersebut, Pertamina mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami tantangan pengeboran nonkonvensional sekaligus mendukung pengembangan kapabilitas teknis nasional. Kesiapan SDM, teknologi, dan ekosistem industri menjadi elemen penting dalam upaya membuka peluang pemanfaatan potensi migas nonkonvensional Indonesia. (srv)

















