INDOPOSCO.ID – Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang terus berkembang, menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditawar. Menteri Keuangan Suahasil Hazara menegaskan, fondasi tersebut harus tetap dijaga agar pembangunan nasional berjalan berkelanjutan sekaligus mampu melindungi masyarakat dari berbagai tekanan global.
Pesan itu disampaikan Suahasil saat menjadi keynote speech dalam Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Suahasil juga mengenang kiprah Drs. Franciscus Xaverius Seda atau Frans Seda yang menjabat Menteri Keuangan pada Juli 1966 hingga Juni 1968. Menurutnya, Frans Seda meninggalkan fondasi penting bagi pengelolaan keuangan negara sebelum Indonesia memasuki era Pembangunan Lima Tahun (Repelita I).
Warisan tersebut, kata Suahasil, tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Nilai integritas, keberanian mengambil keputusan, serta pengabdian Frans Seda masih relevan dengan tantangan ekonomi Indonesia saat ini.
“Bapak Frans Seda memimpin perekonomian Indonesia di masa yang sangat sulit, saat kita harus keluar dari hiperinflasi sebesar 650%, cadangan devisa yang habis, serta tekanan utang luar negeri. Dengan tangan dingin dan integritas tinggi, beliau berhasil menurunkan inflasi secara drastis hingga 85% pada 1968, memulihkan kepercayaan internasional, dan mengembalikan kredibilitas fiskal Indonesia,” ujar Suahasil.
Suahasil kemudian menguraikan sejumlah reformasi dan fondasi teknokratis yang diwariskan Frans Seda. Salah satunya adalah keberanian menata belanja negara yang ketika itu mencapai tiga kali lipat dari penerimaan.
Penataan tersebut dilakukan melalui pemisahan anggaran rutin dan pembangunan, penertiban proyek mercusuar, hingga keputusan sulit berupa penyesuaian harga BBM untuk menjaga disiplin fiskal. Frans Seda juga disebut meletakkan cikal bakal Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai, sekaligus memperkuat tata kelola pembiayaan dan risiko.
Pelajaran dari periode tersebut, lanjut Suahasil, kembali terasa ketika Indonesia menghadapi berbagai gejolak ekonomi, mulai dari Krisis Moneter 1998, Krisis Global 2008, hingga pandemi COVID-19.
Saat pandemi, APBN mengambil peran counter-cyclical dengan memperlebar defisit secara terukur untuk meredam tekanan ekonomi. Pemerintah juga mengandalkan APBN untuk memberikan perlindungan sosial melalui BLT, bantuan subsidi upah, Kartu Prakerja, serta berbagai kebijakan untuk menyelamatkan masyarakat dan dunia usaha.
Kini, tantangan datang dari berbagai arah. Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, kenaikan harga komoditas energi, hingga tren kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) menjadi faktor yang terus diwaspadai pemerintah.
Dalam situasi tersebut, Suahasil menegaskan APBN harus tetap berfungsi sebagai peredam gejolak atau shock absorber. Peran itu terutama diarahkan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
“Gejolak global adalah sesuatu yang tidak bisa kita elakkan, namun kita bisa bersiap. Kunci utama dari kesiapsiagaan tersebut adalah APBN yang sehat dan kredibel. Konsolidasi fiskal dan disiplin anggaran bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk melindungi masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tegas Suahasil.
Menutup pidatonya, Suahasil mengaitkan peringatan 100 tahun Frans Seda dengan momentum Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) yang diperingati pada Oktober. Momentum tersebut dinilainya menjadi pengingat bagi jajaran Kementerian Keuangan untuk terus merawat kepercayaan publik.
“Kebijakan ekonomi harus terus menyesuaikan tantangan zamannya. Namun, kepercayaan publik, integritas, dan kredibilitas fiskal adalah fondasi utama yang wajib kita jaga dari masa ke masa,” tambahnya. (her)















