INDOPOSCO.ID – Perguruan tinggi diminta tidak hanya mengejar jumlah publikasi ilmiah maupun dokumen paten dari hasil penelitian. Riset akademis harus didorong hingga tahap hilirisasi, lisensi, dan komersialisasi sehingga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Yudi Darma mengatakan, hasil riset perguruan tinggi pada dasarnya memiliki dua jalur luaran utama. Pertama, penguatan ilmu pengetahuan melalui publikasi ilmiah. Kedua, menghasilkan nilai ekonomi melalui hak kekayaan intelektual (HAKI), termasuk paten.
Namun, menurut dia, kepemilikan dokumen paten saja belum cukup. Perguruan tinggi perlu memastikan paten yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Tugas kita sekarang adalah bagaimana mendorong dokumen-dokumen paten tersebut agar bisa menuju ke arah royalti dan lisensi, sehingga dampak ekonominya lebih terasa. Riset harus memiliki nilai manfaat yang nyata,” ujar Yudi kepada Indoposco.id ditemui di sela-sela Galeri PJJ UT 2026, Rabu (23/9/2026).
Dia menjelaskan, paten yang tidak dimanfaatkan berpotensi hanya menjadi beban administrasi bagi perguruan tinggi. Salah satunya karena adanya biaya pemeliharaan atau maintenance fee yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan paten.
Karena itu, lanjutnya, perguruan tinggi perlu memperkuat kapasitas riset yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan industri. Dengan begitu, hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk maupun solusi yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Dorongan tersebut sejalan dengan upaya Universitas Terbuka (UT) dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UT meningkatkan dukungan anggaran sekaligus memperluas skema penelitian bagi dosen dan tenaga kependidikan.
Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama dan Bisnis UT Hendrian mengatakan, penguatan riset merupakan bagian penting dari upaya menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat inovasi. UT juga terus mendorong hasil penelitian agar dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Anggaran rupiah yang kita keluarkan terus bertambah, begitu juga dengan skemanya. Saat ini skema produk kita sudah sampai ke eksternal, ada strategi nasional dan juga rispro (Riset Progresif) yang kita kembangkan. Ini bentuk support penuh pimpinan kepada teman-teman dosen dan tendik,” ujarnya.
Hendrian menuturkan, UT melalui LPPM juga mulai memfokuskan penelitian pada riset terapan yang memiliki jalur jelas menuju hilirisasi dan komersialisasi. “Hasil penelitian tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan internal kampus maupun pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan, produk riset diharapkan dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Dengan demikian, inovasi yang lahir dari lingkungan akademik dapat memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang pemanfaatan secara lebih luas.
“Arahnya adalah hilirisasi dan komersialisasi agar nilai public trust kita semakin meningkat. Dari sisi ekonomi akan ditata nilainya, termasuk perhitungan Internal Rate of Return (IRR) dan Net Present Value (NPV)-nya,” jelasnya. (nas)















