INDOPOSCO.ID – Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Untuk mencapainya, laju investasi harus lebih kencang, setidaknya tumbuh sekitar 7 persen.
Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara mengatakan target tersebut membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, Danantara, dan sektor swasta. Menurut dia, investasi menjadi salah satu kunci untuk memperbesar kapasitas ekonomi nasional.
“Untuk tahun depan kita memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen, dengan investasi yang perlu tumbuh di sekitar 7 persen. Kalau bisa lebih. Ini menjadi PR yang sangat besar. Karena itu kemudian berbagai macam elemen di dalam pembangunan kita harus bersinergi, harus bekerja sama,” ujar Suahasil di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Suahasil menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak hanya berfungsi sebagai shock absorber ketika ekonomi menghadapi tekanan. APBN juga harus menjadi agent of development yang mampu mengungkit aktivitas ekonomi melalui belanja, perpajakan, dan dukungan terhadap investasi.
Pada semester I 2026, pertumbuhan investasi tercatat 6,87 persen. Pemerintah menilai capaian tersebut masih perlu diperkuat agar sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Karena itu, kebijakan fiskal diarahkan sebagai fiscal enabler. Belanja negara akan difokuskan pada sektor-sektor yang memberikan dampak luas, sementara insentif perpajakan diberikan untuk mendorong investasi, konsumsi, dan daya saing usaha.
“APBN tentu harus terus menjadi fiscal enabler. Kalau kita belanja, kita memiliki belanja yang seperti titik refleksi tadi, titik akupunktur tadi. Kalau kita melakukan pajak, memungut pajak, pajak itu kita pungut dari yang betul-betul menghasilkan. Tapi di sisi lain, adanya insentif pajak, APBN juga bisa memberikan insentif pajak.” jelasnya.
Selain APBN, pemerintah mendorong Danantara berperan sebagai investment catalyst dengan menggabungkan kekuatan BUMN dan modal swasta untuk membiayai investasi strategis.
Sejumlah sektor disiapkan menjadi mesin pertumbuhan, mulai dari infrastruktur digital, elektrifikasi, manufaktur bernilai tambah tinggi, sumber daya alam, industri hulu strategis, pangan, hingga energi terbarukan. Pengembangannya akan ditopang oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, infrastruktur, kepastian regulasi, serta pembiayaan yang kompetitif.
Di tengah dorongan investasi tersebut, pemerintah tetap menjaga kesehatan fiskal. Dalam RAPBN 2027, defisit anggaran dirancang sebesar 2,4 persen terhadap PDB.
Pemerintah menekankan bahwa peningkatan belanja harus dibarengi efisiensi dan ketepatan sasaran. Dengan demikian, kebijakan fiskal diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi, akselerasi pertumbuhan, dan keberlanjutan APBN.
“Melalui sinergi tersebut, investasi diharapkan dapat tumbuh lebih kuat dan mendukung peningkatan kapasitas serta kesejahteraan masyarakat,” tambahnya. (her)















