INDOPOSCO.ID – Perkembangan industri di Morowali, Sulawesi Tengah, mulai menunjukkan keragaman sektor usaha. Tidak hanya dikenal sebagai kawasan pengolahan nikel, Morowali kini juga menarik investasi di sektor pangan melalui kehadiran PT FreeNow Food Industry, bagian dari Zhejiang Group asal Tiongkok.
FreeNow resmi memulai operasionalnya di Morowali pada Senin (7/9/2026). Sebelum beroperasi di Indonesia, perusahaan tersebut telah memiliki lima pabrik di Tiongkok dengan total 19 lini produksi. Dengan tambahan fasilitas di Indonesia, kapasitas produksi FreeNow diharapkan mencapai 84.000 ton per tahun.
Kehadiran FreeNow menjadi salah satu contoh berkembangnya hilirisasi di luar sektor pertambangan. Perusahaan tersebut bergerak di industri makanan dan diharapkan turut mendorong pengolahan komoditas kelapa di dalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani mengatakan pemerintah terus membuka peluang investasi dari berbagai sektor untuk membangun ekosistem industri di Indonesia. Menurutnya, hilirisasi tidak harus terbatas pada sektor pertambangan, tetapi juga dapat diterapkan pada komoditas pertanian dan perkebunan.
“Kehadiran FreeNow diharapkan ikut memperkuat ekosistem industri kelapa di Indonesia. Kita membuka peluang bagi semua investor dari berbagai sektor untuk dapat tumbuh bersama Indonesia,” ujar Rosan.
Bea Cukai Dukung Kemudahan Industri
Sementara itu, Kepala Bidang Fasilitas Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, Adeltus Lolok, mengatakan masuknya industri pangan menunjukkan bahwa sektor industri di Morowali mulai semakin beragam.
“Morowali sekarang bukan hanya soal nikel, tetapi kini menarik industri yang sangat berbeda, yaitu sektor makanan. Fasilitasi kepabeanan terbukti dapat menjadi magnet industri yang beragam,” ujar Adeltus.
Menurut Adeltus, sekitar 90 perusahaan kini beroperasi di Morowali. Dari jumlah tersebut, 49 perusahaan telah memanfaatkan fasilitas kawasan berikat yang diberikan Bea Cukai sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Fasilitas kawasan berikat memberikan kemudahan di bidang kepabeanan dan perpajakan bagi perusahaan yang memenuhi persyaratan. Bagi industri yang menggunakan bahan baku impor atau memiliki aktivitas perdagangan internasional, fasilitas tersebut dapat membantu menciptakan proses produksi dan distribusi yang lebih efisien.
Adeltus menjelaskan, investasi tidak hanya membutuhkan ketersediaan bahan baku dan pasar, tetapi juga kepastian serta kemudahan dalam menjalankan kegiatan usaha. Dalam hal ini, fasilitas kepabeanan menjadi salah satu faktor yang mendukung kelancaran rantai pasok dan daya saing industri.
“Investasi tidak hanya membutuhkan bahan baku dan pasar, tetapi juga kepastian dan kemudahan dalam menjalankan bisnis. Di sinilah fasilitas kepabeanan memiliki peran untuk mendukung daya saing industri,” ungkapnya.
Hilirisasi Kelapa Buka Peluang Ekonomi
Berbeda dengan industri pengolahan nikel yang selama ini menjadi ciri utama Morowali, FreeNow bergerak di sektor makanan dan berpotensi mendorong berkembangnya industri hilir berbasis kelapa.
Pengolahan kelapa di dalam negeri dapat memperpanjang rantai nilai komoditas. Kelapa tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Aktivitas tersebut juga berpotensi menciptakan kebutuhan terhadap transportasi, logistik, pengemasan, tenaga kerja, serta berbagai jasa pendukung.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyambut baik investasi FreeNow dan berharap kehadiran perusahaan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat. Asisten Bidang Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah, Abdul Raaf Malik menyampaikan bahwa investasi tersebut diharapkan menjadi mitra pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Pemerintah Sulawesi Tengah menyambut baik investasi FreeNow untuk membawa manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus sebagai mitra pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan,” katanya.
Semakin beragamnya investasi di Morowali menunjukkan peluang kawasan tersebut untuk berkembang dengan basis industri yang lebih luas. Kehadiran industri pangan di tengah dominasi sektor mineral juga menjadi gambaran bahwa hilirisasi dapat dikembangkan pada berbagai komoditas.
Dalam perkembangan tersebut, Bea Cukai berperan melalui pemberian fasilitas kepabeanan yang mendukung kelancaran arus barang dan kegiatan industri. Dengan layanan dan fasilitas yang sesuai ketentuan, perusahaan dapat menjalankan proses produksi serta perdagangan secara lebih efisien.
Morowali pun memiliki peluang untuk berkembang sebagai kawasan industri yang tidak hanya bertumpu pada nikel, tetapi juga mencakup sektor pangan dan industri pendukung lainnya. (srv)























