INDOPOSCO.ID – Di pesisir Labuhan Jontal, Desa Teluk Santong, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), laut bukan sekadar bentang biru di hadapan rumah-rumah warga. Dari laut pula sebagian penghidupan masyarakat bertumpu.
Di tempat inilah Fitriani mengolah ikan bage’, pangan olahan khas Sumbawa yang selama bertahun-tahun akrab di meja makan masyarakat setempat.
Dulu, ikan bage’ buatannya dipasarkan dengan kemasan sederhana. Kini bentuknya berubah. Ikan yang sama dikemas dalam vacuum aluminium foil dan standing pouch. Jangkauannya pun tak lagi berhenti di Sumbawa.
Produk Bale Seafood, usaha milik Fitria, telah dikirim ke Hong Kong, Malaysia, Singapura, dan Taiwan melalui jaringan reseller.
Perubahan itu berawal dari sesuatu yang sederhana, yaitu keyakinan bahwa makanan khas daerah punya pasar sendiri.
“Awalnya saya melihat pasar atau target market ikan bage’ ini ternyata banyak sekali diminati oleh warga Sumbawa,” kata Fitria kepada INDOPOSCO melalui gawai, Sabtu (5/9/2026).
Ia menemukan peluang itu ketika mengikuti berbagai bazar UMKM. Di sana, ikan bage’ bertemu dengan pembeli yang bukan hanya ingin makan, tetapi juga membawa pulang sesuatu yang mengingatkan mereka pada Sumbawa.
Para pendatang yang berkunjung ke Sumbawa, menurut Fitria, kerap mencari oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Di sisi lain, warga Sumbawa yang kini tinggal jauh dari kampung halaman juga menjadi pasar potensial.
“Tidak hanya pengunjung, bahkan beberapa warga atau masyarakat Sumbawa yang menetap di kota-kota besar seperti di Pulau Jawa juga banyak merindukan makanan khas daerah, ikan bage’ ini,” ujarnya.
Di tangan Fitria, kerinduan terhadap kampung halaman itu kemudian menemukan bentuknya dalam sebungkus ikan bage’.
Dari Oleh-Oleh Menjadi Identitas
Ikan bage’ mungkin bukan makanan baru bagi masyarakat Sumbawa. Justru karena itulah tantangannya berbeda.
Bagaimana makanan yang selama ini dikenal sebagai pangan rumahan dapat tampil sebagai produk yang pantas dibawa keluar daerah?
Jawabannya tidak hanya berada di dapur.
Fitria mulai menyadari bahwa kualitas produk, tampilan, kemasan, merek, dan pemasaran sama pentingnya dengan rasa.
Perubahan itu semakin terasa setelah Bale Seafood terpilih menjadi salah satu UMKM binaan dalam program Bale Berdaya.
Bale Berdaya merupakan program pemberdayaan UMKM yang diinisiasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama KUMPUL dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui antara lain mentoring, pengembangan produk, akses pasar, digitalisasi, dan jejaring usaha.
Fitria mengetahui pembukaan pendaftaran dari informasi program Bale Berdaya yang diselenggarakan KUMPUL. Setelah mendaftar, ia mengikuti proses kurasi produk dan wawancara. Namanya kemudian masuk sebagai peserta.
Enam bulan berikutnya menjadi masa belajar yang membawa sejumlah perubahan bagi Bale Seafood. Salah satunya menyangkut wajah produk.
Logo Bale Seafood yang sebelumnya menggunakan gambar kepiting diganti menjadi inisial “BS”. Kemasan yang semula berupa plastik vacuum dengan stiker kemudian berkembang menjadi kemasan luar standing pouch.
Bagi konsumen, perubahan itu mungkin terlihat sederhana. Bagi Fitria, perubahan tersebut merupakan bagian dari perjalanan membangun usaha.

Lima Kilogram yang Tumbuh Menjadi 40 Kilogram
Ukuran perubahan Bale Seafood juga dapat dilihat dari kapasitas produksinya.
Pada awalnya, Fitria mengolah sekitar lima kilogram ikan bage’ dalam satu siklus produksi. Kini jumlahnya dapat mencapai 40 kilogram setiap siklus.
Pertumbuhan tersebut tidak datang hanya dari perubahan kemasan. Ada proses belajar tentang bagaimana produk diposisikan, bagaimana kualitas dijaga, dan bagaimana pasar dicari.
Bale Berdaya sendiri pada 2024 telah menjangkau lebih dari 100 UMKM di tujuh wilayah di Kabupaten Sumbawa. Dalam publikasi program tersebut, AMMAN dan KUMPUL menyebut pendampingan diarahkan untuk membantu UMKM memperkuat kapasitas usaha dan membuka akses ke pasar yang lebih luas.
Namun bagi Fitria, manfaat program terasa dalam perkara yang lebih dekat dengan kesehariannya sebagai pelaku usaha.
“Sejauh ini AMMAN melalui program KUMPUL sangat banyak membantu di usaha yang saya tekuni,” tutur Fitria.
Ia menyebut pengetahuan yang diperoleh selama mentoring sebagai salah satu perubahan penting. Tetapi ada hal lain yang menurutnya tak kalah berarti, yakni pemasaran.
“Selain dari ilmu materi selama mentoring berbulan-bulan, juga dibantu dalam proses pemasaran jangkauan luas,” ujar Fitria.
Etalase Baru di Pintu Keluar Sumbawa
Salah satu akses pemasaran yang kini dimanfaatkan Bale Seafood adalah galeri produk UMKM binaan AMMAN di Bandara Sumbawa. Bagi produk makanan khas, lokasi tersebut mempunyai arti tersendiri.
Bandara adalah tempat orang datang dan pergi. Sebagian membawa barang bawaan, sebagian lain mencari oleh-oleh sebelum meninggalkan daerah.
Fitria mengatakan keberadaan galeri membuat produk UMKM binaan lebih mudah ditemukan pengunjung yang ingin membawa produk khas Sumbawa keluar daerah.
“Saat ini produk kami dibantu pasarkan di bandara Sumbawa oleh AMMAN. Ada satu galeri yang memang khusus untuk kami, UMKM binaan AMMAN, di sana,” ungkapnya.
Dari etalase di bandara itulah ikan bage’ mendapat ruang untuk bertemu konsumen yang lebih beragam. Tetapi perjalanan produk ini tidak berhenti di sana.
Dengan kemasan vacuum aluminium foil, ikan bage’ Bale Seafood kini dikirim secara rutin ke sejumlah negara melalui jaringan reseller.
Hong Kong. Malaysia. Singapura. Taiwan. Nama-nama tempat itu terdengar jauh dari Labuhan Jontal.
Namun bagi sebuah produk yang lahir dari pesisir Sumbawa, jarak tersebut justru menunjukkan sejauh mana makanan tradisional dapat bergerak ketika menemukan bentuk usaha yang tepat.
Bale Berdaya Dorong UMKM Tumbuh
Diketahui, program Bale Berdaya menjadi salah satu langkah AMMAN dalam mendorong pelaku UMKM di Sumbawa agar memiliki kapasitas usaha yang lebih kuat. Saat peluncuran program di Kantor Bupati Sumbawa, pada 20 Maret 2025, Vice President Social Impact AMMAN, Priyo Pramono, menyampaikan bahwa inisiatif tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang diarahkan pada penguatan sektor kewirausahaan lokal.
“Fokus PPM ini adalah untuk mendukung pengembangan kewirausahaan di Sumbawa agar mampu tumbuh menjadi usaha menengah. Kami berharap UMKM Sumbawa yang ikut dalam program Bale Berdaya semakin tumbuh mandiri dan berkembang menjadi roda penggerak perekonomian lokal, bahkan nasional,” ujar Priyo.
Dukungan terhadap pengembangan UMKM tersebut turut diperkuat melalui kolaborasi AMMAN dengan KUMPUL. Managing Director KUMPUL, Mega Prawita, mengatakan pendampingan yang diberikan akan mencakup penguatan usaha sekaligus membuka akses peserta terhadap jaringan yang lebih luas.
“Bersama AMMAN, kami berkomitmen untuk terus mendukung UMKM Unggulan Sumbawa untuk tumbuh melalui pendampingan yang menyeluruh dan akses ke jaringan yang lebih luas. Dengan kolaborasi ini, kami yakin UMKM Sumbawa bisa semakin maju, bahkan hingga ke pasar nasional dan internasional,” jelas Mega.
Kemasan Berubah, Rasa Tetap Sumbawa
Kembali ke Fitria. Ada ironi kecil dalam perjalanan ikan bage’ olahannya. Untuk membawa makanan tradisional ke pasar yang lebih modern, tampilannya harus berubah. Tetapi rasa dan identitas yang dijual justru tidak boleh hilang.
Standing pouch, vacuum aluminium foil, logo baru, dan strategi pemasaran hanyalah lapisan luar. Di dalamnya tetap ada ikan bage’, olahan yang bagi masyarakat Sumbawa memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika Fitria berbicara tentang pasar, ia tidak hanya bicara soal konsumen. Ia bicara tentang orang-orang yang merindukan kampung halaman.
Tentang perantau Sumbawa yang tinggal di kota-kota besar. Tentang wisatawan yang mencari oleh-oleh. Dan tentang makanan yang dapat menjadi pengingat dari mana seseorang berasal.
Di situlah ikan bage’ menemukan nilai tambah yang tidak selalu tercantum di label kemasan. Ia menjual rasa, tetapi juga menjual cerita.
Pemberdayaan yang Diuji oleh Pasar
Bale Berdaya memang menjadi bagian penting dalam perubahan usaha Fitria. Namun ukuran keberhasilannya pada akhirnya tidak cukup dilihat dari berapa banyak pelatihan yang diikuti.
Ujian sesungguhnya berada di pasar.
Apakah produk tetap dibeli setelah program selesai?
Apakah kapasitas produksi dapat dipertahankan?
Apakah reseller terus memesan?
Apakah konsumen di luar Sumbawa kembali membeli?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kelak menentukan apakah perubahan yang dialami Bale Seafood benar-benar bertahan.
Program Bale Berdaya sendiri menempatkan pengembangan usaha dan akses pasar sebagai bagian dari upaya memperkuat UMKM Sumbawa. KUMPUL mencatat bentuk dukungannya mencakup mentoring intensif, kemitraan strategis, bantuan sertifikasi, digitalisasi, akses pembiayaan, serta pameran.
Bagi Fitria, setidaknya sebuah pintu sudah terbuka. Ia tidak lagi hanya memikirkan bagaimana membuat ikan bage’. Ia juga memikirkan bagaimana produk itu dikemas, dikenalkan, dan dikirim sejauh mungkin.
Dari Labuhan Jontal, Sebuah Cerita Berjalan
Pada akhirnya, perjalanan Bale Seafood bukan cerita tentang ikan asin yang tiba-tiba menjadi produk ekspor.
Ini adalah cerita tentang perubahan bertahap. Tentang seorang pelaku usaha yang melihat peluang dari makanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tentang kemasan sederhana yang diperbaiki. Tentang merek yang dibangun ulang. Tentang produksi yang tumbuh dari sekitar lima kilogram menjadi 40 kilogram dalam satu siklus. Dan tentang pasar yang perlahan bergerak dari lingkungan sendiri menuju tempat-tempat yang jauh dari Sumbawa.
AMMAN dan KUMPUL hadir dalam salah satu bagian dari perjalanan tersebut melalui Bale Berdaya. Program itu memberikan pendampingan dan membuka akses yang sebelumnya mungkin tidak mudah dijangkau Fitria.
Tetapi yang menjalankan usaha tetap Fitria. Yang mengolah ikan tetap tangannya. Yang menjaga kualitas produk setiap kali produksi tetap dirinya dan timnya.
Dan yang membawa nama Bale Seafood ke pasar yang lebih jauh juga adalah kerja sehari-hari yang berlangsung setelah pelatihan selesai.
Di Labuhan Jontal, laut tetap menjadi bagian dari lanskap kehidupan. Sementara itu, ikan bage’ yang lahir dari pesisir tersebut telah menemukan perjalanan baru.
Ia bergerak dari pasar lokal ke bandara, dari tangan reseller ke konsumen di luar negeri. Jaraknya mungkin ribuan kilometer. Namun di balik kemasan yang kini lebih modern, ia tetap membawa satu hal yang sama, rasa Sumbawa.
Dan mungkin di situlah kekuatan sebuah produk lokal, bukan ketika ia berubah menjadi sesuatu yang sama dengan produk dari tempat lain, melainkan ketika ia mampu pergi jauh sambil tetap membawa identitas dari tempat ia berasal. (her)























