INDOPOSCO.ID – PT ESGIN Global Partners (ESGIN) memperluas pengembangan proyek karbon dan investasi hijau berbasis pertanian, agroindustri, dan peternakan di Provinsi Lampung.
Langkah tersebut ditandai melalui ESGIN Business Gathering 2026 bertajuk “Transforming Agriculture & Agro-Industry in Lampung into Green Investment & Carbon Opportunities” yang digelar di Lampung, Kamis (3/9/2026).
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah pengukuhan kolaborasi kemitraan investasi proyek methane removal pada pengolahan limbah cair dengan 23 pabrik tepung tapioka di Lampung yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI).
Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang telah ditandatangani pada Agustus 2026. Berdasarkan identifikasi awal, pipeline 23 pabrik tersebut diperkirakan memiliki potensi pengurangan emisi secara akumulatif sekitar 500 ribu ton CO₂e.
Chief Executive Officer (CEO) PT ESGIN Global Partners, Brandon Keam, mengatakan Lampung memiliki basis pertanian dan agroindustri yang kuat untuk dikembangkan menjadi ekosistem proyek iklim dan investasi hijau.
“Lampung memiliki potensi besar dari sektor pertanian, peternakan, dan agroindustri. ESGIN ingin menghubungkan potensi tersebut dengan teknologi rendah karbon, green investment, dan carbon markets sehingga pengurangan emisi tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi industri, petani, dan daerah,” ujarnya.
Industri tapioka menjadi salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang untuk pengembangan proyek karbon. Limbah cair dengan kandungan bahan organik tinggi dapat menghasilkan gas metana (CH₄) dalam proses pengolahan anaerobik.
ESGIN akan mendorong penerapan teknologi methane capture, destruction, dan utilization untuk mengurangi emisi metana. Bergantung pada konfigurasi proyek, gas yang ditangkap juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.
Pengembangan proyek tersebut akan diintegrasikan dengan Digital Monitoring, Reporting and Verification (Digital MRV), carbon accounting, pengembangan proyek karbon, hingga akses terhadap pembiayaan hijau dan pasar karbon.
ESGIN menegaskan angka 500 ribu ton CO₂e masih merupakan estimasi awal potensi pengurangan emisi. Volume emisi yang nantinya dapat diverifikasi serta jumlah kredit karbon yang dapat diterbitkan akan ditentukan setelah melalui studi kelayakan, penetapan baseline, pemilihan metodologi, monitoring, validasi, verifikasi, registrasi, dan pemenuhan regulasi yang berlaku.
Selain industri tapioka, ESGIN juga memperluas pengembangan proyek karbon melalui sektor peternakan dan pertanian.
Dalam kegiatan tersebut, ESGIN menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan PT Juang Jaya Abdi Alam, perusahaan peternakan sapi berskala besar di Lampung.
Kolaborasi tersebut berfokus pada pengolahan kotoran sapi menjadi biochar dengan mengombinasikannya bersama biomassa jerami padi.
Dengan basis populasi sekitar 20 ribu ekor sapi, kolaborasi ini menargetkan pengembangan kapasitas produksi biochar hingga sekitar 30 ribu ton per tahun.
Namun, kapasitas produksi dan realisasi akhir akan ditentukan berdasarkan hasil studi kelayakan, ketersediaan dan karakteristik bahan baku, konfigurasi teknologi, serta pengujian kualitas produk.
Biochar yang dihasilkan nantinya diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai soil amendment atau pembenah tanah guna mendukung peningkatan kualitas tanah dan praktik pertanian berkelanjutan.
Proyek tersebut juga akan dikaji potensinya sebagai carbon removal project dengan mempertimbangkan metodologi carbon accounting, ketahanan penyimpanan karbon, Digital MRV, validasi, verifikasi, serta standar dan regulasi karbon yang berlaku.
Brandon mengatakan, kolaborasi tersebut menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor peternakan dan pertanian.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin mentransformasikan kotoran ternak dan jerami padi menjadi biochar yang memiliki nilai bagi pertanian sekaligus berpotensi memberikan manfaat iklim. Model ini menghubungkan waste management, soil improvement, carbon removal, dan green investment dalam satu ekosistem ekonomi sirkular,” ucapnya.
ESGIN juga membuka peluang pengembangan proyek karbon di sektor persawahan Lampung melalui penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD).
AWD merupakan pendekatan pengelolaan irigasi dengan mengatur periode penggenangan dan pengeringan sawah secara terkontrol. Metode ini berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus menekan emisi metana dari lahan persawahan.
Pengurangan emisi dari penerapan AWD selanjutnya dapat dikembangkan menjadi proyek karbon apabila memenuhi aspek metodologi, baseline, additionality, serta monitoring, reporting and verification (MRV) dan ketentuan regulasi yang berlaku.
Pengembangan AWD juga membuka peluang keterlibatan petani secara langsung dalam transformasi menuju pertanian rendah karbon sekaligus menciptakan potensi nilai ekonomi baru dari aktivitas pengurangan emisi.
Pengembangan ekosistem proyek karbon tersebut mendapat dukungan dari pemangku kepentingan di daerah.
Penandatanganan MoA dalam ESGIN Business Gathering 2026 disaksikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung Elvira Umihanni, yang hadir mewakili Gubernur Lampung. Turut hadir Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Lili Mawarti.
ESGIN juga memperkuat kolaborasi dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Lampung yang diwakili Ketua Harian Umar Ahmad.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi peluang proyek karbon dan investasi hijau yang dapat melibatkan petani serta komunitas pertanian di Lampung.
Sejumlah potensi yang dijajaki mencakup pemanfaatan biomassa dan residu pertanian, pengembangan biochar, pertanian regeneratif, praktik pertanian rendah emisi, hingga berbagai inisiatif carbon removal.
Melalui berbagai kolaborasi tersebut, ESGIN mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi hijau dan sirkular yang terintegrasi di Lampung dengan mempertemukan pemerintah, petani, pelaku agroindustri dan peternakan, penyedia teknologi, lembaga keuangan, investor, hingga pelaku pasar karbon.
Model tersebut diharapkan dapat mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi. Limbah cair industri dapat dikelola untuk mengurangi emisi metana, sementara kotoran ternak dan jerami padi dapat diolah menjadi biochar.
Di sisi lain, penerapan AWD diharapkan dapat mendorong praktik budidaya padi yang lebih efisien dalam penggunaan air dan rendah emisi.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan proyek karbon tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kredit karbon, tetapi juga meningkatkan efisiensi industri, memperbaiki pengelolaan limbah, meningkatkan kualitas tanah, memanfaatkan energi terbarukan, serta menciptakan nilai tambah dan peluang investasi baru bagi daerah.
Setelah penandatanganan MoA, ESGIN akan melanjutkan pengembangan proyek melalui studi kelayakan, validasi data, kajian teknologi, penetapan baseline, pemilihan metodologi karbon, pengembangan Digital MRV, carbon accounting, serta penyusunan struktur investasi sebelum memasuki tahap implementasi dan komersialisasi.
Dengan pipeline 23 pabrik tapioka dengan estimasi awal potensi pengurangan emisi sekitar 500 ribu ton CO₂e, target produksi biochar hingga 30 ribu ton per tahun, serta penjajakan proyek karbon padi berbasis AWD, ESGIN menilai Lampung memiliki fondasi kuat untuk berkembang sebagai salah satu hub strategis proyek karbon, circular agriculture, dan green investment di Indonesia. (rmn)























