• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Rampas Aset

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:00
in Disway
disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Saya kagum pada siapa pun yang berhasil membuat demo UU Perampasan Aset itu berakhir jauh sebelum matahari tenggelam. Saya pun memaklumi kalau banyak yang kecewa: kok demonya berakhir begitu saja.

Dari situ saya melihat kematangan Mas Botok, tokoh sentral demo yang dari Pati, Jateng itu. Ia teguh pada tujuan: agar UU Perampasan Aset disahkan oleh DPR. Tidak mau ada tuntutan yang melebar ke mana-mana. Ketika tujuan pokoknya sudah tercapai ia mengajak masa dari Pati untuk bubar. Pulang.

BacaJuga:

La Hua

Life Begins

Networking Rebahan

Mas Botok tidak peduli meski ia dimaki-maki banyak orang. Terutama oleh mereka yang merasa sudah berkorban menyokong demo itu lewat dana, air botol, roti, dan simpati. Lebih terutama lagi oleh para sutradara yang ingin demo berlanjut sampai matahari tenggelam: setelah gelap para sutradara itu bisa memainkan para stuntman untuk beraksi dalam kegelapan. Lalu bisa rusuh. Setelah rusuh terserah mereka: endingnya mau dibawa ke mana pun bisa. Kalau perlu sampai menyasar istana. Atau samping-samping istana.

DPR sebenarnya sudah mencoba meredam tuntutan Pati itu dua hari sebelum jadwal demo. Yakni dengan cara mengundang tokoh muda Pati ke DPR: Lukman Hakim. Didengarlah pendapatnya di DPR. Hasilnya? Justru bikin marah publik. Itu karena publik tahu Lukman Hakim bukanlah siapa-siapa di mata kelompok Mas Botok. Bahkan dianggap di seberang mereka.

Cara lain untuk mengurungkan demo juga sudah dilakukan: lewat ”pembekuan” rekening Mas Botok di Bank Mandiri. Itulah rekening penampungan dana dari simpatisan untuk mendukung perjalanan pendemo ke Jakarta. Maksudnya, mungkin, agar mereka tidak punya biaya untuk ke Jakarta. Bahkan siapa tahu bisa membuat orang takut mengirim donasi ke kelompok Mas Botok: kan bisa dicari-cari unsur pidananya.

Hasilnya?

Anda sudah tahu: justru blunder besar. Justru kian besar saja simpati untuk Pati. Kian besar pula dukungan untuk demo itu. Kian terbakar hati mereka yang sudah membara.

Yang terbakar paling nyata adalah Bank Mandiri. Kemarahan publik kepada bank itu sudah sampai level yang sangat mengkhawatirkan. Terutama bagi bank milik negara itu sendiri. Ia jadi korban keputusan yang tidak dirancang dengan matang.

Publik justru emosi ketika pemblokiran itu ditutupi dengan alasan ”untuk melindungi pengirim uang maupun pemilik rekening”. Alasan seperti itu dengan mudah bisa dibaca: alasan yang dicari-cari secara tergopoh-gopoh.

Akhirnya disadari: sendi-sendi Bank Mandiri bisa goyah. Lalu keluarlah putusan pemblokiran itu dicabut. Goresan sudah melukai Bank Mandiri.

Sampailah datang waktu senja tanggal 26 Agustus 2026. Matahari tenggelam seperti lebih bergegas. Bulan purnama pun mulai menampakkan menornya di langit timur Jakarta. Kian gelap medsos kian riuh: demo Pati di Jakarta pasti terjadi. Kian malam kian panas. Puncak panas itu terjadi ketika Mas Botok diajak masuk ke mobil polisi. Atau sengaja dimasukkan. Mobil itu dihadang massa. Dikepung. Dipepet. Mas Botok harus dikeluarkan dari mobil. Mereka sangat mengkhawatirkan akan dibawa ke mana tokoh demo mereka. Polisi memenuhi permintaan itu. Selesai.

Pukul 02.30 –sudah tanggal 27 Agustus– saya bangun. Biasa. Langsung buka HP. Muncul notifikasi: live channel. Kamera mengarah ke jalan raya depan DPR di Senayan. Beberapa orang terlihat duduk menunggu pagi. Seperti juga menunggu siapa lagi yang mau datang ke lokasi demo.

Narasi live itu tidak provokatif. Narasinya sangat simpatik. Pun trhadap komentar yang nadanya anti demo. Tidak reaktif. Tetap dingin. Tetap simpatik.

Ternyata sedini itu sudah banyak yang live lewat channel masing-masing. Saya pindah-pindah. Ketegangan sedikit muncul ketika narasi di situ menyebut mulai kesulitan sinyal. “Kami sudah tidak bisa menggunakan Indosat sama sekali,” ujar salah satu narasi. Kesannya: pihak keamanan mulai membatasi gerak medsos. Mungkin agar tidak terjadi seperti di Nepal: pemerintah terguling akibat demo yang digerakkan oleh medsos. Rasanya Indosat tidak ada kepentingan apa-apa. Indosat sudah milik Ooredoo, Qatar.

Narasi lainnya memberi peringatan: “Kalau nanti kami tidak bisa live di channel ini Anda bisa pindah ke FB,” katanya. Seolah semua jaringan selular terancam akan ditutup. Lalu bermunculan pertanyaan di layar HP: akun FB nya yang mana.

Sampai pukul 05.00 saya terus mengikuti live dari sarang demo di Jakarta. Untung ada Dismorning. Tiap jam lima pagi. Saya tinggalkan live itu untuk live sendiri di Dismorning. Saya bilang ke Sasa, host Dismorning: “Mungkin pagi ini tidak ada orang yang menyaksikan kita di Dismorning. Semua orang akan memilih menyaksikan live situasi Jakarta menjelang demo,” ujar saya kepada Sasa. “Orang pingin mengukur suhu politik Jakarta. Aman atau tidak aman,” kata saya lagi.

Selesai Dismorning saya harus berangkat olahraga. Di jalan saya ikuti lagi live. Belum banyak perkembangan. Setelah itu kesibukan lain susul-menyusul. Siangnya baru live lagi: begitu banyak yang mendukung demo. Terutama dari pengemudi ojek online.

Tengah hari saya balik ke live: demo tidak seberapa besar. Setidaknya tidak sebesar yang dikhawatirkan. Sekitar 3000 orang.

Tapi itu juga sudah besar. Dan akan benar-benar besar kalau tidak segera ada jalan keluar. Mereka bisa bermalam di jalan raya depan DPR. Simpati bisa kian besar. Bisa meluas. Bisa ditunggangi. Bisa rusuh. Apalagi kalau sampai senja digantikan gelap.

Bahaya itulah yang dibaca para politisi di DPR. Khususnya oleh Wakil Ketua DPR Don Dasco. Maka Mas Botok dan tim intinya diajak masuk ruang sidang DPR. Diajak bicara. Lalu keluarlah jaminan dari Don Dasco yang sangat terkenal itu: Kalau sampai 15 Desember UU Perampasan Aset tidak disaahkan, ia akan mengundurkan diri. Pun para wakil ketua DPR lainnya: Cucun Ahmad Syamsurijal, Saan Mustopa, dan Sari Yuliati. Tidak jelas mengapa Ketua DPR Puan Maharani tidak melibatkan diri dalam penjaminan itu.

Demo pun berakhir. Jakarta selamat dari kerusuhan. Letupan kecil tetap terjadi di sana-sini. Tapi bisa diatasi. Rupanya skenario ”rusuh malam” kehilangan momentum. Kelihatannya tetap ada yang ingin memaksakannya. Sejumlah peristiwa terjadi di kegelapan. Tapi timing-nya sudah layu sebelum berkembang.

Don Dasco pantas dapat Piala Citra untuk kategori penyutradaraan terbaik di festival film mendatang. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 28 Agustus 2026: La Hua

Rashad Alvarado

Muhammadiyah menerjunkan dapur umum dan membagikan 10.000 porsi bakso gratis Juga membantu pengamanan dgn menerjunkan Kokam Pemuda Muhammadiyah. NU MU bersaudara

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

MUKTAMAR DAN MARTABAT.. Yang menarik dari CHDI hari ini bukan siapa yang akan menjadi Rais Am atau Ketua Umum PBNU. Lebih menarik adalah satu kata: Martabat. Muktamar mestinya menjadi ruang memilih pemimpin. Bukan arena memindahkan peserta dari bandara ke tempat misterius. Bukan pula lomba “mengamankan” suara. Kalau benar terjadi karantina, demokrasi sedang diberi vitamin yang salah. Saya teringat Muktamar Cipasung. Intervensi pemerintah waktu itu begitu kuat. Tetapi para pemilik suara justru menunjukkan kemandirian. Gus Dur tetap terpilih. Ironisnya, setelah puluhan tahun, teknologi politik semakin canggih. Jemput bola makin rapi. Karantina makin kreatif. Tetapi independensi justru dipertanyakan. Karena itu, persoalan terbesar Muktamar Tambakberas bukan sekadar siapa menang. Melainkan apakah yang menang benar-benar hasil pilihan, atau hasil pengondisian. NU punya sejarah panjang. Punya ulama besar. Punya tradisi musyawarah. Jangan sampai Muktamar menghasilkan ketua umum yang sah secara prosedur, tetapi kalah secara moral. Sebab pemimpin bisa dipilih dengan suara. Tetapi martabat tidak bisa dihitung dengan kalkulator.

Sony Hariyanto

Panas di atas adem di bawah … Yg di Atas tidak tahu malu Yg di Bawah selalu menunduk Yang atas memikirkan kekuasaan abadi Yang bawah open donasi buat muktamar … Nyimak sambil geleng geleng

Hasyim Muhammad Abdul Haq

iya, saya juga tidak percaya masih ada ger-geran. Yang ada gegeran terus secara internal.

rian

Saya tak percaya ada ger-geran NU usai setiap muktamar sejak insiden kemarin, dimana para mantan calon dan pendukung-pendukungnya saling mengumbar aib pesaing-pesaingnya.

DeniK

Tua nya umur organisasi belum tentu tua dalam berorganisasi . Saya dapat apa ? Itu sekarang mendominasi.

Fauzan Samsuri

Pemilihan Rais Am melalui AHWA saya kira sudah clear, sedangkan pemilihan Ketua Umum yang dikenal syarat dengan kepentingan apa salahnya NU mengadopsi cara Muhammadiyah dikolaborasi dengan AHWA, toh Muhamadiyah adalah seniornya NU dalam hal organisasi, sayang ini hanya usulan dari bukan peserta Muktamar apalagi orang yang merasa bisa membeli Muktamar

Tiga Pelita Berlian

OOT ya .. Terkait aksi demo kemaren, saya angkat topi atas cantiknya permainan mas Botok, angkat topi jg atas elegan nya Pak SDA (sufmi), dan akhirnya banyak yg masuk kolam yg salah, basah lah mereka & terbacalah keasliannya .. Itu saja Seklangkong

Juve Zhang

@Jokosp…..Astra itu ya pemilik nya keluarga Keswick yg punya induk usaha di Hongkong mereka juga pemilik berbagai bisnis seperti Hotel Mandarin….itu jaringan hotel milik keluarga Keswick….Cuan Astra setahun rata rata 32 triliun Rupiah….membuat keluarga Keswick sangat ka ya Raya….kalau korupsi boleh dibilang gak ada di Astra…. kemarin Don Dahlan Iskan bilang BYAN cuan setahun 32 triliun itu hanya tahun 2022 saat harga batubara naik ke level 400 dolar se ton…. sekarang cuan BYAN turun level 14 triliun setahun makanya Datuk Mau jual sekarang sebelum amblas terus cuan nya…..nah Astra beda Cuan nya stabil di sekitar 32 triliun setahun….sebuah perusahaan swasta terbaik disamping Bank BCA…..dua duanya primadona yg satu dilelang jatuh ke keluarga Djarum yg satu dilelang jatuh ke keluarga Keswick….sebuah kisah nostalgia zaman hancur lebur ekonomi 1998…. Rupia anjlok 600% …kisah 100 tahun sekali….

Jokosp Sp

Yang datang ke rumah ketika ada survei dari BPS ekonomi adalah lulusan dua tahun lalu sebuah SMK. Mereka adalah para tenaga yang dikontrak. Tentang kualitas mereka saya boleh nilai hanya dapat nilai rapor 5 dari 1 sampai 10. Kok bisa menilai segitu?. Ketika kami ajak diskusi ke pemahaman item yang disurvei cuma jawabannya : “Sesuai apa yang sudah tertulis di kertas yang diberikan pihak BPS”. Ketika minta copy Kartu Keluarga dan kami tanya untuk apa?. “Untuk mencocokkan dengan data penduduk”. Ternyata nomer KK tersebut sudah link dengan data yang ada di BPS tentang data tahun lalu. Pertanyaan lain sekitar penghasilan/ bulan berapa?. Ibu kerja apa?. Listrik berapa daya yang dipakai?. Pakai AC tidak, berapa biji?. Ketika kami bilang sudah minus, malah mereka bingung dan muncul pertanyaan “Ah….masa bisa begitu?”. Ternyata ilmu ekonominya yang dipelajari di SMK tidak dijalankan. “Kami bilang bahwa ketika input lebih kecil dari output itu namanya minus”. Darimana bapak ibu hidup?. “Dari tabungan. Bisa juga dari warisan. Bisa juga dari bantuan keluarga. Bisa juga jual aset”. Saya tidak mengeri penjelasan bapak?. “Ya karena anda masih anak-anak yang baru lulus SMK, yang makan ikut orang tua. Belum tau cara bagaimana orang tua harus bisa menghidupi keluarga”. Ya maaf bapak…., kamipun setelah lulus sekolah juga jualan es di pinggir jalan yang tak seberapa dapat hasilnya. Itu namanya ekonomi yang seperti apa?. “Itu namanya ekonomi yang sulit….jelas. “Jelas pak….terima kasih”.

Murid SD Inpres

((((( BENCANA DESIL ))))) 1. Pak Mohammad Saleh, 69 tahun, tukang becak, warga Pamekasan, Jawa Timur, penghasilan harian dari mengayuh becak Rp30 ribu sehari. Bansos yang rutin diterimanya selama era Presiden Joko Widodo, kini dicabut. Alasannya, masuk desil 6 ke atas, menengah sejahtera. 2. Mas Timbul, 49 tahun, warga Kulon Progo, Yogyakarta, penarik becak juga. Puterinya yang masuk Universitas Negeri Yogyakarta terancam tidak bisa mendapat beasiswa karena sang ayah kini dicatat Negara masuk desil 9 (sejahtera), melampaui desil lurahnya sendiri yang desil 8. 3. Diandra Fristi, mahasiswi Universitas Negeri Surabaya, dengan IPK 3,9 juga kini beasiswanya ditolak lantaran sang ayah yang selama ini berprofesi sebagai tukang antar galon dengan upah Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, tercatat berada di desil 7, padahal di Kemensos sang ayah terdata lebih akurat di desil 2. 4. Kang Ajat, 37 tahun, pedagang es keliling di Rangkasbitung, Banten, sekaligus pasien cuci darah yang menggantungkan biaya perawatan cuci darah kepada BPJS Kesehatan kategori PBI, kini status PBI-nya dicabut karena dia digolongkan di golongan desil 6, sementara BPJS Kesehatan PBI (Penerima Bantuan Iuran) hanya untuk desil 1 sampai 4. 5. Salah satu akun Threads membagikan kekagetan ketika dirinya diketahui masuk desil 9, padahal dirinya tidak pernah disurvei petugas Badan Pusat Statistik.

Lagarenze 1301

Prabowo dukung siapa? Pidatonya saat pembukaan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Kamis 27 Agustus 2026, bisa dimaknai bermacam-macam. Prabowo menyebut nama Gus Yahya dalam dua momen. Satu di antaranya, Prabowo mengatakan hal ini: “Gus Yahya, aku dari dulu minta kartu NU. Jadi, masih utang sama saya, ya. Kalau bisa, sebelum penutupan muktamar-lah. Kalau penutupan tanggal 31, bener ya, kalau ada kartu anggota, aku datang lagi tanggal 31.” Pendukung Gus Yahya memaknai pernyataan itu sebagai “Prabowo masih menginginkan Gus Yahya jabat Ketua Umum PBNU”. Dan, makna lainnya, “Prabowo akan datang lagi di acara penutupan kalau Gus Yahya yang terpilih”. Prabowo dan partai penguasa punya kepentingan besar terhadap NU. Terutama dari sisi politik. Kalau bisa, jangan sampai PBNU rukun dengan PKB. Partainya Muhaiman Iskandar itu menempati posisi 4 hasil Pileg 2024. Kalau PKB solid dengan PBNU, suaranya bisa menyalip Gerindra (posisi 3) di Pileg 2029 kelak.

Wilwa

@MSDI. Setahu saya @Liam bukan Buddhist, bukan Kristen, bukan pula Muslim. Mungkin Khonghucu. Jadi gak semedi di bawah pohon kapuk. 🙂 Buddhist kini mah meditasi di Vihara yang seringkali berlantai granit dan ber-AC.

Liam Then

Pejabat yang munculkan istilah ini saya spekulasi mabok sekolahan. Keminter atau kepinteran. Ada yang mudah malah pilih yang susah.

Murid SD Inpres

prof @liam then … taroh selama ini prof @liam then tercatat desil 1, miskiiiiiiiiiiin sangat. menderita lahir batin. tapi beruntungnya, pemerintah kasih prof @liam then wang juta juta tiap bulan, bansos likuid, diambil tiap bulan di kantor pos. lalu mendadak, tanpa hujan tanpa angin, prof @liam then status desilnya mencelat ke 10, ultra sejahtera, desil yang representasi sultan sekaligus konglo batu bara. dicabutlah bansos juta juta untuk prof @liam then…. menderita betulan kali ini hidup prof @liam then……. pertanyaannya: bagaimana cara prof @liam then merespon fakta brutal tersebut? apakah dengan olah napas, semedi di bawah pohon kapuk, supaya mendapat enlightenment, dan akhirnya bebas dari samsara (penderitaan) karena tiba tiba prof @liam then dirawat di rumah sakit jiwa? atau bagaimana?

Jokosp Sp

Catatannya: “UU Perampasan Aset disetujuipun tidak menjamin korupsi di Indonesia ini dibasmi dan hilang”. Sebab apa?. “UU Tipikor sudah ada, harusnya bisa menjerat pelaku korupsi dan dihukum seberat-beratnya sampai hukuman mati”. Jadi masalahnya di mana?. “Masalahnya ada di aparat penegak hukumnya. Mereka malah yang jadi pelaku kejahatan korupsinya. Korupsi di atas korupsi. Saling menjerat antar aparat dan pejabat agar korupsinya tetap aman”. Ada solusinya?. “Tinggal satu di tangan presidennya sebagai pemimpin tertinggi di negara ini”. “Mau tidak bertindak tegas dan berani menghukum mati pelaku korupsi, juga menyita asetnya. Pengecekan aset bukankah mudah dengan penggeledahan dan audit kekayaannya?. Jika ditemukan penyimpangan dari penghasilan gaji sebagai ASN tinggal proses hukum”. Jadi yang sulit apanya?. “Yang sulit itu tidak ada kemauan bersih dan berani dari presidennya sebagai orang tertinggi di negeri ini”. “Menindak bawahan apa sulitnya.”.” Lingkungannya sudah ikut terlibat saat jadi dan dibutuhkan saat menjadi pemimpin dan jadi pejabat. Jadi lingkungan kotor itu harus dihabisi, ya dihukum mati”. Dan kalaupun para ketua DPR mengundurkan diri toh mereka jelas akan diberi jabatan lain oleh pemilik dan ketua partainya, sekaligus yang jadi presiden. Jangan terkecoh. Rakyat jelantah memang mudah dibodohi.

Bahtiar HS

Wah mb @Isti baca buku2 Andrea Hirata ya? Btw, bagian mana karya Andrea yg mampu membuat sampean menangis? Kalau saya: Sang Pemimpi. Dalam cerita itu, Wakepsek Pak Mustar memberlakukan aturan saat pengambilan raport di mana kursi orang tua di aula di atur sesuai peringkat rapor anaknya. Ketika itu nilai Ikal merosot dan peringkatnya jatuh ke belakang. Karena itu, ayahnya yg biasa duduk di barisan terdepan harus berjalan menuju deratan kursi di paling belakang. Yg mengharukan adalah, meskipun tidak lagi juara, bahkan merosot di kursi paling belakang, sang ayah tetap mengayuh setia sepeda tuanya sejauh 30 km ke sekolah Ikal, mengenakan baju safari 4 saku kebanggaannya demi mengambil rapor sang anak, tanpa menunjukkan rasa kecewa. Peristiwa itu disaksikan dg mata kepala Ikal, sang anak dan membekas dalam dirinya. Tidak ada yang berubah sedikit pun pada diri ayahnya mendapati dirinya mungkin mengecewakannya. Karena itu, ketika Ikal melepas ayahnya kembali ke rumah dengan sepedanya yg sejauh 30 km itu, ia berseru bahwa ayahnya adalah: Ayah juara satu di seluruh dunia! Hmmm saat itu kok tiba2 aku menangis membacanya. Hahaha. Anak saya baru 4 ketika Sang Pemimpi terbit.

istianatul muflihah

George Orwell menulis buku Why I Write. Murakami menulis Novelist as a Vocation. Makhfud Ikhwan, menulis buku Menumis itu Gampang Menulis Tidak. Bulan ini Andrea Hirata menulis, Tak Mau dirayu Bulan. Buku buku yang ditulis oleh penulis. Tentang menjadi penulis.

Fauzan Samsuri

Dinamika di Muktamar masih dinamis, pemilihan Rois Am dan Ketua Umum baru akan dilaksanakan Sabtu 29 Agustus 2026 pukul 19.30 – 23.30 pada Sidang Pleno V, jika sesuai jadwal yang beredar. Ayat “la mifta wa la yahya” bisa jadi terbukti bisa jadi tidak, apalagi judul CHDI hari ini hanya pakai La Hua (tidak dia) bukan La Huma (tidak mereka berdua), bisa diartikan salah satu bisa saja ada yang terpilih, bisa jadi Kyai Miftah jadi Ra’is Am dengan Ketua Umum bukan Gus Yahya atau sebaliknya Ketua Umum Gus Yahya dengan Ra’is Am bukan Kyai Miftah, masih dinamis kita tunggu saja Ahad pagi hasilnya. Terlepas dari siapa yang jadi diantara keduanya jangan sampai kita berkeyakinan bahwa penentu Muktamar NU kali ini adalah tiga jagoan itu saja, kecuali kalau kita sudah tidak percaya lagi dengan ayat “La haula wa la quwwata illa billahil alliyyil adhim”.

ikhwan guru sejarah

Saya lahir dan besar di keluarga Muhammadiyah. Saya paham dan bisa merasakan bagaimana bapak dan ibu saya berjuang menghidup-hidupkan Muhammadiyah, tidak mencari hidup di Muhammadiyah. Di lingkungan keluarga Bapak saya, ada juga yang berlatar belakang NU. Di kampus saya dekat dengan teman-teman NU dari Jawa Timur. Saya tau bagaimana kyai-kyai kampung berjuang membersamai masyarakat dengan pendekatan Nu-nya. Betapa masyarakat kecil sangat membutuhkan bimbingan, tauladan, dan naungan dari para kyai NU. Entah mengapa NU sekarang jadi begini. Tega sekali mereka yang mengkhianati para Masyayikh pendiri NU. Mereka yang tega mencari kekayaan (bukan lagi sekedar hidup) melalui NU, menjual ummat demi kepentingan pribadi. Kasian jamaah. Saya sedih dan ingin menangis.

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

La Hua

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Life Begins

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Networking Rebahan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Geger Gowa

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Bintang Vela

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Kupas Bawang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Trophi-Carabao
Olahraga

Ada MU vs Brighton hingga Liverpool vs Tottenham, Ini Drawing Babak Ketiga Carabao Cup

Editor Ali Rachman
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:20

INDOPOSCO.ID - Babak ketiga Carabao Cup 2026/2027 belum dimainkan, tetapi panasnya sudah terasa sejak hasil undian diumumkan. Sejumlah klub Premier...

SelengkapnyaDetails
YKK-Real Madrid Foundation Nyalakan Mimpi Anak Indonesia lewat Sepak Bola

YKK-Real Madrid Foundation Nyalakan Mimpi Anak Indonesia lewat Sepak Bola

Jumat, 28 Agustus 2026 - 22:05
Trophi-Liga-Champions

Drawing Liga Champions: Deretan Bigmatch Langsung Hiasi Fase Liga

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:47
Piala-AFF

Bekuk Tailan di Final AFF, Kim Sang Sik Ukir Sejarah untuk Vietnam

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:43
RF

Jakarta Jadi Saksi, RF ONLINE NEXT Bawa Kejutan Besar untuk Player Indonesia

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:03

BERITA POPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.