Di samping ada Muktamar NU dan seminar kebangsaan oleh paguyuban suku Hakka di Indonesia, hari ini –26 Agustus– adalah ulang tahun emas PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Saya ingin merayakan secara khusus ultah ke-50 PT DI itu lewat tulisan hari ini.
Sebenarnya ada satu lagi peristiwa hari ini: seorang peserta muktamar Disway kehabisan listrik di jalan tol Caruban arah Jakarta. Ia derek Denza itu. Hari ini ia harus ke dilernya: kenapa begitu.
Tentu yang terpenting dari semua itu adalah HUT PT DI. Bisa jadi ulang tahun kali ini sebagai penanda kebangkitan PTDI –lewat produk baru kebanggaannya: N219. Pesawat untuk 19 penumpang itu dibuat sepenuhnya di Bandung. Oleh anak-anak bangsa sendiri. Mulai desain sampai jadi pesawat.
“Tidak satu pun ada keterlibatan orang asing,” ujar Gita Amperiawan, dirut PTDI dengan penuh semangat.
Gita adalah jenderal bintang dua TNI Angkatan Udara. Marsekal Muda. Gita bukan jenderal biasa. Ia alumnus teknik mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), angkatan 1985. Di tahun keempatnya di ITB pun Gita sudah dinyatakan lulus tes beasiswa TNI-AU. Boleh dikata Gita adalah mahasiswa yang sudah “diijon” sebelum lulus.
Maka Gita harus “cuti” kuliah: satu semester. Gita harus mengikuti pendidikan militer di Bumimoro, Surabaya. Setelah itu balik lagi ke ITB sampai lulus. Lalu dapat beasiswa BJ Habibie untuk melanjutkan S-2 di Inggris. Di bidang ilmu material canggih kedirgantaraan.
Sambil terus berkarir di TNI-AU Gita mendapatkan beasiswa lanjutan. Juga di Cranfield University, Inggris. Yakni untuk program doktor teknik mesin pesawat. Disertasinya tentang pengendalian suhu panas untuk keandalan turbin.
Saya membuka-buka jurnal ilmiah: begitu banyak karya ilmiah Gita di publikasi di tingkat internasional. Khususnya di bidang penerbangan, perawatan pesawat sampai ke marketing dan manajemen industri pesawat. Ia memang punya gelar satu master lagi: MBA dari ITB.
Sejak menjabat dirut PT DI di tahun 2022 –waktu itu Prabowo Subianto menjabat menteri pertahanan– Gita tahu: selama ini PT DI terlalu bergantung pada pemasok tertentu. Eropa dan Amerika.
Gita juga tahu yang paling banyak membeli pesawat Casa adalah negara-negara di Amerika Latin: negara berbahasa Spanyol, tempat Casa diproduksi: Spanyol. Perawatan pesawat mereka terganggu. Tidak cukup lagi pasok suku cadangnya.
Gita melihat itu sebagai peluang besar bagi PT DI. Khususnya di bidang yang amat ia kuasai: pemeliharaan. PTDI sudah dikenal ahli N-235 yang berbasis Casa.
PT DI, pikirnya, bisa mendapat banyak bisnis pemeliharaan di Amerika Latin. Bukan sekadar pemeliharaan: juga menghidupkan banyak yang sudah mati. Termasuk turbinnya. Sampai pun ke recoatingblade-nya. Dan itu adalah keahlian Gita. Ia pernah sampai menjabat kepala direktorat pemeliharaan Mabes TNI AU: bertanggung jawab pada keandalan operasi pesawat-pesawat militer.
“Banyak Casa yang grounded di sana,” ujar Gita.
Suatu saat Gita dipanggil Presiden Prabowo. Diberi order besar: bikin pesawat N219 sebanyak 80 pesawat. Gita bergegas mengkajinya. Terutama dari mana akan dapat pasok suku cadang. Ini berarti perlu modal kerja yang besar.
Pemasok di Eropa dan Amerika pasti tidak mau kirim suku cadang tanpa dibayar. Reputasi kemampuan bayar PT DI selama ini dikenal tidak terlalu baik.
Tapi mereka mulai tertarik kembali berhubungan dengan PT DI. Apalagi mereka tahu ada order resmi dari pemerintah Indonesia.
Gita tahu: tidak mungkin bisa menyelesaikan 80 pesawat dalam lima tahun. Ia pun beberapa kali menghadap Presiden Prabowo untuk mendiskusikan soal itu.
Kemampuan PT DI selama ini hanya membuat pesawat N235 satu pesawat tiap bulan. Antara lain karena terbatasnya modal kerja dan ketersediaan pasok suku cadang –ini juga soal modal kerja.
Maka Gita cari akal untuk mencari pemasok agar lebih banyak pilihan. Masih ada Kanada. Ada Tiongkok. Ada Brasil. Tergantung mana yang bisa memberi dukungan lebih baik bagi PT DI.
Tidak hanya itu. Gita juga mencari pemasok dalam negeri. Ia mendorong swasta nasional untuk bisa memasok N219 PT DI. Seperti halnya Vela, helikopter listrik buatan PT Vela Prima Nusantara, Bandung. Karbon kompositnya sudah bisa dipasok dari dalam negeri (Disway 22 Agustus 2026: Bintang Vela).
“Ternyata banyak yang bisa dipasok oleh perusahaan dalam negeri. Jangan semuanya impor,” ujar Gita.
Ini juga persoalan modal kerja.
Gita pun ingat: orang kepepet sering punya ide baru. Bisa lebih kreatif. Gita tahu, di bidang lain, banyak mesin yang dijual di Indonesia dengan sistem “sewa pakai”. Mesin apa saja. Mulai dari foto copy sampai mesin MRI: untuk kamar radiologi rumah sakit besar.
Ada produsen mesin MRI yang mau mesinnya ditaruh di satu rumah sakit tanpa bayar di depan. Membayarnya berdasar berapa kali dipakai oleh pasien di rumah sakit itu. Semacam bagi hasil.
Mungkin memang belum ada pabrik mesin pesawat yang mau dibeli dengan sistem sewa pakai. Perintis sistem ini adalah mesin foto copy. Lalu digital printing. Berkembang tak terkendali. Sampai pun kini ke mesin MRI.
Siapa tahu mesin pesawat juga bisa dibeli dengan cara itu. Mungkin saja produsen mesin pesawat dari Tiongkok mau dirayu untuk pakai sistem sewa pakai.
Kalau cara baru Gita berhasil order 80 buah N219 akan bisa diselesaikan tanpa terlalu mengganggu APBN. Dari sini PT DI bisa berkembang ke pasar komersial.
“Peru sudah memesan lima N219,” ujar Gita. “Satu perusahaan carter di Indonesia sendiri sudah order tiga buah,” tambahnya.
Gita juga mengincar pasar penerbangan perintis yang sangat besar di dalam negeri. Apalagi ada ketentuan: penerbangan perintis harus menggunakan pesawat bermesin ganda. “N219 sangat cocok. Bukan seperti selama ini, penerbangan perintis pakai pesawat bermesin tunggal,” katanya.
“Dari mana asal-usul bagian belakang nama Gita Amperiawan? Mana ada nama belakang orang Sunda Amperiawan?”
“Itu, kata bapak saya, karena saya lahir di tahun 1966, di saat istilah Ampera sangat populer,” kata Gita.
Waktu itu pelajar-mahasiswa memang berdemo hampir tiap hari meneriakkan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera): Tritura. Tiga tuntutan rakyat saat itu: bubarkan PKI, turunkan harga-harga, bubarkan kabinet. Itu 60 tahun lalu.
Rupanya ulang tahun ke 50 hari ini, bagi PTDI, bisa berarti ”Life begins at 50”. Dan bagi Gita sendiri, ”Life begins at 60”.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 25 Agustus 2026: Networking Rebahan
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
NETWORKING TERBAIK TERJADI SAAT TIDAK ADA ACARA.. Ada satu kalimat pak Dahlan yang menurut saya paling menarik: “Waktu kosong lebih penting dari waktu ada acara.” Ini bukan sekadar cerita gathering. Ini teori networking yang sederhana, tetapi dalam. Acara yang terlalu padat sering justru membatasi pertemuan. Orang datang, duduk, mendengar, lalu pulang. Selesai. Waktu kosong berbeda. Orang mulai bergerak. Ngobrol dengan yang belum dikenal. Bertukar pengalaman. Bertukar nomor telepon. Kadang bertukar peluang bisnis. Di situlah “rebahan” ternyata tidak selalu berarti malas. Yang penting bukan posisi badan, tetapi posisi pikiran. Bisa saja duduk santai di bawah rumah Manado, tetapi otaknya sedang membangun jaringan. Menariknya, meja dari kayu randu menjadi tempatnya. Randu yang dianggap tidak bernilai justru menjadi meja bermuktamar. Seperti networking: yang kelihatan sederhana kadang justru menghasilkan sesuatu yang bernilai. Mungkin inilah pelajaran terbesar Gathering Perusuh. Jangan terlalu banyak acara. Sisakan ruang untuk manusia bertemu manusia. Sebab bisnis, persahabatan, bahkan ide besar, sering lahir bukan dari podium. Melainkan dari obrolan sambil ngopi.
Gianto Kwee
Klentrheng digoreng tanpa minyak, Enak dan Gurih ! Ada efek samping, setelah makan ada sedikit Pusing (Fly ?)
Achmad Faisol
pak mahfud md sebelum menyetujui permintaan bu mega mengajukan syarat: nanti semua urusan hukum di bawah saya (wapres)… selama ini aparat hukum di bawah presiden, dan ga jalan… bu mega dan pak ganjar ga masalah… sayangnya, kebanyakan masyarakat cenderung ga suka ya ga suka… ooo, ini capresnya petugas partai, ga bisa independen… mending dapat tambang… uenak tenaaan… bansos mana, bansos… sekolah gratis ga penting, yang penting makan…
Jhel_ng
Abah DI termasuk tipe orang yang kadang kalau menyampaikan sesuatu baik tulisan maupun lisan bisa meninggalkan “anchor”. Meskipun setiap pagi baca CHDI, saya sangat jarang menyimak dismorning. Sekali menyimak langsung dapat anchor yang kuat banget, saat Abah DI bercakap dengan kru Disway yang wartawan spesialis Lumpur. Kurang lebih begini, “Karena Anda di situ, Anda bisa jadi ahlinya”. Pun saat tulisan, “Riset tidak cukup mengejar ketertinggalan, riset digunakan untuk melakukan lompatan jauh di depan zamannya”. Saya di posisi itu sekarang.
Fransiska Jappy
Itu ngeles namanya. Mendingan yg diam2 tapi bisa dapat visa, dibelikan tiket pesawat, diantarin ke airport, dan dpt kartu ATM lg… bikin org yg tak bisa ikut jadi ngiri.. hehehe…
istianatul muflihah
istianatul bisnis tripp bisa terwujud gara gara komunitas perusuh. tidak ada biaya pendaftaran karena peserta yang ikut by invitation. pertama ke PT Ananda Lestari Indonesia. Kantornya ngga jauh dari Terminal Gayatri. Karyawan kantor nya ngga sampai 5 orang. Sangat efisien. Saya lihat di ruang tamu kantornya, ada tulisan CHDI yang di figura. saat itu saya ajak teman dari Malang dan Blitar. Satu, baru resign dari analis oli trafo di Surabaya. Sekarang usaha jualan telur omega dan suvenir nikahan. yang kedua ke CV Inagro Jinawi. Ke sana bareng teman yang oleh ayahnya selalu ditanya, kapan resign dan buka usaha? seperti kata Pak Zuhri. Biar ketularan virus usaha. Semoga nular (ilmunya) beneran.
Gianto Kwee
Kapuk Randu, Ada perkebunan di Tulung Agung Selatan, dengan Truck Tua, Chevrolet Gurkha 1942, Chevolet Load Master 1948 dan 1954, Setiap tahun panen, kami membawa nya ke Ngunut-Tulung Agung untuk di Proses ! Saat itu tahun 1971, Jadi “Kernet” Truck sampai bisa jadi Sopir dan 1974 ke Jakarta, Sebuah kenangan Indah,
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@mbak Istiana.. ANALISA SAYA, TENTANG PENGGEMAR DISWAY: TERBANYAK GENERASI APA? Mbak Istiana. Saya coba ikut menebak. Ini bukan hasil survei. Apalagi sensus. Hanya pengamatan dari beberapa kali gathering dan kolom komentar CHDI. Dugaan saya, pembaca Disway paling banyak 1) Pertama: Baby Boomer dan Gen X. 2) Lalu Millennials. Gen Z tampaknya masih minoritas. Bahkan ketika ada yang mengaku Gen Z, langsung terasa seperti menemukan spesies langka. “Wow akhirnyaaaa ada Gen Z juga.” Mengapa Boomer dan Gen X dominan? Mereka mengalami masa ketika membaca berita berarti membaca koran. Bukan sekadar menggulir layar. Mereka juga terbiasa mengikuti tulisan panjang. 1) Ada konteks. 2) Ada cerita. 3) Ada argumentasi. Disway punya DNA seperti itu. 1) Berita diberi bumbu pengalaman. 2) Ekonomi dicampur humor. 3) Teknologi diselipi kenangan. Pembaca tidak cuma diberi what, tetapi juga why dan so what. Millennial masih cukup kuat. Mereka tumbuh di masa transisi. Koran masih ada. Internet mulai datang. Jadi mereka cukup luwes berpindah dari kertas ke layar. Gen Z? Mungkin bukan tidak suka Disway. Bisa jadi belum “ketemu pintunya”. Kesimpulan sementara saya: 1) Disway bukan media tua. 2) Pembacanya saja yang punya umur panjang.
Burhanuddin Abd. Hamid
Teringat waktu kecil di kampung, orang tua buat kasur dan bantal dari kapok, bahkan ada yang pesan keluarga yang tinggal di kota, katanya kasur kapok lebih enak ditiduri dibandingkan spring bed, sisa buat lebih tebal, pengalaman yang kurang bagus juga sama seperti yang dialami bos DI, saat musim penghujan, di kamar kos kosan, kasurnya banyak kutunya, pake minyak tanah tidak mempan, akhirnya aku buang kasur itu, hehe
Mbah Mars
Bintangnya bintang Muktamar Perusuh tetap Cak Mul. Fotonya mejeng 2 hari di CHDI. Saya kaget. Bayangan saya Cak Mul itu ganteng, tapi ya paling pol seperti Ariel Peterpan. Ternyata malah lebih dari itu. Setelah lihat fotonya kok sekelas Bret Pitt.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Tivibox.. POHON RANDU DAN KABEL TELEPON PERUMTEL.. Sebagai mantan karyawan Perumtel yang mulai bekerja sejak tahun 1974, dan sampai saat ini masih ada di TELKOMGroup, saya jadi ikut tersenyum membaca cerita Pak Tivibox. Memang benar. Dulu jaringan telepon banyak menggunakan kabel udara. Tetapi untuk tiangnya, Perumtel punya standar. Ada tiang besi. Kemudian berkembang tiang beton. Jadi pohon randu bukan tiang resmi Perumtel. Namun di lapangan ceritanya bisa berbeda. Pohon besar di pinggir jalan kadang menjadi tempat kabel “nebeng”. Dicantolkan. Diikat. Atau sekadar menjadi penyangga sementara. Maklum, teknologi masa itu belum mengenal kabel fiber optik yang sekarang bisa membuat pohon sekalipun ikut masuk jaringan. Soal pohon randu kemudian diganti akasia, alasannya juga masuk akal. Kapuk yang beterbangan memang bisa mengganggu jalan dan lingkungan. Saya sendiri belum menemukan foto arsip Perumtel yang benar-benar menunjukkan kabel telepon dicantolkan pada pohon randu. Kalau Pak Tivibox punya fotonya, itu bukan sekadar foto nostalgia. Saya udah cari sampai ke arsip Tropenmuseum, belum menemukan. Itu artefak sejarah telekomunikasi Indonesia.
Achmad Faisol
networking kalau ditulis angka menjadi 267 (re-la-si)…
Juve Zhang
Demo dari masyarakat Pati ke gedung DPR Jakarta yg membuat saya kagum mereka membekali diri dengan beras dan mie instan….sangat berkesan membaca logistik yang mereka siapkan bukan Roti bermerk atau makanan lainnya …tapi cukup beras dan mie instan…. luar biasa manakala yg mereka tuntut ke DPR adalah tuntutan sangat bagus bagi masa depan Bangsa Indonesia….mereka berkelas sangat berkelas ….bukan tuntutan ecek ecek seperti minta BBM turun atau gaji UMR tetapi tuntutan berkelas bagi kemajuan bangsa Indonesia….jelas masyarakat Pati ini pelopor yg hebat hebat ….gak menyangka dari desa terpencil justru muncul nya tuntutan masyarakat berkelas Nasional…
Liáng – βιολί ζήτα
iseng-iseng saja. Seringkali terjadi, suatu perusahaan media online, di dalam 10 tahun pertama mengalami perkembangan yang memuaskan, namun selanjutnya mengalami stagnasi dan kemudian kecenderungannya mengalami penurunan….. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi ?? Hasil study mengenai pembaca media online (termasuk portal berita online) di seluruh dunia menunjukkan, bahwa pembaca dengan usia antara 25-34 tahun sangat mendominasi….. Itu berarti….. seberapa pesat perkembangan suatu media online (ujung-ujungnya tentu akan nampak dari asset dan profit dari perusahaan media online tersebut) berbanding lurus dengan seberapa ketertarikan pembaca pada rentang usia 25-34 tahun tersebut. Bagaimana dengan disway.id dengan berbagai platformnya ?? Tentu saja, kembali ke policy perusahaan yang menaungi disway.id seberapa mampu merangkul pembaca pada rentang usia 25-34 tersebut – yang jelas-jelas berperan sangat signifikan membesarkan perusahaan media online di seluruh dunia…..
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Hasyim.. BERBICARA DAN MENDENGARKAN.. Tugas host adalah meminta narasumber berbicara. Bukan merebut panggung dari narasumber. Host yang baik justru sering terlihat “diam”. Padahal diamnya bekerja. Ia mendengar. Ia menangkap kata kunci. Ia membaca bahasa tubuh. Lalu menyodorkan pertanyaan berikutnya. Jadi, ukuran host bukan berapa banyak ia bicara. Tetapi seberapa banyak ia mampu membuat narasumber berbicara. Dalam konteks Dismorning, saya kira ada fenomena yang menarik. Abah memang punya modal besar sebagai pendongeng. Pengalaman hidupnya panjang. Ceritanya berlapis. Dari bisnis, politik, teknologi, sampai pengalaman kecil yang tiba-tiba menjadi pelajaran besar. Maka ketika Abah menjadi narasumber, host tidak perlu ikut menjadi “Abah kedua”. Cukup menjadi pemantik. Sedikit pertanyaan. Lalu biarkan mesin cerita menyala. Di sinilah Mbak Sasa mungkin justru menemukan kekuatannya. Diam bukan berarti pasif. Mendengarkan bukan berarti kalah. Bahkan dalam komunikasi, orang yang paling banyak bicara belum tentu paling banyak memberi informasi. Dan Abah? Barangkali memang tidak membutuhkan mikrofon untuk mendongeng. Mikrofonlah yang membutuhkan Abah.. Perusuh tinggal menyediakan telinga. Cerita biasanya mengalir sendiri.
Sugi
Iya baru sadar Bah kalo kutu busuk mulai menghilang dari jagad kasur nusantara. Antara sedih dan senang. Sekarang sudah jarang bantal-guling yang isinya dari kapuk randu. Kebanyakan sekarang dari bahan sintesis buatan pabrik, yang penting empuk, tidak peduli hangat saat dingin, dingin saat panas. Harga yang tradisional juga jauh lebih mahal. Perawatannya juga susah. Mudah berdebu dan lembab juga kadang2. Mungkin maksudnya biar orang gak lama2 rebahan Bah, selain karena pohon randu juga sudah langka. Bangun tidur biar langsung produktif lagi. Tidur secukupnya saja, tidak perlu lama2.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
-Sulit Kalahkan Gibran- Saya pribadi nggak suka Gibran jadi wapres. Tapi saya sadar Gibran itu anaknya Jokowi yang pasti semua langkah politiknya ngikut apa kata Jokowi. Nggak mungkin dia diam saja saat jadi Wapres. Dia akan buktikan suaranya tetap dibutuhkan oleh Prabowo di tahun 2029 dan dia akan memilih untuk nggak melawan Prabowo. Tetap menjadi wapres Prabowo justru akan membuat elektabilitas Gibran di 2034 akan makin kuat. KECUALI ada calon lain yang lebih cerdas dari Jokowi dalam meningkatkan elektabilitas, maka Gibran di tahun 2034 akan sulit dikalahkan. Jokowi itu “modal” jadi wali kota saja bisa langsung melejit jadi capres dan menang, apalagi sekarang “memoles” anaknya yang sudah jadi wapres. Sulit mencegah Gibran jadi presiden. Sedangkan lawan-lawannya juga nggak mau bersatu. Alih-alih bersatu, pendukung PDIP dan pendukung Anies lebih suka mengadu domba Prabowo-Jokowi. Jika PDIP dan Anies tak mau bersatu, akan terlalu sulit melawan Jokowi yang bersatu sama Gerindra dan didukung Golkar. Jokowi dan Anies itu figur yang nggak perlu partai. Namanya bisa dijual ke mana saja. Gibran dan Kaesang masih jauh kemampuannya dibanding Jokowi. Makanya Gibran dan Kaesang itu tak lebih dari boneka bagi Jokowi. PSI masuk Senayan itu hanya bonus aja bagi Jokowi. Nggak masuk lagi di tahun 2029 pun tak masalah. Selama Gerindra dan Golkar tetap dukung Gibran (sang boneka Jokowi), Jokowi akan tetap bisa berkiprah terus dalam perpolitikan Indonesia. Bukan jadi warga biasa Solo.
Edi Susanto
Guyon Hollywood Waktu saya usul aplikasi Disway, semua orang tertawa. Bahkan Abah anggap itu hanya Guyon Hollywood belaka. Padahal Disway itu kan hanya nama. Lalu isinya? Itu yang perlu kita pikirkan bersama. Sejauh ini, jika kita bicara Disway Aplikasi. Yang terlintas di kepala hanyalah sekumpulan artikel berita, agar lebih mudah diterima pembaca. Paling nambah dikit saja, agar perusuh bisa menunjukkan rasa. Dengan emoticon atau sticker beraneka warna. Padahal Disway bisa dibuat jauh lebih sempurna, untuk pelbagai kebutuhan yang bermanfaat bagi sesama. Tinggal bagaimana kita menyusunnya, menuju target diujung sana. Misal target tersebut adalah aplikasi komunitas, ya siapkan bbrp fasilitas. Ada DiswayMail: namaku@disway.id. lalu berkembang jadi semacam G**gle service. Ada Disway Drive, Disway Meet, Disway Calendar, dll. Itu kl arah targetmya Community. Lain halnya jika targetnya jadi database kependudukan, Disway bisa mulai membangun aplikasi profile perorangan. Seperti Fesbuk? Bukan. Satu misal, keanggotaan Disway harus melalui tahap verifikasi lengkap secara total. Lantas di kemudian hari, bila member Disway butuh pergi ke dokter gigi, cukup tunjukkan profile di Disway.id. Disana ada catatan kesehatan giginya, lengkap semenjak masa Balita sampai tua. Tidak perlu membawa berkas kemana-mana. -lanjut sesi 2-
Udin Salemo
kerbau mati dipatok ular berbisa/ kerbau kepunyaan abang Taher/ banyak perusuh bukan orang biasa/ pengusaha sukses tak perlu pamer/ banyak rumah rusak dilanda air bah/ penduduknya bercucuran air mata/ tak ada mantan menteri seperti Abah/ mau berbagi dengan rakyat jelata/ #pantun_orang sukses
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Hasyim.. EVALUASI SAYA ATAS KOMENTAR PAK HASYIM.. Analisis Bapak menarik. Tetapi saya melihat ada satu persoalan metodologis. Kita perlu membedakan antara: 1) fakta, 2) asumsi, dan 3) proyeksi politik. Faktanya, Gibran adalah Wakil Presiden. Jokowi adalah ayahnya. Gerindra dan Golkar merupakan kekuatan politik besar. Itu bisa diverifikasi. Tetapi kalimat bahwa Gibran “pasti mengikuti apa kata Jokowi”, atau bahwa ia akan menjadi presiden pada 2034, masih masuk wilayah hipotesis. Politik tidak bekerja seperti persamaan matematika. Variabelnya terlalu banyak. Elektabilitas juga bukan warisan keluarga. Ia harus diproduksi ulang. Kinerja pemerintahan, persepsi publik, koalisi, kondisi ekonomi, dan munculnya figur alternatif akan sangat menentukan. Saya justru melihat faktor paling penting adalah performance. Jika Gibran berhasil membangun rekam jejak sendiri sebagai wapres, ketergantungannya pada Jokowi bisa berkurang. Sebaliknya, jika dianggap hanya perpanjangan tangan Jokowi, justru bisa menjadi beban. Begitu pula dengan PDIP, Anies, Gerindra, Golkar, PSI, dan KDM. Konstelasi 2029 masih terlalu dinamis untuk dipatok dari sekarang. Jadi saya setuju pada satu hal: Gibran punya modal politik besar. Tetapi modal bukan kemenangan. Ia harus terus menghasilkan “return”.




















