INDOPOSCO.ID – Di tengah kebiasaan komunikasi pemerintah yang kerap dipenuhi istilah birokrasi, gaya penyampaian Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya justru mendapat perhatian dari pengamat politik Hendri Satrio.
Pria yang akrab disapa Hensa itu menilai, cara Teddy menjelaskan penanganan dan distribusi bantuan pemerintah memiliki satu kekuatan Utama, yakni informasinya konkret. Jumlah pesawat, lokasi distribusi, hingga jenis dan volume logistik disampaikan secara terbuka kepada publik.
“Yang saya lihat, Teddy menyampaikannya cukup sederhana. Tidak banyak jargon, datanya jelas, barang yang dikirim kelihatan, dan tujuannya juga disebut. Model komunikasi seperti ini sebenarnya memang yang dibutuhkan publik,” kata Hensa melalui gawai, Senin (24/8/2026).
Menurut Hensa, pola komunikasi semacam itu seharusnya bukan sesuatu yang dianggap istimewa. Justru, kemampuan pemerintah menjelaskan pekerjaannya secara sederhana dan terukur merupakan standar yang semestinya sudah melekat.
“Jadi jangan juga kemudian dianggap ini sesuatu yang sangat istimewa. Standar komunikasi pemerintah memang seharusnya seperti itu. Mungkin masalahnya, kita sudah terlalu lama menganggap sesuatu yang normal sebagai sebuah prestasi,” ungkapnya.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu melihat gaya komunikasi Teddy menunjukkan bahwa pemerintah tidak selalu harus menggunakan bahasa birokratis untuk menjelaskan pekerjaannya.
Publik, kata dia, membutuhkan informasi yang mudah dipahami, apa yang dikerjakan, sumber daya yang digunakan, ke mana bantuan dikirim, serta hasil apa yang hendak dicapai.
“Publik itu sebenarnya tidak meminta penjelasan yang terlalu rumit. Kalau ada enam pesawat, ya sebut enam pesawat. Kalau ada puluhan ton logistik, sebut jumlahnya dan mau dibawa ke mana. Dengan begitu masyarakat bisa ikut melihat dan menilai kerja pemerintah,” jelas Hensa.
Karena itu, ia menilai cara Teddy berkomunikasi dapat menjadi contoh penyampaian informasi pemerintahan yang lebih langsung. Namun, Hensa mengingatkan agar publik tidak berhenti pada cara pemerintah berbicara. Sebab, komunikasi yang jelas tetap harus dibuktikan melalui pekerjaan nyata di lapangan.
“Komunikasi yang bagus tentu positif, tetapi ujungnya tetap harus dilihat apakah barangnya sampai, apakah bantuannya tepat sasaran, apakah langkahnya cukup strategis, dan apakah persoalan di lapangan benar-benar tertangani. Jadi komunikasinya kita apresiasi, kerjanya tetap kita awasi,” tambahnya.(her)























