INDOPOSCO.ID – PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp58 miliar hingga kuartal II 2026. Meski turun 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat penurunan pendapatan usaha, perseroan berhasil menunjukkan perbaikan kinerja operasional pada kuartal kedua sekaligus memperkuat kondisi keuangannya.
Sepanjang periode tersebut, SUNI membukukan pendapatan usaha sebesar Rp324 miliar, turun 26 persen dibandingkan Rp438 miliar pada kuartal II 2025. Penurunan terutama dipengaruhi berkurangnya penjualan produk Oil Country Tubular Goods (OCTG) casing, sementara penjualan OCTG tubing sebagai produk utama perusahaan tetap stabil sehingga mampu menopang profitabilitas.
Di sisi neraca, SUNI tetap mencatatkan peningkatan ekuitas sebesar 4 persen menjadi Rp896 miliar. Kenaikan tersebut tetap tercapai meskipun perseroan telah membagikan dividen sebesar Rp25 miliar kepada pemegang saham sesuai keputusan RUPS pada 22 Juni 2026 yang direalisasikan pada 24 Juli 2026.
Perseroan juga berhasil menjaga struktur permodalan yang sehat dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0,33 kali, jauh di bawah batas maksimal perjanjian kredit sebesar 2,5 kali. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan pemberian nilai tambah kepada para pemegang saham.
Dari sisi arus kas, SUNI membukukan arus kas positif dari aktivitas operasional sebesar Rp122 miliar, meningkat 16 persen dibandingkan Rp105 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, investasi untuk penyelesaian pembangunan pabrik kedua RTM mencapai Rp66 miliar, turun 37 persen seiring berkurangnya intensitas pembangunan. Aktivitas pendanaan juga menurun 64 persen menjadi Rp17 miliar karena tidak terdapat tambahan pinjaman bank selama semester pertama tahun ini.
Direktur Utama PT Sunindo Pratama Tbk, Willy Johan Chandra, mengatakan penurunan pendapatan terutama dipengaruhi perubahan dinamika pasar OCTG casing. Saat ini telah muncul produsen lokal yang memasok kebutuhan produk tersebut sehingga sesuai ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), peserta tender diwajibkan menggunakan produk dari produsen lokal.
“Saat ini SUNI masih melakukan evaluasi terhadap produsen lokal tersebut sehingga belum dapat mengikuti tender-tender yang diselenggarakan oleh perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Namun penjualan OCTG tubing sebagai core product SUNI tetap stabil karena kami merupakan pionir produsen OCTG tubing di Indonesia. Hal ini memungkinkan kami tetap menjaga profitabilitas, melanjutkan pembangunan pabrik kedua RTM, sekaligus membagikan dividen kepada pemegang saham,” ujar Willy, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Ia menambahkan, pembangunan pabrik kedua RTM pada dasarnya telah selesai dan kini memasuki tahap audit oleh American Petroleum Institute (API) sebagai persyaratan memperoleh sertifikasi API sebelum dapat beroperasi secara komersial pada semester II 2026.
“Dengan bertambahnya kapasitas produksi tersebut, kami optimistis kinerja operasional dan keuangan SUNI akan semakin optimal sekaligus memperkuat ketersediaan OCTG tubing di tingkat nasional,” kata Willy.
Direktur Operasional SUNI, Bambang Prihandono, menyatakan proses uji coba produksi di fasilitas baru telah berhasil dilakukan. Saat ini perusahaan memfokuskan seluruh sumber daya untuk menyelesaikan audit API agar sertifikat dapat diperoleh secepatnya.
Selain itu, Bambang menyebut anak usaha SUNI, PT Petro Synergy Manufacturing (PSM), berpotensi meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan perseroan setelah berhasil memenangkan sejumlah tender bernilai signifikan tahun ini untuk produk wellhead dan christmas tree.
“Proses audit API di RTM berjalan cukup lancar karena seluruh tim produksi di Batam telah memberikan upaya terbaik. Kami berharap sertifikat API dapat diperoleh pada kuartal IV tahun ini sehingga fasilitas baru dapat segera beroperasi penuh,” jelas Bambang.
Sementara itu, Direktur Keuangan SUNI, Freddy Soejandy, menegaskan kondisi keuangan perseroan semakin solid meskipun menghadapi tantangan pasar.
“Perolehan laba yang konsisten membuat kemampuan keuangan SUNI makin kuat. Kami optimistis dapat menyelesaikan sisa investasi pembangunan pabrik kedua RTM sekaligus tetap memberikan imbal hasil kepada pemegang saham melalui pembagian dividen,” ucapnya. (rmn)


















