INDOPOSCO.ID – Di balik kiprahnya sebagai satu-satunya wakil Indonesia pada FIDE World Cadets Cup 2026 di Batumi, Georgia, tersimpan kisah unik Nadiv Asadel. Bocah 12 tahun asal Citra Raya, Kabupaten Tangerang, itu ternyata pernah dikenal sebagai anak yang hampir tak pernah betah berada di dalam kelas.
Ayahnya, Hendriyanto, mengenang masa kecil Asadel yang sangat aktif. Saat pertama kali masuk taman kanak-kanak, Asadel lebih memilih bermain di luar ketimbang mengikuti pelajaran bersama teman-temannya.
“Dia lebih senang bermain di luar, berlarian dan main perosotan. Masuk kelas hampir tidak pernah,” kenang Hendriyanto melalui gawai, Minggu (28/6/2026).
Situasi itu membuat orang tuanya memindahkan Asadel ke Sekolah Alam Tangerang Mekar Bakti. Namun, karakter aktifnya tetap menjadi tantangan. Bahkan pihak sekolah menyarankan agar Asadel didampingi guru khusus selama proses belajar.
“Setiap pagi, guru pendamping harus mengejar Asadel yang lebih dulu berlari mengelilingi lapangan sebelum akhirnya bersedia mengikuti pelajaran. Energi besarnya kala itu belum menemukan tempat yang tepat,” jelas Hendri.
Perubahan besar datang saat Asadel duduk di kelas 4 SD. Ia dipercaya mengikuti pertandingan catur pada kegiatan class meeting. Meski hanya memahami langkah dasar, kekalahan yang dialaminya justru memunculkan tekad baru.
Sepulang sekolah, Asadel terus meminta kepada orang tuanya agar didaftarkan ke tempat latihan catur. Setelah dua pekan melihat kesungguhannya, Hendriyanto akhirnya mengabulkan keinginan tersebut dengan memasukkan putranya ke Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) di Gading Serpong pada 2024.
Di sanalah bakat Asadel mulai terlihat. Grandmaster Sean Winshand yang menangani pembinaan langsung menilai bocah tersebut memiliki potensi besar sehingga mendapat program latihan secara privat.
“Perkembangannya berlangsung sangat cepat. Hanya beberapa bulan berlatih, Asadel sudah tampil di Kejuaraan Nasional Catur 2024. Setahun kemudian, ia finis di peringkat keenam Kejurnas Catur 2025 di Mamuju, hasil yang mengantarkannya menjadi wakil Indonesia pada FIDE World Cadets Cup 2026,” ungkapnya.
Menariknya, sifat hiperaktif yang dulu sering membuatnya sulit mengikuti pelajaran kini berubah menjadi kemampuan berkonsentrasi luar biasa.
“Dalam pertandingan, Asadel mampu duduk fokus hingga empat jam di depan papan catur untuk menyusun strategi menghadapi lawan-lawan tangguh dari Belarusia, Korea Selatan, Taiwan, hingga Jerman,” tutur Hendri.
Persiapan menuju kejuaraan dunia pun dilakukan tanpa mengenal hari libur selama setahun penuh. Asadel ditempa oleh tiga pelatih, yakni GM Sean Winshand, IM Muhammad Ervan, dan IM Farid Firmansyah. Menurut sang ayah, putranya justru selalu antusias setiap kali jadwal latihan tiba.
“Selama bertanding di Georgia, Asadel tetap mendapat pendampingan teknis dan psikologis secara daring dari tim pelatih di Indonesia sebelum memasuki arena pertandingan,” kata Hendri.
Keberangkatan Asadel mendapat rekomendasi resmi dari PB Percasi, sementara dukungan perjalanan diberikan oleh PT Jamkrindo. Sekolahnya pun ikut memberikan semangat dan dukungan penuh.
Meski tampil di panggung dunia, keluarga tidak membebani Asadel dengan target medali.
“Bisa bermain di kejuaraan dunia saja kami sudah sangat bangga. Yang penting dia menikmati prosesnya dan terus berkembang,” tutupnya.
Baginya, perjalanan ini bukan sekadar mengejar prestasi, melainkan langkah awal mewujudkan impian sang putra menjadi grandmaster Indonesia di masa depan. (her)
















