INDOPOSCO.ID – Tidak semua pelatih datang lalu meninggalkan jejak sejarah. Namun, Bojan Hodak berhasil melakukannya bersama Persib Bandung.
Saat sorak kemenangan masih menggema dan euforia tiga gelar beruntun belum benar-benar reda, pelatih asal Kroasia itu justru memilih melangkah ke sisi lain perjalanan. Musim depan, kursi pelatih kepala Persib akan ditempati Igor Tolic, sosok yang selama ini menjadi tangan kanan Hodak.
Kepergian Hodak dari pinggir lapangan datang di momen paling tinggi dalam sejarah modern Persib. Ia bukan sekadar pelatih yang memberi trofi, tetapi sosok yang membawa Maung Bandung menjadi klub pertama yang mampu meraih tiga gelar juara beruntun di era Liga Indonesia.
Dalam testimoninya, Hodak tak berbicara soal dirinya sebagai tokoh utama. Ia justru menempatkan seluruh elemen klub sebagai fondasi keberhasilan.
“Saya beruntung saat pertama kali tiba di sini, saya menemukan sekelompok orang yang sangat baik di dalam klub. Tiba-tiba semua orang mulai bekerja sama dan begitulah cara kami memenangkan trofi pertama dan kedua,” kata Hodak dalam keterangan resmi klub, Kamis (28/5/2026).
Namun perjalanan menuju mahkota ketiga ternyata bukan kisah yang mudah. Musim terakhir menjadi ujian paling berat bagi Hodak. Persib melakukan perubahan besar dalam skuadnya dengan mengganti 23 pemain dari total 31 pemain yang ada.
Di tengah agresivitas klub-klub pesaing seperti Borneo FC dan Persija Jakarta yang terus memperkuat tim, Persib justru mampu tetap berdiri paling depan.
“Tahun terakhir ini benar-benar sulit bagi kami. Menghasilkan pencapaian seperti ini lagi di tengah ketatnya investasi besar dari kompetitor seperti Borneo FC dan Persija Jakarta adalah sesuatu yang fantastis. Saya sangat senang kami bisa mengumpulkan poin terbanyak dalam tiga tahun ini,” jelas Hodak.
Bagi Hodak, kekuatan terbesar Persib tidak hanya ada di ruang ganti atau lapangan latihan. Ada energi besar yang terus menghidupkan klub: bobotoh.
Ia menyebut loyalitas suporter sebagai alasan mengapa Persib selalu memiliki identitas besar di Asia Tenggara. Bahkan, dalam laga terakhir musim ini, Hodak secara khusus memuji kedewasaan suporter yang mampu menjaga atmosfer stadion tetap kondusif tanpa petasan maupun pitch invasion.
“Klub ini lebih besar daripada pelatih manapun atau pemain manapun. Akan selalu ada pemain dan pelatih baru, namun klub akan tetap terus berjalan dengan baik,” tegasnya.
Menurut Hodak, atmosfer positif seperti itu adalah wajah sepak bola Indonesia yang seharusnya terus dijaga, stadion yang nyaman, aman, dan ramah untuk keluarga.
Meski berhasil menciptakan dominasi baru, Hodak sadar status juara bertahan tiga musim beruntun justru akan menghadirkan tantangan yang lebih besar untuk Persib ke depan.
“Tekanannya akan lebih besar. Ketika Anda menang tiga kali, semua orang pasti punya motivasi ekstra untuk mengalahkan Anda. Itu normal, tapi saya yakin klub ini mampu mengatasinya,” ucapnya.
Kini, Hodak memang tak lagi berdiri sebagai komando utama di bench Persib. Ia memilih mengambil jeda dari hiruk-pikuk sepak bola karena alasan pribadi. Meski begitu, ia memastikan tidak benar-benar pergi dari klub yang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya selama tiga musim terakhir.
Sebagai Penasihat Teknik, Hodak tetap akan berada di sekitar Persib dan siap membantu kapan pun dibutuhkan.
“Saya masih butuh sedikit istirahat karena alasan pribadi. Tapi, saya akan tetap berada di sekitar sini (Persib) dan siap membantu memberikan saran atau masukan kapan pun manajemen membutuhkan sesuatu, terutama pada aspek-aspek yang masih bisa ditingkatkan,” tambahnya.
Era baru segera dimulai bersama Igor Tolic. Namun bagi Bobotoh, nama Bojan Hodak tampaknya akan tetap tinggal sebagai salah satu arsitek terbesar dalam perjalanan panjang Persib Bandung. (her)









