INDOPOSCO.ID – Di tengah padatnya permukiman pesisir Pluit, Jakarta Utara, sebuah gerakan sunyi namun berdampak besar tengah berlangsung. Bukan oleh institusi besar semata, melainkan oleh langkah-langkah kecil para ibu yang kini berdiri di garis depan melawan tuberkulosis (TB).
Mereka adalah bagian dari Srikandi Nusantara, komunitas kader perempuan yang menghidupkan Program Punggawa Nusantara, sebuah inisiatif sosial dari PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (PLN NP UP) Muara Karang.
Di Muara Angke, kawasan yang dulu identik dengan keterbatasan sanitasi dan kuatnya stigma terhadap TB, perubahan mulai terasa. Lingkungan yang sebelumnya terpinggirkan kini perlahan bertransformasi menjadi Kampung Siaga TB, ruang hidup yang dibangun atas kesadaran kolektif dan semangat gotong royong.
Pendekatan yang diusung tidak setengah-setengah. Program ini menyentuh berbagai sisi kehidupan warga, mulai dari penyediaan sanitasi komunal, skrining kesehatan secara massal, hingga pendampingan pasien berbasis teknologi melalui aplikasi BEBAS TB. Bahkan, aspek ekonomi pun ikut diperkuat lewat pengembangan produk berbasis ekonomi sirkular.
Direktur Utama PLN NP, Ruly Firmansyah, mengatakan hal ini sejalan dengan visi perusahaan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat sebagai kunci perubahan.
“Kami percaya energi terbaik yang dihadirkan perusahaan bukan hanya listrik, tetapi energi perubahan bagi masyarakat. Punggawa Nusantara menunjukkan bahwa keberlanjutan lahir saat masyarakat diberdayakan menjadi penggerak utama solusi,” kata Ruly dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).
Namun, kekuatan utama program ini justru lahir dari interaksi sederhana: ketukan pintu ke pintu. Para kader perempuan tak hanya membawa informasi, tetapi juga empati—menghapus ketakutan, membuka ruang dialog, dan memulihkan kepercayaan warga terhadap pengobatan.
Ketua Komunitas Srikandi Nusantara, Sri Wahyuningsih, menuturkan transformasi sosial yang terjadi di lingkungan warga dirasakan langsung oleh para kader yang terlibat aktif setiap hari.
“Dulu banyak warga takut memeriksakan diri karena TB dianggap aib. Sekarang masyarakat justru saling mendukung. Kami bangga bisa ikut menjadi bagian perubahan ini, membantu pasien sembuh, menjaga lingkungan lebih sehat, dan membuktikan bahwa warga kampung pun bisa menjadi pelopor eliminasi TB,” jelas Sri.
Dampaknya bukan sekadar cerita. Data menunjukkan lonjakan kesadaran masyarakat terhadap skrining TB hingga 83,4 persen sepanjang 2025 dibanding tahun sebelumnya. Lebih dari itu, tingkat kesembuhan di wilayah program mencapai angka sempurna, 100 persen.
Di sisi lain, program ini juga membuka peluang ekonomi baru. Berbagai produk komunitas mulai dari KIT Peduli TB, masker kain pakai ulang, hingga layanan kesehatan berbasis masyarakat menjadi sumber penghasilan tambahan, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan.
Keberhasilan ini turut mengantarkan PLN NP UP Muara Karang meraih PROPER Emas 2025, sebuah pengakuan atas komitmen dalam menjalankan bisnis yang selaras dengan pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Dari sudut kecil di Pluit, cerita besar itu lahir. Bahwa melawan TB bukan hanya tentang obat dan diagnosis, tetapi tentang keberanian mengubah stigma, kekuatan kebersamaan, dan harapan yang terus dijaga oleh mereka yang seringkali tak terlihat, namun dampaknya terasa luas. (her)










