INDOPOSCO.ID – Langkah Indonesia menuju panggung elite ekonomi dunia terus digelorakan. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung menegaskan bahwa cita-cita besar Indonesia pada 2045 bukan sekadar wacana, melainkan target konkret yang harus dikejar dengan strategi matang dan peran aktif generasi muda.
Dalam arahannya kepada siswa SMA Taruna Nusantara di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pada Selasa (14/4/2026), Juda memaparkan ambisi besar tersebut. Indonesia ditargetkan masuk lima besar ekonomi dunia dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai USD9,8 triliun serta pendapatan per kapita di atas USD13 ribu.
Namun, ia mengingatkan bahwa posisi Indonesia saat ini masih berada di jalur menanjak.
“Saat ini, berdasarkan data terbaru, Indonesia masih menempati peringkat ke-16 ekonomi dunia dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar USD1,5 triliun. Pendapatan per kapita berada di angka USD5.030 per tahun, yang masih tergolong negara berpendapatan menengah,” ujar Juda.
Di balik optimisme tersebut, Juda menyoroti tantangan serius yang harus dihadapi, terutama pada kualitas sumber daya manusia. Rata-rata lama sekolah yang masih di kisaran 8,8 tahun menjadi salah satu indikator bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih besar.
Ia menekankan pentingnya penguatan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
“Selain itu, angka partisipasi pendidikan tinggi juga masih perlu ditingkatkan. Pemerintah terus mendorong berbagai program pendidikan, termasuk pembangunan sekolah rakyat dan penguatan sekolah unggulan, guna memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas generasi muda,” terangnya.
Menurutnya, Indonesia saat ini berada pada fase krusial: bonus demografi. Dengan dominasi penduduk usia produktif, peluang untuk melesat secara ekonomi terbuka lebar—namun hanya jika dimanfaatkan dengan tepat.
Tak hanya itu, Juda juga mengurai bagaimana kebijakan fiskal memainkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan. Melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah mengarahkan belanja untuk sektor-sektor yang berdampak langsung pada kemajuan bangsa.
“Bagaimana mengalokasikan belanja-belanja kepada sektor-sektor yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat SDM, memperkuat sains, teknologi, research and development, pendidikan, kesehatan, juga dari sisi infrastruktur, hilirisasi industri, kemudian juga untuk pemerataan. Itulah peran dari fiskal,” tambahnya.
Pesan Juda jelas, yakni masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kesiapan generasi mudanya. Tahun 2045 bukan sekadar angka, melainkan momentum pembuktian apakah Indonesia mampu melompat menjadi kekuatan ekonomi global atau tertinggal di tengah persaingan dunia. (her)








