INDOPOSCO.ID – Ketika impor solar terus membebani neraca energi nasional, kebijakan mandatori biodiesel justru menunjukkan arah sebaliknya. Program pencampuran biodiesel berbasis sawit terbukti menjadi instrumen strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil dari luar negeri, sekaligus memperkuat ketahanan energi domestik.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, menilai mandatori biodiesel memiliki potensi besar sebagai substitusi solar karena ditopang ketersediaan bahan baku sawit yang melimpah dan kesiapan teknologi pengolahan yang relatif matang.
“Program biodiesel efektif menekan impor solar dan memperbaiki neraca perdagangan energi. Penghematan devisa bisa mencapai USD8-10 miliar per tahun,” ujarnya di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Namun, ia mengingatkan pentingnya tata kelola industri sawit yang berkelanjutan mulai dari pencegahan deforestasi, pelestarian lingkungan, penghormatan hak masyarakat adat, hingga mitigasi trade off pangan energi. Peningkatan alokasi CPO untuk energi, kata dia, tidak boleh memicu kelangkaan dan lonjakan harga minyak goreng di pasar domestik.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung. Ia merinci, Indonesia konsisten mengembangkan mandatori biodiesel dari B1 hingga menuju B50 yang ditargetkan berlaku pada Juli 2026.
Menurutnya, implementasi B40 telah menurunkan impor solar dari 8,3 juta kiloliter pada 2024 menjadi 5 juta kiloliter pada 2025 turun 3,3 juta kiloliter. Dari sisi devisa, kebijakan biodiesel 2025 menghemat Rp130,21 triliun, menekan emisi 38,88 juta ton CO₂ ekuivalen, serta meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun.
Kebijakan ini telah ditempuh bertahap sejak 2008, dari B1 dan B2,5, hingga kini menuju B50, dengan dukungan pendanaan sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) melalui skema pungutan ekspor (levy).
“Salah satu keberhasilan kita saat ini adalah substitusi solar impor dengan biodiesel sawit,” jelas Tungkot.
Ia menambahkan, bioenergi sawit berkontribusi pada perbaikan lingkungan karena emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan energi fosil yang secara global menyumbang 70-80 persen emisi penyebab pemanasan global.
Lebih jauh, peningkatan pemanfaatan biodiesel di dalam negeri turut menggerakkan ekonomi sawit dari hulu ke hilir. Permintaan CPO meningkat, harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani lebih terjaga, dan insentif peningkatan produktivitas kebun makin kuat.
Bagi Indonesia, biodiesel bukan sekadar program energi alternatif. Ia telah menjadi strategi nyata menuju kemandirian energi, mengurangi impor BBM, memperbaiki neraca perdagangan, menekan emisi, sekaligus menjaga denyut ekonomi jutaan petani sawit di dalam negeri. (rmn)










