INDOPOSCO.ID – Gelombang laut dan dinamika geopolitik global tak menghentikan langkah distribusi energi nasional. Pekan ini, dua kapal pengangkut LPG milik PT Pertamina (Persero) kembali menegaskan peran strategis jalur maritim dalam menjaga pasokan energi di berbagai wilayah Indonesia.
Kapal MT Gas Attaka sukses bersandar di Jetty Integrated Terminal LPG Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Dengan kapasitas muatan sekitar 1.700 metrik ton LPG, kapal ini menjadi salah satu tulang punggung suplai energi untuk kawasan Sulawesi hingga Kalimantan.
Di sisi lain, kapal Gas Ambalat juga merapat di Kalbut, Situbondo, membawa distribusi LPG untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Jawa Timur dan wilayah sekitarnya.
Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, jalur laut bukan sekadar alternatif—melainkan nadi utama distribusi energi. Hal ini ditegaskan oleh Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron.
“Di tengah geopolitik global, Pertamina terus berkomitmen untuk mengupayakan distribusi energi. Kapal-kapal kami dalam perjalanan untuk mengantar energi ke masyarakat,” kata Baron dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).
Saat ini, Pertamina melalui subholding Downstream mengoperasikan total 345 kapal, terdiri dari ratusan armada pengangkut BBM/BBK, kapal crude, hingga kapal LPG. Armada tersebut menjangkau berbagai wilayah, termasuk 57 daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang tersebar dari Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.
Distribusi ini tidak berjalan sederhana. Para awak kapal bekerja tanpa henti dalam sistem bergiliran 24 jam untuk memastikan pengiriman tetap aman dan tepat waktu, bahkan saat menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan kompleksitas navigasi di wilayah kepulauan.
Tak hanya mengandalkan distribusi, Pertamina juga memperkuat fondasi bisnisnya secara menyeluruh. Produksi hulu migas terus didorong untuk meningkatkan kontribusi energi dalam negeri, sementara sektor pengolahan dioptimalkan agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri.
Sinergi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum juga diperkuat, terutama dalam menjaga distribusi energi agar tetap tepat sasaran. Upaya ini termasuk mendukung penindakan terhadap praktik penimbunan dan penyalahgunaan BBM serta LPG subsidi.
“Masyarakat dapat berperan aktif dengan melaporkan indikasi penyalahgunaan energi melalui aparat penegak hukum maupun Pertamina Contact Center 135. Pertamina juga mengajak masyarakat untuk menjaga energi bersama-sama, dengan bijak menggunakan energi sesuai kebutuhan,” tutup Baron.
Sebagai perusahaan energi yang terus bertransformasi, Pertamina juga menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Komitmen terhadap target Net Zero Emission 2060 serta penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) menjadi fondasi dalam setiap lini operasionalnya.
Di tengah tantangan global yang kian dinamis, satu hal tetap dijaga: energi harus terus mengalir ke seluruh penjuru negeri. (her)








